
Merantau ke kepulauan Riau
#Part 69
Matahari pagi telah memancarkan cahayanya. Manusia di sibukkan dengan aktifitasnya. Menghilangnya Nana menggemparkan ulak karang cerita itu terdengar sampai ke telinga Nadia, Hanafi, dan Layla yang sedang berada di Jakarta.
Bu maryam tidak berani keluar, malu bercampur emosi tidak mau menampakkan muka pada tetangga dan lainnya. Tidak mau menjawab 1000 pertanyaan dari tamu. Bu maryam tidak mencemaskan putrinya yang entah kemana malam tadi, karena dia tau putrinya itu keras dan pemberani.
Angga masih terbuai di alam mimpi, teman-temannya datang memenuhi meja makan. Mereka datang dengan tertawa gembira dan kepo terhadap menghilangnya kakak temannya.
"Mana Angga kak?" Ujar salah satu teman Angga
"Masih tidur."
"Merdeka banget hidup Angga. Jam segini masih tidur."
"Apa sih yang di pikirkan anak muda? Gak ada anak istri yang di hidupkan minta susu dan makan."
"Coba saya udah di guyur air se gayung sama emak."
Hahaha
"Kejam banget emakmu."
"Benar gak sih? Nana kabur?" Mereka mulai kepo sama keluarga ini.
"Menurut cerita iya tidak tau kemana."
Angga bangun rambut masih acak-acakan, tidak mau membuat gebetan ilfil, Angga mandi pagi hingga wangi. Mereka cerita seperti tidak ada beban kehidupan. Belum saatnya menanggung beban.
***
Satu bulan berlalu tidak ada tanda-tanda tercium Nana tinggal di mana. Sudah Faisal sudah di hubungi katanya Nana tidak di sana.
"Nana tidak ada di sini, Bu! Aku sudah cek digitalnya di bandara tidak ada jejaknya dia kemana. Ibu tenang aja, Nana itu anaknya keras. 7 tahun bersama kami sedikit lebih tau karakternya seperti apa." Ujar angga di seberang.
"Nana sepertinya perginya agak jauh dan cukup lama, uang ibu banyak yang hilang. yang yang dia kirim dulu itu yang dia bawa."
__ADS_1
"Biarlah sesuka hatinya, Bu. Ibu jangan dengarin omongan orang, baik paman, tante yuni, tante ria dan siapapun itu. Di amin aja."
****
Di sebuah kota pariwisata terbesar di indonesia, Bali. Ya, Nana sedang berada di bali. Bersama teman-teman lamanya. Menjelajah negri, bermain di pantai dewata dan lainnya. Alamnya sangat bebas menyerupai hidup di negara barat. Seperti apapun pakaian kita tidak ada yang mengusik. Melihat pemandangan ini sudah menjadi makanan sehari-hari.
Bukan Nana namanya kalau tidak bisa menempatkan diri.
Sebulan di Bali Nana ingin pulang tapi bukan ke kampung halaman. Melainkan akan menetap di Kota Jakarta. Layla, sang sahabat yang menolong dirinya nya kabur dulu. Ya, yang menolong dirinya kabur itu Layla. Naik travel tembak dari padang-pekanbaru.
1 minggu di pekanbaru lanjut kota Palembang, 1 minggu di Palembang tak puas. Mereka terbang ke Bali. Nana tidak di ketahui jejaknya karena, tidak ada yang melacaknya lewat mesin digital, abangnya mencarinya sehari setelah kabur dan sebelum terbang ke bali makanya tidak terlacak. Nana dan temanya juga tidak meninggalkan jejak di sosial media. Faisal berhenti mencarinya karena sama-sama percaya bahawa adiknya itu keras dan pemberani pasti berada di tempat yang aman.
"Layla! Apa kamu tidak ada niat pulang ke padang lagi?"
Layla yang sedang menyusun barangnya. "Setelah ku pikir tidak ada lagi. Kepulangan ku barusan cukup membuatku trauma sama omongan ortu, keluarga dan tetangga. Kita sama-sama di jodohkan sama orang yang tidak kita cinta, Kenal pun sebelumnya tidak. Berani banget kita kabur."
Sejauh mata memandang puas pantai bali dari ketinggian, Nana menoleh. "Berarti belum jodohnya."
"Yuk! Berangkat. Semoga selamat sampai tujuan Amiin." Kalau mau berpergian jangan lupa berdoa dulu. Kalau mau upload sesuatu di sosmed tag langsung tempatnya. Jangan biarkan postingan kita viral di sosmed. Karena tulisan dan kata-kata itu do'a. Setelah itu pasrah kan diri pada yang maha kuasa.
***
"La! Aku ke toilet dulu."
"Iya."
"Jangan lama-lama, ya?"
"Iya." Nana pergi mengintip sepasang insan itu. Dari kejauhan melihatnya tiba-tiba hendak ke kasir dan pergi. Nana mengikutinya hingga cek in di hotel. Fisiknya mirip ryan tapi wajahnya tidak terlihat. Tiba-tiba Nana merasa sesak. Lebih memilih membeli minuman tak di hiraukan harga nya 3x lipat lebih mahal.
"Nih, buatmu." Nana menyodorkan minuman pada temannya.
"Pantesan lama."
"Iya, aku membeli minuman mutar dulu nyari yang murah."
Waktu keberangkatan telah tiba.
__ADS_1
***
Welcome to Jakarta
Tiba di bandara soekarno hatta tanggerang. Tak butuh waktu lama naik taksi tiba di jakarta. Biasanya melihat bundaran HI hanya di televisi sekarang nyata nampak di depan mata. Nana dan temannya memilih ke kosannnya Layla. Rencananya mereka akan berkumpul bersama teman-teman sekolahnya di Jakarta.
Kotanya padat, transportasi pribadi dan umum ikut memadati jalan. Hidup di Jakarta mungkin lebih keras dari Batam tergantung kitanya juga.
Sepanjang perjalanan, mata memandang banyak pandangan yang membuat hati sedih ingin menangis melihat nasip anak negri ini. Jutaan jalan sanggup mereka hadapi untuk mencari rezeki. Panas menyengat membakar kulit, tubuh kurus, dari usia muda sekolah dasar sampai lansia. Dari yang sehat, sakit sampai penyandang di stabilitas. Mau tidak mau mereka melakukan itu untuk menyambung hidup. Entah di mana keluarganya orang itu.
Banyak pula melihat ribuan mungkin jutaan orang mengelilingi sebuah perusahaan seperti di batam dulu tapi ini lebih banyak. Mereka mencari kerja.
Kalau aku kaya raya, aku akan berjanji akan menyantuni anak yatim, orang fakir miskin seperti mereka dan penyandang disabilitas amiin ya allah.
***
"Kenapa kamu, Na! Mewek aja dari tadi. Kangen emak?" Layla memecahkan keheningan.
"Mewek bukan kangen emak. Tapi, miris melihat mereka di sepanjang jalan tadi."
"Dari situ kita belajar untuk berpendidikan tinggi, kerja yang bagus jangan sembarang resign, di luar sana banyak orang yang membutuhkan pekerjaan."
"Kalau kita kerja, sampai buka usaha, kita bisa membantu negara mengurangi angka pengangguran. Pikiranku tidak pendek nya. Aku serius membuat perusahaan sendiri untuk anak negeri ini bekerja."
"Bagus bangat pikiranmu. Aku ingin ikut juga."
"Kamu lapar? Yuk kita makan."
Makan di restoran mewah miris hanya melihat banyak orang makan sisa tanpa memikirkan banyak orang yang kesulitan mencari makan di luar sana. Ingin menegurnya tapi siapalah aku nanti malah aku yang di demo. Ibu melarangmu makan sisa, kalau tidak habis ambil sedikit aja. Kalau kurang, tambah lagi nasinya.
Di rumah makan banyak yang makan juga sisa tapi di berikan ke kucing. Alhamdulillah rezeki makin lancar.
"Aku ke toilet dulu." Ujarku.
"Aku ikut."
Pergi ke belakang ingin melihat seperti apa dapurnya. Ternyata sangat mewah, sampai belakang melihat banyak nasi sisa yang di buang begitu saya ya allah. Andaikan mereka tau dosa besar membuang makanan, apa masih di lakukan?
__ADS_1
Entah lah, sekarang ini orang sudah jarang takut dosa. Kita bisa apa?