
Merantau ke kepulauan Riau
Part 65
Sepulang tante ria kami tertawa terbahak-bahak. Orang sibuk menanyakan "kapan nikah" mereka tidak tau pertanyaan mereka sangat mengganggu privasi seseorang. Ada orang yang biasa aja ada pula yang sensitif aku termasuk yang sensitif sangat tidak nyaman dengan pertanyaan itu.
Ibuku saja tidak pernah menanyakan aku "kapan nikah" orang lain yang repot bangga pula sama kelakuan buruk yang di lakukan anaknya. Benar, masyarakat menganggap orang yang hamil di luar nikah lebih terhormat dari pada orang yang sudah dewasa tapi belum menikah dan yang sudah lama menikah tak kunjung hamil itu menjadi bulan-bulanan mertua, ipar dan orang lain. Mereka menganggap itu Aib yang berlaku seumur hidup padahal di mata Allah kesabaran menanti sesuatu yang baik lebih tinggi nilai plusnya dari pada yang nyinyir. Sedangkan di mata manusia yang berbuat dosa besar itu palungan Aibnya hanya sebentar setelah itu hilang.
Jangan di tiru ya Guys, ada sekitar kalian menemukan orang yang berpikir seperti itu jauhi aja!
"Dulu nyari yang mapan, sekarang sudah di tawarin seperti yang kamu bilang kok gak mau, Na?" Ujar Rani
"Bukan seperti itu, aslinya aku lebih suka sama-sama berjuang dari nol. Kalau sudah mapan berarti kita gak punya hak apapun sama harta yang dia miliki. Mapannya itu secara finansial, berpikir modern, tidak mengekang istri. Aku mencari pria yang seperti itu untuk melindungi diriku sendiri oleh masa depan yang tidak pasti."
"Bagus berpikir seperti itu sebelum terjadi harus tau dulu kerjaannya apa. Sudah nikah nanti tinggal di mana, perlu mencari lelaki yang mapan seperti itu tidak suka berada di ketiak emak. Jadi, benar kamu tidak mau sama orang itu?"
"Tidak mau sama sekali, kalau kamu mau ambil aja. Toh, kamu juga sudah dewasa."
"Harus tau bentuknya dulu, kalau jelek tidak mau. Di paksain terima sudah nikah bangkrut tinggal jeleknya lagi. Hahah."
"Hahaha, sadar juga kamu."
"Kebanyakan suami ketika susah, di temani dan di bantu oleh istrinya dari nol. Sudah maju dia kepincut yang lain berlindung di balik kata sunnah dan hak dia sebagai lelaki untuk boleh memiliki istri lebih dari satu gimana?" Ujar rani.
"Jadi harta bukan segalanya ya ? Aku juga, kita menikah memulai dari nol, berjuang bersama sampai puncak, walaupun suatu saat nanti dia mendua karena sudah merasa mapan dan berlindung di balik kata sunnah menolong seseorang. Aku bisa menerima itu. Tapi, hati tidak bisa di paksa, aku bukan wanita soleha yang mau di jamin surga lewat jalur itu. Aku tidak mau, lebih memilih mencari surga yang lain. Ku lepaskan dengan ikhlas. Jadi wanita kita harus mandiri juga rayu suami berikan pelet cinta untuk mendapatkan restu kita bekerja."
"Kita yang berjuang wanita lain yang menikmati. Sebagai sesama wanita juga ikut menghujat yang berjuang karena dia berada di posisi istri kedua dan tidak pernah merasa di dua kan. Kalau sudah bukan jodohnya, aku tidak takut melepaskannya. Toh, seorang hidup menikmati milik orang lain juga tidak berkah. Makanya banyak yang mendua ujungnya bangkrut kembali lagi sama istri pertama." Ujarku.
__ADS_1
"Panjang bangat ngos-ngisan ku dengarinnya. Mendua, bukannya rezeki makin bertambah malah bangkrut oh, dunia. Eits setahu saya di sinetron."
"Sinetron kan ngambil nya di dunia nyata. Kebanyakan sinetron seperti itu mungkin untuk memberi pelajaran yang baik untuk penontonnya." ujarku.
***
Seminggu berlalu tidak ada tanda-tanda laki-laki itu akan datang. Baguslah, coba kalau datang ku bawa selusin karyawan untuk menghadapi dia. Biar tau rasa dia.
POV Angga
Aku Angga mahasiswa terkece di kampus, terganteng juga boleh. Tapi sayangnya tidak ada satupun gadis yang nyantol ke aku. Entah di mana salahku, duit banyak, makan gratis di rumah juga boleh. Tapi setiap ku tembak tidak ada yang mau katanya "takut mati"
Suatu hari
"Bagus banget cafenya." Ujar Angga
" kos-kosan 12 pintu tempat kita tinggal dulu pemiliknya sama yang punya cafe."
"Oh, yang namanya kayak nama perempuan kulitnya hitam banget kayak kebo itu?"
"Iya, dia. Walau gitu di kejar rezeki tauk. Nah, itu dia! Leo.
''Hai! boleh duduk di sini? Ujar pemilik cafe.
"Boleh ini cafe siapa?" ujar le. Mereka berbincang cukup lama belajar bisnis yang agar lancar dan maju hingga.
"Ga! Ku dengar kakakmu, Nana sudah pulang ya? Siapa pacarnya? Kalau masih jomblo atau selagi janur kuning belum melengkung. Aku ingin kenal sama dia." Ujar Devi ya, devi namanya.
__ADS_1
"Waduh, si kebo mau kenal sama kakak ku? Bisa buruk keturunan keluarga ku. Namanya perempuan tapi laki untung gak gem*lai. Banyak Ibu-ibu yang bilang gak apa-apa jelek yang penting banyak duit. Jadi nasip kami yang ganteng ini gimana? Gak laku jomblo abadi dong? Atau jelek dulu yang penting berduit agar laku?" Batin Angga."
Angga berpikir kata-kata apa yang harus di utarakannya. " Oh, Nana udah tunangan kemaren. Kalau masih ngotot mau kenalan hukumnya haram. Sebentar lagi dia akan menikah dengan teman sekampusnya dulu."
Skak mat.
"Benar, Kakak lo mau nikah? Orang mana calonnya?" Ujar leo percaya sama omongan ngawur Angga sedang kan devi nama pria itu terdiam cukup lama dan beralih ke kasir.
"Kamu ini gak bisa membedakan mana orang lagi becanda mana yang serius? kuliah ambil jurusan psikologi ngapain aja?"
"Jangan bawa-bawa pendidikan dong. kamu nampak nya serius bangat gak ada aku lihat kamu berbohong sama sekali. Jadi benar kakak kamu masih jomblo ? dan kamu menolak dia? hahahahahah sakit perutku."
"Kakak kamu aja si Rani tuh nikah sama dia. Biar gak melayani pelanggan dulu di rumah aku. Saatnya melayani suami lagi."
"Mmmm, Aku yang nyuruh nya gitu? yang ada aku di jitak."
"Bisa juga kakakmu menjitakmu?"
***
Devi datang lagi menemui mereka. "Oh, gitu. Ya, sudah." ujar Devi. Gagal mendapatkan info dari Angga, Devi mencoba menanyakannya ke ria. Ria setuju besoknya akan mencoba membujuk Nana terutama Ibunya. Nana menolak, tau Nana belum bertunangan, Devi akan mencoba mendekati keluarga Nana yang lainnya. Sepertinya pria ini sangat terobsesi menginginkan Nana.
Orang selanjutnya yang devi datangi adalah pamannya. Pamannya memang bukan wali nya. karena paman nya yang masih hidup masih kerabat Ibunya. Menurut orang minang zaman dulu, sang paman keluarga dari Ibu memiliki hak yang lebih besar terhadap anak saudarinya dari pada ayah kandungnya.
Melalui paman, bagaimana cara Nana menyikapi perjodohan ini ?
Next.
__ADS_1