
Merantau ke kepulauan riau 85
Ryan sepertinya mengerti dengan suasana hatiku. Apa ryan sudah hafal ya? Sebeb semenjak pertama kali bertemu aku hanya diam mendengar obrolan kalau orang ketawa aku ikut ketawa sering menjadi bahan ejekan orang lain. Aku hanya diam, orang ketawa aku ikut ketawa.
***
"Begini, bu ratih dan semuanya." Mereka menoleh ke arah kami. Tante ratih menunjukkan wajah tidak suka padaku. Aku hanya menunduk."
"Kita duduk dulu." Seperti rapat ingin menghitung hari seperti yang kami lakukan di kampung dulu. Bu ratih duduk di samping anak laki-lakinya dan tiara memilih duduk bersama ku."
"Tadi ryan dan calonnya ke rumah ingin minta bantu pada saya untuk membujuk bu ratih agar memberikan restu ryan dengan pilihannya. Anak sudah dewasa biarkan dia memilih sendiri pasangannya. Baik atau buruk nanti biarlah mereka yang menjalaninya toh pilihan anak tidak semua buruk begitupun sebaliknya."
"Iya, ryan sudah menceritakan semuanya tentang wanita pilihannya. Tiara sudah bilang akan mundur dari perjodohan ini katanya sudah memiliki pilihan lain. Kalau boleh tau kegiatan sehari-hari orangtuanya Nazalia apa, ya?"
"Kegiatan sehari-hari ibuku mengelola rumah makan, toko roti dan butik. Ayah sudah tidak ada. Itu aja."
"Kamu anak perempuan satu-satunya mereka ya? Bagaimana dengan ibumu kalau kamu menikah dengan orang jauh?"
"Ibu, terserah aku. Kalau itu yang terbaik menurut anaknya ya sudah." Bohong, ibuku belum membolehkan aku menikah dengan orang jauh.
"Apa saya boleh berbicara pada ibumu?" Aku memberikan ponsel pada ibu biarkan ibu berbicara dengan ibunya ryan. Bagiku jodoh di dunia itu hanya sebentar kalau aku menemukan kejanggalan dan tidak merasa cocok lagi pilihan ada di tangan kita mau bertahan atau bercerai. Bukan berarti menikah untuk bercerai.
Ibu mau merestui kami tapi dengan syarat bikin perjanjian pranikah tentang nafkah harus adil dan seimbang. Ryan harus benar-benar menjalani kewajibannya sebagai seorang suami yang baik. Orangtua tidak boleh ikut campur dalam rumah tangga anaknya. Tidak boleh selingkuh dan menikah lagi kecuali aku sudah meninggal. Tidak boleh melarang dan menyuruh ku bekerja kecuali aku sendiri yang menginginkannya. Tidak boleh melarang aku pulang kampung dan menjenguk keluarga layaknya orang minang yang sangat menjunjung tinggi hubungan persaudaraan.
Suratnya di berikan ke ibu dan copyannya berikan ke bang faisal. Ibu akan mengirimkan salah satu keponakannya untuk mengawasi ku di sini. Guna untuk melindungi ku dari rumah tangga yang tidak pasti. Kalau terjadi sesuatu padaku. Mereka bisa menuntut ryan dan keluarganya.
Awalnya ibunya ryan keberatan bilang aku akan mensettir anaknya setelah di jelaskan paman Adrian beliau mengerti walaupun dari sorot matanya masih menunjukkan tak suka aku tidak peduli. Bukan aku memberatkan calon pasangan justru lelaki itulah yang paling banyak memberatkan istrinya. Sayangnya empati terhadap sesama wanita masih minim mereka hanya biang. "Sabar."
Tiara hanya melongo mendengarnya dan orangtuanya juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Ibuku lakukan.
***
__ADS_1
"Hebat kalian. Na!" Tiara mengajakku keluar menyusuri lorong rumah sakit. Entah kenapa mataku melihat ada sosok dokter fernando pas aku perhatikan baik-baik ternyata bukan.
Aku menjawab "Hebat apanya?"
"Bisa menaklukkan hati ibunya ryan yang keras. Tadi, lihat siapa? Hayoo!"
"Belum tau kedepannya seperti apa. Lihat dokter ganteng."
"Apa kamu tidak takut? Belum apa-apa udah melirik yang ganteng."
"Awalnya iya, setelah ibuku jelaskan. Ibuku suruh aku banyak sholat tahajud dan istikharah. Kita punya tuhan ngapain takut. Perasaan melihat lelaki ganteng itu berarti aku masih normal."
***
Lega rasanya untuk sekarang manusia bisa berencana tapi tuhan yang menentukannya. Zaman sekarang selembar surat hitam di atas putih di tanda tangan di bawah matrai mungkin tidak ada apa-apanya untuk mereka yang hanya di bawah garis kemiskinan.
Hukum di negeri ini tumpul ke atas tajam ke bawah. Yang salah jadi benar, yang benar terancam masuk bui. Ulama dan rakyat menengah ke bawah begitu mudah masuk bui. Sedangkan yang kaya dan korupsi miliaran rupiah bisa membeli hukum dunia dan berfoya-foya dengan uang rakyat yang di korupsi. Di potong masa tahanan, jeruji lebih bagus dari istana kepresidenan lengkap dengan fasilitas mewah di pakai tahanan elit.
Begitu juga dengan berita seorang istri yang memarahi suaminya pulang dalam keadaan mabuk malah di vonis dua tahun penjara sedangkan lelakinya bahagia dengan minuman haramnya sungguh hukum yang amburadul. Karena sudah di bayar mahal makanya mudah saja membelokkan hukum masih untung tidak di pecat.
Tring tring
Nadia calling
"Nadia menghubungi ku? "
"Angkat dulu, Na!"
[Hallo! Nadia. Apa kabar]
[Kabar aku alhamdulillah baik. Kamu apa kabar? Oh, ya. Kata ibu, kamu mau menikah ya? Sebab waktu kalian sedang ngobrol kebetulan aku di rumah ibumu]
__ADS_1
Aku menjauhi Nadia tidak ingin dia mendengar seseorang menyebut nama hanafi[Insyaallah, Nadia. Kamu gimana? Apa masih menunggu hanafi? Buruan banyak wanita cantik yang ngantri pria berduit loh]
[Apaan sih kamu. Toh jodoh tidak akan kemana. Siapa wanita yang sedang bersama nya sekarang? Malam nanti aku ke jakarta. Aku sudah hubungi Layla]
[Aku sedang di depok di rumah calonku. Gak tau gak pernah tau dan gak mau tau. Serius kamu mau kesini]
[Iya, sesekali mau lihat negeri orang gak mondok di rumah mulu tunggu aku, ya]
Nadia mau ke sini. Nadia sepertinya akan jadi Tiara kedua nya bucin sama lelaki yang tidak mencintainya. Tapi, apa seorang Nadia mau bucin sama lelaki? Entahlah.
Aku ingin piknik agar beban pikiran ini segera pergi dan tidak menganggu konsentrasi ku.
***
Jalan-jalan sekitar depok tak lupa berkunjung ke rumah ryan. Mereka memperkenalkan aku pada tetangga dan keluarganya yang lain. Malam hari kami ke jakarta karena besok mau kerja.
"Hati-hati di jalan."
"Iya. Pergi dulu, ya, ma! Dek! Paman. Ayok Na! Tiara! Dan zeus!"
"Tunggu! Aku ikut." Seseorang datang membawa tasnya entah siapa dia. Mungkin teman ryan.
"Ikut kemana?" Ujar ryan
"Ikut kalian ke jakarta."
"Ngapain?"
"Mau kerja juga bareng kalian. Bantuin aku, ya?"
"Ya, sudah."
__ADS_1
***
Naik bis lintas provinsi ke Jakarta. Mereka ngobrol panjang lebar sedangkan aku sama tiara sibuk sama dunia masing-masing. Aku sibuk chat dengan Nadia katanya dia tidak sabar akan ke Jakarta. Aku tidak bisa jemput tidak bisa menebak kapan tiba di kos dan Nadia tidak bisa di tebak jadwal keberangkatan nya kalau tidak delai insya allah akan tiba jam sembilan malam nanti sudah chat Layla katanya dia bersedia menjemput. Nadia bercerita sebenarnya dia segan menghubungi hanafi duluan. Itulah wanita ingin di hubungi duluan. Karena malu kalau dia sendiri yang bertindak.