Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Unek-unek Hanafi


__ADS_3

Hari semakin hari berlalu nana di sibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk. Hingga tidak ada waktu untuk bermain bersama teman-teman. Entah kenapa nana sudah mulai bosan dengan itu semua. Tandanya seseorang itu semakin dewasa.


Hingga teman-temannya mengajaknya malam minggu bersama mau tidak mau nana ikut. Toh, kapan lagi nana berkumpul bersama teman sebelum di ikat oleh tali pernikahan.


"Nana! Hanafi dan revo ngajakin kita jalan-jalan." Ujar Layla menyerahkan chat WA padaku.


Aku yang sedang mengerjakan pekerjaan dari kantor malas bangat melihat ponsel nanti tidak fokus. "Kemana? sama siapa aja?"


"Sama teman-teman di kantor. Ikut ya! Hanya kamu teman dekatku!" Kerjaan masih numpuk aku tidak bisa meninggal kan pekerjaan gitu aja.


"Malas bangat gak mood."


"Mood itu kita bikin sendiri. Seharian berkutat di perusahaan tubuh kita ini butuh piknik."


"Enggak."


"Segitunya kamu." Aku sudah bosan dengan piknik.


"Kamu harus ikut." Layla keras memaksaku ikut, mau tidak mau harus ikut katanya bahaya gadis di kos sendirian. Apalagi di kota besar di Jakarta.


Berangkat melihat konser penyanyi ibu kota, entah di mananya yang bagus sama sekali tidak membuat moodku bagus malah semakin hancur, ingin kabur di sini takut nyasar. Aku sibuk dengan dunia ku sendri. Hanya sebentar konser itu setelah itu penonton pulang.


Pandangan hanafi tidak lepas memandangi ku. Apa hanafi tidak tau sukunya apa? Suku aku apa? Tidak boleh sembarangan memandang lawan jenis. Dari dulu dia selalu memandangi ku. Apa ini namanya cinta terlarang? Dalam agama kami halal saling mencintai tapi dalam adat tidak. Kita harus patuhi adat dan agama begitu juga sebaliknya.


"Na! Kamu mau kemana? Tiba-tiba hanafi mendekati ku.


"Kami mau pulang."


"Cepat bangat? Malam ini malam minggu besok libur. Mending kita jalan dulu."


"Layla! Mending kita tunda aja pulangnya."


"Ya! Sudah. Jangan lama-lama, anak gadis orang ingin pulang."

__ADS_1


"Iya, sudah." Kami berputar di alun-alun kota Jakarta. Aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan kami. Lihat kiri kanan ternyata ada Revo, aulia, Ryan dan tiara. Sejak kapan mereka mengikuti kami? Misterius banget.


Tidak ada yang kami bicarakan tidak seperti mereka berdua. Hingga Layla entah pergi kemana. Kami di tinggal berdua.


"Na! Gimana sama kerjaannya? lancar?"


"Alhamdulillah lancar. kamu, Gimana kuliahnya?"


"Alhamdulillah 22nya lancar. Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu." Kami jalan entah kemana, duduk di sebuah kursi di taman. Mereka semua entah kemana. Ini yang membuat ku malas.


"Na! Santai aja. Layla sedang membeli cemilan untuk kita semua. Gini Na! Dalam adat istiadat kita, kita ini satu suku ibaratnya satu keluarga. Dalam agama kita memang halal saling mencintai dan menikah. Tapi, dalam adat tidak."


Kebanyakan orang patuh pada adat dan agama. Agama juga merestui itu hampir tidak ada pasangan sesuku yang menikah yang hukumnya sama dengan menikahi kaponakan sendiri. Agama pun juga menyuruh umatnya menikah dengan orang yang jauh tidak ada hubungan keluarga agar melahirkan keturunan lebih kuat, keluarga bertambah dan tidak terpecah belah."


Ternyata hanafi sadar juga kupikir tidak sadar baguslah.


kita ini lebih unik sangat unik banyak orang yang tidak mengerti salah kaprah di bilang kita menentang agama karena mereka tidak tau. Hingga merasa benar sendiri. Aku selama ini memang tertarik padamu. Kebanyakan orang kalau tau sukunya apa, kalau sesuku mereka santai aja tidak terbawa perasaan persis sepeti kakak beradik kandung. Tapi, entah kenapa aku beda tidak bisa melupakan mu begitu saja. Bahkan sudah sampai ke jepang dan korea selatan. Bertemu dengan orang yang mirip denganmu. Aku masih tetap memikirkan mu."


Aku tau itu hanafi telah menyukaiku dari dulu sampai sekarang masih belum bisa mengusirku dari pikirannya. Aku akui masyarakat manut dengan adat dan agama. Jarang pula satu suku saling mencintai. Orang luar sumatra barat mencintai dan menikah sama sepupu aja bisa. Kami sama sesuku yang susah mungkin Allah melindungi masyarakat minang dari cinta sesuku. Apa iya? semua bisa di lakukan kalau allah berkehendak. Tapi, kenapa tidak ada yang jodoh? heran aku. Berarti menikah dengan siapa itu pilihan kita.


"Iya, aku sudah lega bangat. Jadi, setelah ini kita tidak melakukan cinta terlarang."


EHEM


"Ngomong apa! hayooo!! Ujar Layla.


"Udah lama ngintipnya?" Ujar Hanafi


"Aku baru datang di bilang ngintip."


"Siapa tau aja." Ujar Nana.


"Aku sih tidak ngintip sumpah aku tidak bohong. Lihat kebelakang!" Nana dan ryan hendak menoleh tapi di tahan oleh Layla. "Ada dua pasang mata yang memperhatikan kalian. Yang satunya di belakang yang satunya jauh di belakang."

__ADS_1


"Siapa mereka?"


"Orang di kantor."


"Hah! benar!" Hanafi Menoleh kebelakang "Ternyata ryan dan tiara yang memperhatikan kami, sejak kapan? Apa mereka dengar obrolan kami?" Batin nana.


"Ngapain mereka ngintip kita? Kalian ada masalah?"


"Enggak ada sama sekali, aku kenal sama dia aja baru itupun tidak dekat." Ujarku.


"Hei! Kalian berdua ngapain ngumpet gabung kesini."


Mereka berdua menuju ke arah kami nampak tiara kurang suka dengan ku. Ya, Allah. Tiara bucin bangat pada ryan. Tapi, kenapa ryan mengintip kami? Apa ryan masih ingat dengan keinginannya padaku dulu?


"Bicara apa aja. Hayoo!" Ujar ryan.


"Kayak lo gak tau masa muda aja."


"Taulah, ryan gitu loh."


"Kalian pacaran ya? Apa baru jadian?" Aku dan hanafi saling pandang lalu tertawa. Apa ryan tidak dengar pembicaraan kami tadi? Apa ryan hanya basa-basi?


"Pacaran? Terserah lo menilai kami mau pacaran kek, suami istri kek. Kalian ngapain? yang satunya di mana yang satunya entah di mana. Apa kalian sedang ada masalah?"


"Tidak kok."


***


Aku dan hanafi sama-sama sudah lega. Hanafi sudah mengutarakan perasaan terlarang nya. Kami tidak akan menikah, Nadia masih ada waktu mendekati hanafi. Kami sedang tertawa gembira yang berdua itu canggung bangat seperti orang baru bertemu.


Mengabadikan momen untuk di kenang di masa tua nanti. Biar anak cucu kita lihat betapa cantik dan gantengnya orangtua mereka di masa muda. Cantik yang masih alami tidak banyak di tutupi make up dan perawatan mahal. Di masa depan mungkin semua wajah orang akan di tutupi make up sebagai kecantikan modern.


Hingga pulang layla tak henti bertanya apa tang kami bicarakan. kenapa Ryan dan tiara mengintip kami. Layla tau aku, ryan dan tiara berteman ya wajar kami satu kampus pernah jalan-jalan bersama pernah pula Layla lihat aku mengunggah foto kami beberapa tahun silam. Layla bilang mereka juga dekat pernah membicarakan aku hanya sebatas teman kampus yang tidak pernah berinteraksi sama sekali. Ryan berbohong bahkan dia pernah mengutarakan ingin menikahi ku.

__ADS_1


Next....


__ADS_2