Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Gelombang cinta Nana


__ADS_3

Merantau ke kepulauan riau


#Part41


Lepas sudah aku menyelesaikan masalah demi masalah yang di alami oleh Alda, menurut kak shela, ini belum seberapa akan ada banyak hal yang kita alami di perantauan. Apapun itu mudahan aku kuat menghadapinya.


Kembali bekerja seperti biasa, masuk malam di hantui rasa ngantuk sudah terbiasa menjalaninya. Malam ini, Alda terlihat ceria bangat. Mungkin sudah terbebas dari para benalu.


"Cie, yang sedang bahagia nih." ujarku


"Elo, yang bahagia, udah jadian sama seorang dokter." Mendengar penuturan Alda, membuat orang-orang di pabrik mengalihkan mukanya ke kami. Ada yang kepo, ada yang berbisik, ada yang sinis, dan ada yang biasa aja.


"Iya, kah? Nazalia, jadian sama dokter? Dokter dari RS mana?" ujar seseorang.


"Enggak ada kok, jangan percaya omongan Alda kebanyakan halunya."


"Halu, entar Gue rebut, nanti lo Nangis."


"Rebut aja, kayaknya dia menyukai lo."


"Dia, menyukai Lo, kok, gue? Jangan lupa ya, ceritakan apa aja yang kalian bahas kemaren."


"Mau tau aja."


Sebulan ini hubungan ku sama dokter Fernando biasa aja, monoton, tidak ada kemajuan. Sekali vc selalu mengungkapkan kata cinta, di usia yang masih belia ini, aku takut termakan rayuan laki-laki.


"Na, selama di sini kamu sudah mengalami banyak perubahan ya!" Aku tersentak kaget, tiba-tiba Bang Faisal bersama kak Shela muncul kehadapan ku.


"Iyalah, Bang, hidup itu kan mengikuti tempat tinggal sama perkembangan zaman." Aku tidak mau Mereka tau Aku dekat sama siapa aja, kemana aja, dan ngobrolin apa aja.


"Ini, beda, Na, aura kamu itu seperti sedang berbunga-bunga! Apa kamu sedang jatuh cinta?" Ternyata mudah bagi seseorang membaca kondisi seseorang ya. Apakah sedang bahagia, menderita, ceria, tertekan dan hidup segan mati tak mau.


"Ih, apa-apaan, Abang ini, jelas tidaklah, Abang kan tau, niatku ke sini untuk apa." Tentu aja Aku masih ingat tujuanku kesini untuk apa. Tapi, melihat teman-teman, hanya aku yang memiliki tujuan setelah habis masa kontrak ini.

__ADS_1


"Semua orang itu bisa berubah, Na, mengikuti pergaulan akan mengubah segala niat awal kamu untuk kesini." iya, aku lupa kadang pergaulan membuat tujuan seseorang berubah 100%.


Na, kamu boleh jatuh cinta, tapi sekedarnya aja, jangan lebih, ingat lagi niat awal kamu kesini untuk apa, Abang harap kamu manut sama apa yang kami bilang ke kamu, itu semua untuk kebaikanmu. Tentang pergaulan orang di kota ini jangan di ikutin. Tetaplah menjadi diri sendiri jangan coba-coba menjadi orang lain.


Kalau ada teman yang tidak baik, teman yang tidak akan mau menjerumuskan kamu ke lembah hitam, jauhi dia. Kalau ada teman yang baik, dekati dia.


Laki-laki juga, jangan sembarangan mau di dekati oleh laki-laki, sebab Abang mu ini laki-laki tau semuanya sifat asli laki-laki. Cara mereka mendekati perempuan, cara mereka memanfaatkan perempuan dan cara mereka memperlakukan perempuan. Kamu harus hati-hati sama mereka.


Kalau niat kamu tulus ke sini untuk biaya mau kuliah, Abang harap kamu serius menjalaninya. Jangan dulu pacaran atau tebar pesona, kalau ijazah sarjana sudah kamu pegang boleh pacaran dan mencari laki-laki yang mau menjadi jodohmu." Paham kan?"


"Paham, Bang."


Ternyata hal itu di sadari oleh Bang Faisal dan kak shela. Karena perubahanku yang sangat drastik, Bang Faisal yakin, aku sedang jatuh cinta, Bang Faisal membatasi gerak gerik ku.


Orang rumah tidak tau aku sedang dekat dengan salah satu temannya mereka tidak boleh tau.


Minggu ini saatnya me time, membereskan rumah lanjut tidur seharian. Besok masuk siang. Hari ini gak niat untuk menerima telpon dari siapapun, karena tidak mau membuat Bang Faisal menergurku lagi.


Ternyata dokter Fernando menelponku. Biarin aja dulu, nanti malam ku balas.


--------------


Keesokan harinya bekerja seperti biasa, ternyata omongan Alda kemaren menjadi bahan gosip di pabrik hari ini. Macam-macam yang mereka bicarakan, ada yang suka, biasa aja, tidak percaya dan memfitnahku. Biarlah, Aku tidak peduli.


"Eh, tau gak, Nazalia berpacaran sama seorang dokter." ujar seseorang. Aku hanya menyimak dari kejauhan sambil mengerjakan pekerjaan seperti biasa.


"Masa, sih, aku tidak percaya, jangan-jangan dokter gadungan lagi." ujar seseorang yang sepertinya belum percaya sama omongan karyawan tadi.


"Kalau itu, saya tidak tau, sebab saya pernah melihat mereka di kos Alda kemaren." 


ingatanku berputar ke beberapa hari yang lalu, ada dua orang yang memperhatikan kami dengan pandangan tajam menusuk. Apa dia orangnya?


"Masa sih!" ujar seseorang lagi.

__ADS_1


"Kalau gak percaya tanya aja orangnya." Mereka semuanya menoleh ke arah kami.


"Gue, gak percaya ada di antara kita pacaran sama dokter, mana mau dia, palingan ada udang di balik bakwan hehe." ujar Seseorang. 


"Udang di balik bakwan? Masa seorang dokter kayak gitu? Seorang dokter itukan sudah di sumpah untuk profesional tidak neko-neko. Bisa melanggar kode etik profesi nanti."


"Gak ta taulah, mungkin dokter gadungan."


"waahhh seorang dokter yang praktek di perusahaan ini. Ingat gak, dulu yang melakukan medical cek up pada kita? Dokter itu."


"HAH, iya kah?


"Wah, Nana, kamu makai apa sih? Kok sekelas dokter fernado bisa kepincut sama Lo! Pakai minyak keramat ya?" kenapa mereka bisa berpikir sampai kesana? Perasaan aku, biasa aja tidak memakai apa-apa. Aku tidak mendekati dokter Fernando, dia sendiri yang mendekati aku.


"Tidak kok." Tak ku acuhkan apapun yang mereka katakan, Aku tidak mau melalaikan waktu, bisa di tegur lagi nanti, sudah capek ditegur mulu juga  waktuku sangat berharga untuk itu.  Waktu adalah segalanya bagiku.


Hari ini tidak sekalipun aku mendapatkan pesan atau telpon dari Dokter Nando. Kemana dia? Mungkin sibuk, pengen menghubunginya tapi gengsi. Gak di lakuin, rindu. Oh, dokter, Anda kemana?


Malam ini tidak bisa tidur dengan cepat karena bayangan dokter Nando selalu melintas di pikiran ini. Suaranya, wajahnya, perlakuannya, dan semuanya selalu menghantui pikiran ini. Apa aku, sudah benar-benar jatuh cinta?


Kata orang kalau mau jatuh cinta harus mau juga di kecewakan suatu saat nanti. Bagiku sudah pasti itu, siapalah, aku yang hanya karyawan biasa yang belum tau masa depannya. Dia, sudah pasti banyak wanita yang mengantri laki-laki seperti dia tinggal milih yang mana yang terbaik menurut dokter nando.


Aku tidak boleh berharap, tidak boleh jatuh cinta berlebihan, anggap aja dia teman sekaligus kakak.


Berselancar di dunia maya, ada seseorang yang mengirim foto dokter Nando dengan seorang wanita cantik bangat, kulit putih bersih, wajah baby face, sepertinya wanita berpendidikan dan berkelas. Aku kalah jauh dari dia. Entah apa tujuan seseakun mengirim foto itu pada aku ku. Apa dia ingin membuatku cemburu?


Cemburu, pasti ada, rasanya nano-nano, sesak bangat, seakan tidak rela dia di miliki wanita lain. Tapi, akal sehatku berpikir, kenapa juga aku cemburu, dia bukan siapa-siapa pacar bukan, tidak pernah nembak, dia mengungkapnya aja "kita tidak usah pacaran, kita berteman aja." seharusnya dari situ, aku tau kalau dia tidak menginginkan aku, tentu dia lebih memilih wanita yang sederajat dengan dia, sudah dewasa juga. Beda sama aku yang sedang berjuang untuk masa depan.


Ku tutup HP, kembali tidur masih susah. Foto dokter Fernando tadi menjadi bumerang buat ku. Sepertinya aku memang sudah jatuh cinta beneran pada dia. Baru jatuh cinta sudah di sakitin. Oh, tuhan.


Membaca novel menjadi teman tidurku. Seorang pangeran tampah jatuh cinta dengan gadis miskin membuat semangatku muncul lagi. Banyak halangan dan rintangan yang menghadang hubungan mereka, dari orangtua, mantan kekasih, dan kerabat. Alur ceritanya maju mundur endingnya mereka bersatu walau di pisahkan oleh orang ketiga bersatu lagi Tak salah aku menyukainya karena cinta tidak memandang kasta. Sekarang aku jalani dulu apa adanya anggap aja dia kakak tidak lebih.


Next

__ADS_1


__ADS_2