Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
POV Faisal


__ADS_3

Aku, Faisal Ramadahana, Faisal atau ical panggilan akrabku. Tapi orang di Rumah memanggil Aku Faisal, teman-teman memanggilku Ical.


Kebiasaan masyarakat Minangkabau salah satunya dalah MERANTAU. Ya merantau karena suka menjelajah negeri, provinsi, pulau dan negara, banyak masyarakat Minangkabau melakukannya, untuk menuntut ilmu, bekerja menjadi tulang punggung keluarga, membuka usaha, berdagang, menetap dalam jangka waktu lama sampai mati.


Meninggalkan kampung halaman, orangtua dan sanak saudara. Merantau sudah menjadi budaya dan tradisi yang harus di jalani oleh masyarakat Minangkabau. Minimnya lapangan pekerjaan di kampung halaman membuat kami meninggalkan kampung dan semuanya, berusaha merintis usaha dari Nol sampai puncak.


Merantau bukan hanya untuk menuntut ilmu anak sekolah dan kuliahan dan bekerja, tapi dengan merantau kita akan belajar lebih dewasa, melakukan apa-apa sendiri, mengurus diri sendiri, menikmati susah senang sendiri, mandiri dalam segala hal. Melibatkan orang asing disetiap usaha kita.


Merantau jua di lakukan karena anak lelaki Minangkabau dulunya kecil  di surau, besar dirantai. Begitulah masyarakat minang mengatakannya. Ketika besar anak laki-laki meninggalkan rumahnya pergi kemanapun yang dia mau, dengan niat dan tekat yang bulat, tidak etis bagi masyarakat minang anak laki-laki sudah dewasa masih tinggal di rumah orangtua.

__ADS_1


Pekerjaan yang paling banyak dilakukan masyarakat Minangkabau adalah Berdagang membuka usaha sendiri, menjadi Artis/aktor, politik, penulis dan lain-lain.  


Merantau lah kamu, agar kamu tau pahit manisnya hidup di negeri orang, jauh dari orangtua dan saudara, susah senang, sehat sakit di lalui sendiri, tidak ada uang, tidak ada makanan, usaha tidak lancar, dan di PHK, menghidupi diri sendiri.  setiap orangtua menyapa lewat surat kabar atau telpon, orangtua bertanya. "Apa kabar?" "sudah makan apa belum?" gimana kerjanya?" "gimana usahanya?" kalau gak punya uang bilang ya, jangan pendam aja!


Banyak lagi yang orangtua tanyakan, tapi anak rantau akan selalu membilang "baik-baik saja, kerjaan lancar, usaha lancar, semuanya lancar tidak usah mengkhawatirkan anaknya disini, kami sudah dewasa. Karena anak rantau tidak akan membicarakan keadaan yang sebenarnya karena takut membuat orangtuanya sedih dan kepikiran. Semangat anak rantau.


Aku anak pertama dari 4 bersaudara, jarak Aku dan Nana terpaut usia 10 tahun, Nana anak ke 3, sedangkan di atas Nana ada lagi yang terpaut usia 5 tahun di bawahku yang bernama Farrahitta Nandhini. Sayangnya sudah meninggal ketika berusia 2 tahun karena demam biasa. 


Sejak kecil, Aku sudah terbiasa membantu orangtua mencari kayu bakar, berkebun, bersawah, mengurus pekerjaan rumah, dan mengurus adik-adik. Aku sudah terbiasa melakukannya, karena didikan Ibu yang mengajari ku untuk multitalenta dalam segala hal, karena pekerjaan domestik kata Ibu bukanlah pekerjaan perempuan tapi pekerjaan laki-laki, ada bagusnya agar, sewaktu ngekos, tinggal jauh dari rumah orangtua, kita bisa melakukannya tidak membuat teman se kos keberatan sama kita. Setelah menikah, kita bisa meringankan pekerjaan istri.

__ADS_1


Sayangnya pada saat usiaku menginjak 14 tahun masih duduk di bangku kelas 3 SMP, Ayahku meninggal dunia karena sakit Asma yang dia derita sejak kecil. Entah kenapa Aku tidak bisa menangis, entah Aku masih terlalu muda belum banyak mengerti berbagai hal. Nana waktu itu berusia 4 tahun, si Bungsu Angga baru berusia 1 tahun. Ayah meninggal kan seorang istri dan 3 anak yang masih kecil-kecil.


Dunia ibu hancur 7 hari 7 malam Air mata Ibu tak berhenti bercucuran diikuti adik-adik yang sedih melihat Ibu menangis. Banyak sanak saudara yang menyumbangkan Amplop berisi uang, Uang itu di gunakan untuk membuka usaha warung kecil-kecilan. Menjual Lontong, gorengan untuk sarapan pagi, dan lauk-pauk. Tak mudah mengerjakan sendiri apalagi waktu itu Ibu belum memiliki jiwa dagang, tidak semua nya orang minang pandai dagang. 


Jatuh bangun pantang menyerah demi anak-anak, suka menanam sayuran di kebun sepetak di belakang rumah, merawat, memupuk, menyemprot, hasilnya di bikin lauk pauk untuk dijual lam-lama besar jadi Rumah makan Padang Ampera atau amanat penderita rakyat. Lama-lama banyak pelanggan datang mereka menilai masakan Ibu sangat enak, sering di pesan lewat telpon, Ibu mengandalkan Aku untuk mengantar pesananan. Kalau tidak ada Aku karena sekolah ada kaponakan ibu yang mengantarnya.


Selepas SMP lanjut masuk SMK jurusan pelayaran biar udah tamat kalau tidak kuliah bisa melamar pekerjaan menjadi pelaut di pulau kalimantan. Karena sekolah dan Rumah cukup dekat, Aku memilih berulang aja sekaligus agar bisa membantu Ibu.


Membantu mencari membeli kayu bakar karena waktu itu belum memakai gas, banyak polusi memang, tidak mau penyakit ayah diwarisi ke kami. Adik-adik dititipkan dirumah nenek dari pihk ibu, kami harus hati-hati dalam berhadapan dengan Api. Sepulang sekolah, mengantar pesanan, melayani pelanggan, mengaji, belajar, kursus, dan ikut membantu Ibu merancik bumbu-bumbu. Banyak saudara yang menolong kami jadi pekerjaan Ibu merasa sedikit ringan. Aku cepat hafal cara meracik bumbu dan memasaknya.

__ADS_1


Selepas SMK pelayaran, Aku berangkat bersama teman ke Jakarta....


Next...


__ADS_2