
"Ya, di desak dong. Masa diam aja, umurnya sudah berapa. Anak saya aja yang usianya di bawah Nana menikah sebulan yang lalu sudah lahir anaknya dua hari yang lalu pas kalian pulang."
Astagfirullah, bangga bangat sama anaknya yang berzina dan hamil di luar nikah pula. Sedangkan yang sendiri sedang berjuang di sepertiga malam malah di anggap Aib keluarga? yang hamil di luar nikah lebih terhormat dari pada yang berjuang di sepertiga malam?
Entah apa yang ada dalam otak manusia seperti itu. Sepertinya dunia memang sudah terbalik. Mereka tidak tau orang yang berzina dan hamil di luar nikah dosanya 40 rumah depan, belakang, samping kiri, dan kanan.
Jika anaknya lahir nasabnya ikut ibu, nafkah 100% dari ibu, bukan bapaknya dan tidak pula mendapatkan warisan. kalau lahir anak laki-laki, anak itu tidak bisa menjadi wali nikah untuk saudara perempuannya. kalau lahir anak perempuan, ayah biologisnya tidak bisa menjadi wali pernikahannya, menikah harus memakai wali hakim. Itu menurut agama islam.
Aku menatap tante Yuni dalam-dalam. Pelanggan pun tertawa mendengar ucapannya. "Bangga ya, tante! Anaknya berzina dan hamil di luar nikah?"
Tante Yuni Tersentak mendengar ucapan ku."Yang penting anak saya laku, sudah menikah. Yang gak menikah itu apa yang di bangga kan ?"
Bagiku itu asal laku gak tau konsekuensi yang Di dapat kan di kemudian hari. "Tante tau dosa gak?" Ujarku, aku tidak perlu takut untuk menghadapi orang seperti ini. Kulihat, pelanggan ada yang tertawa ada pula yang berbisik-bisik.
"Hati-hati dengan ucapannya, Bu! Bisa jadi akan menular lagi dengan anak ibu yang lainnya." ujar salah satu pelanggan.
"Pelajaran dari mana itu, Bu!' Ujar salah satu mahasiswa.
"Kita aja, mendidik anak-anak berusaha untuk tidak terjerumus ke jurang dosa. Kok kamu bangga dengan perzinaan anakmu, Yuni? Memangnya kamu tidak malu mengumbar aib mu sendiri? Kamu tidak tau dosa ya? Kasihan saya lihat kamu. Amit-amit saya kenal dengan orang seperti ini." Ujar salah satu kerabat Ibu.
__ADS_1
Tante Yuni meradang, dadanya kembang kempis seperti habis maraton. "Ya, tau lah. Siapa sih, orang yang tidak tau dosa? Memangnya salah? Hamil sebelum menikah? Itu jauh lebih baik dari pada tidak laku-laku fitnahnya seumur hidup. Kasihan orangtuamu di tanya-tanya mulu sama keluarga yang lainnya. Kalau dosa, apa sih yang tidak dosa? Semuanya bisa tobat, toh tuhan juga pasti akan mengampuninya."
Tau dosa kok tetap bangga sama dosa yang sudah di lakukan oleh anak nya? Dunia sekarang memang sudah antah berantah. Di dunia nyata memang banyak orang seperti ini menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal. Mereka sebenarnya tau dosa. Tapi, bodo amat dalam hatinya bisa tobat tuhan pasti akan mengampuninya.
"Tante yakin di kasih hidayah oleh Allah? Saya tidak akan mendengarkan omongan ngawur kalian, buang waktu aja." Ujarku
"Kalau tau dosa, kenapa tante bangga dengan pernikahan dan hamil di luar nikah? Padahal berzina itu hukumnya dosa besar loh. Dosanya 40 rumah kiri, kanan, depan dan belakang. Tante dan anak yang lainnya juga ikut dosa. Emangnya tante gak mikir, gara-gara perbuatan anak tante, orang lain juga mendapat dosa. Kalau hukumannya di dunia menurut islam, si pezina harus di tajam sampai mati, loh. Belum lagi di akhirat, di lempar ke neraka yang paling panas."
"Anak zina itu tidak bernasab ke ayahnya, melainkan ke ibunya. Ayahnya tidak wajib mendapatkan nafkah dari ayahnya dan tidak pula mendapatkan warisan. Kalau anaknya laki-laki, dia tidak bisa menjadi wali nikah untuk saudara perempuan nya. Kalau perempuan, ayahnya tidak bisa menjadi wali nikahnya.
"Beda dari orang yang sendiri tante tidak tau mereka sedang berjuang merayu Allah di sepertiga malam agar di berikan jodoh yang baik, bukan fitnah. Mereka yang banyak pilih-pilih juga untuk kebaikannya sendiri agar tidak mendapatkan pasangan yang salah terkunci hatinya oleh kebenaran."
Melihat ku yang berdebat panjang lebar Ibu beberapa kali memberi kode berhenti tapi tidak aku hiraukan, aku harus memberi pelajaran pada tante Yuni. Kok bisa-bisanya ayah memiliki saudara seperti dia. Seketika tante Yuni terdiam.
"Semoga Allah memberimu hidayah, Bu Yuni. Kalian yang di sini jangan ikutin omongan ibu ini ya? Nanti kalian terjerumus ke jurang dosa. Kalian kuliah lah yang baik. Kasihan orangtua kalian menanti kalian sukses membawa ijazah sarjana." Ujar salah satu kerabat ibu.
"Kami juga tau mana yang waras Bu!"
Tante Yuni semakin meradang mendengar nya. Alih-alih ingin memojokkanku tapi dia sendiri yang malu. Heran deh, dari dulu tidak pernah berubah selalu mengusikku.
__ADS_1
"Nana, sudah tidak baik menantang orang yang lebih tua. Kamu ngalah aja, masuk ke kamarmu." Ujar Ibu.
Ibu menarik ku ke ke atas. "Tidak mau Bu, selagi tante ada disini aku akan terus menantangnya." Aku menghempas kan tangan ibu kembali duduk di tempat semula
"Tante! Selama makan disini tante tidak pernah bayar kan? Jangan lupa di bayar ya tante, jangan ada yang kurang satu rupiahpun, kami tidak ikhlas. Toh, kami juga akan memutar modal lagi, kalau gratis terus kami bisa bangkrut. Sedang tante tidak pernah sedikitpun membantu kami."
"Tante Yuni lagi-lagi tersentak. "Maksud kamu apa? Saya makan disini, dirumah makan ini, tanahnya milik siapa? Kalian ini kan masih kerabat kami, juga ada hak saya atas tanah ini loh, kamu mau protes? Kembaliin dulu tanah ini, cari tempat yang lain."
"Hahaha, tante waras?" Rumah makan ini punya kami, 100% milik kami, hak kami sebagai anak-anak. Tanah ini justru tidak ada hak ayah apalagi tante sama sekali, tanah ini tanah nenek dari ibu saya tante, ayah numpang di sini. Kapan pula ayah membeli kami tanah? Jelas saya protes, dari dulu tante selalu membawa anak-anak tante makan di sini, gak pernah bayar, gak pernah bantu Ibu, sukanya mengusikku. Apasih salah ku pada tante? Benci bangat tante sama ku? Justru tante yang harus mengembalikan 100% hutang tante pada kami tanpa kurang sedikitpun saya tidak ikhlas hak saya di makan gratis oleh kalian. Jadi benalu aja belagu."
"Nana sudah, masih ke kamar. Yuni, maafin Nana ya? Omongannya barusan tidak usah di pikirkan."
"Sudah berpendidikan tinggi tetap tidak punya sopan santun."
"Apa yang di bilang Nana benar Yuni. Tidak seharusnya kamu dan anak-anak makan di sini, kamu itu yang tidak punya sopan santun. Mereka anak yatim loh, kalian lah yang memberi mereka makan bukan kita yang minta makan pada mereka. Bayar lah, Yuni, Nana berhak menagih nya jangan zolim sama orang, dosa besar Yuni." Ujar kerabat Ibu.
"Kamu tidak tau apa-apa soal kami jangan ikut campur."
"Pergi aja daru sini tante saya sudah muak dengan kelakuan tante."
__ADS_1