
Merantau ke kepulauan Riau
#Part46
Hari ini moodku kembali hancur berantakan, seperti pecahan kaca yang sudah hancur di satukan lagi tidak mungkin kembali seperti semula. Kalau di bentak sama orang lain sudah sering, sama keluarga sendiri jarang bangat.
Aku harus mencari siapa yang mengirim foto itu. Kira-kira, kapan bisa mengambil HP nya Bang Faisal ya?
Bang Faisal seperti detektif susah bagiku buat mengambil HP nya yang ada nanti di bentak lagi. Mending berangkat kerja aja deh, walau masih pagi bangat, singgah dulu ke kosnya Alda. Hanya dia teman kami ke bioskop gak ada yang lain termasuk karyawan bioskop. Apa Alda yang mengambil gambar kami? Dan mengirimkannya ke Bang Faisal. Tapi, untuk apa? Apa Alda menyukai dokter Nando? Kenapa sampai mengirim foto itu? Aku harus tanya ini.
Tok tok tok
"Alda, buka pintunya!"
"Hoam. Nana, kok pagi-pagi udah ke sini?" Alda keluar dengan stelan tidur, rambut acak-acakan, masih menguap sana sini. Terlihat bangat Alda ini orang tersantai yang pernah aku temukan.
"Ya, ampun, ini sudah jam berapa baru bangun. Rambut acak-acakan, liur di mana-mana." Masuk ke kosan ini lagi-lagi pandanganku miris melihat debu dan sampah di mana-mana. Dulu, kos seperti gudang karena penghuninya pada curang tidak mau beres-beres. Lah, ini? Masih sama seperti dulu.
"Iya, ngapain bangun pagi, gak ada anak dan suami yang mau gue urusin. Pagi-pagi harus bangun, masak nasi, ini itu. Kenapa, toh, Na?" Alda mengikuti kemanapun ku pergi.
"Kata orangtua, gadis tidak boleh bangunnya kesiangan entar sulit dapat jodoh terbawa sampai tua nanti. Pernah gak kamu dengar kata itu?"
"Ya, pernah sih, udah berapa lama kamu disini? Hampir setahun, kamu gak pernah ngekos makanya kamu gak tau kebisaan anak kos itu seperti apa, ya seperti ini lah."
"Ini debu sama sampah nya dimana-mana, udah berapa bulan gak nyampu kamar?"
"Cuma sekali seminggu beres-beres, pulang dari kerja capek, mandi, makan langsung tidur, masuk malam, siangnya tidur. Minggu beberes." Memang kebiasaan anak kos yang tidak terlalu perhatian sama kebersihan kosnya, ada yang curang, ada yang memang tidak mau. Ada yang tipe rapi tapi ketika temannya tidak mau beres-beres juga tertular malas nya. Ada pula yang memilih pindah kos.
"Alda, Alda....
"Kenapa, Na?"
"Bersih-bersih dulu. Ada yang mau aku omongin."
"Ngomong apa?"
__ADS_1
"Mandi aja dulu."
5 Menit berlalu selesai juga mandinya, mandi apa seprti itu? Jangan-jangan gak pakai sabun lagi, dan dekilnya masih menempel. Julidnya hatiku ini."
"Mau ngomong apa, Na?"
"Gini, Da. Minggu lalu kita ke bioskop, di sana hanya ada kita bertiga, waktu kamu ke belakang, kamu pernah mengambil gambar kami gak?" Sambil mencari pakaian, me ke up, tas, dan sepatu. Ternyata di sudut manapun memang sudah berantakan.
"Enggak tuh? Aku ke belakang, dokter Nando yang nyuruh lewat chat. Tiba di belakang aku duduk di taman depan cafe sendirian. Aku memang mengambil gambar tapi bukan gambar kalian gambar ku sendiri. Ada apa tuh?"
"Dokter Nando yang menyuruhmu keluar? Udah ku duga sebelumnya. Beneran kamu tidak mengambil gambar kami? Jujur ada, Da!"
"Beneran kok, untuk apa pula gue ngambil gambar kalian. Ada apa emangnya?" Melihat gerak-gerik Alda, tidak ada yang mencurigakan. Alda sepertinya jujur. Kalau bukan Alda, siapa ya? Apa motifnya mengirim gambar itu? Apa ada mata-mata dokter Nando mengikuti kami? Tapi untuk apa? Ah, biarlah. Lagian hubunganku dengan dokter Nando tidak dekat amat.
"Kalau bukan kamu, siapa yang mengambil gambar kami berdua? Di bioskop hanya ada kita bertiga. Ada seseorang yang mengirim foto kami ke HP Bang Faisal. Bang Faisal marah besar tauk.
"Iyakah? Sumpah, Na, Gue gak pernah menjepret kalian. Bang Faisal bilang apa aja?"
"Tanya-tanya aja."
"Mau mastiin aja apa kamu yang mengambil gambar dan mengirimkannya apa tidak, untuk apa coba. Ayok berangkat."
"Pagi amat."
"Makan dulu di resto.
Mengunjungi salah satu restoran SP, Restoran pertama yang di kunjungi dulu waktu masih bersama Alya. Entah kenapa Alya dan indira sekarang menjauh.
"Marah bangat Bang Faisal, ya? Sebagai kakak laki-laki wajarlah dia menegurmu untuk tidak dekat dengan sembarangan teman apalagi laki-laki."
Pramusaji datang menanyakan apa yang kami pesan. Aku memesan nasi soto. Alda bakso, dan minuman kopi gingseng.
"Iya, Da. Karena mereka dulu sahabatan. Dokter Nando juga pernah menjalani hubungan dengan kak shela."
"Pentesan gak ngebolehin, mungkin udah tau Aslinya dokter Nando seperti apa."
__ADS_1
"Iya, kurasa juga begitu."
Selesai duduk sejenak, menunggu jam yang pas pergi ke tempat kerja. Walau masih pagi bangat. Jalanan sudah ramai pengunjung, orang-orang berlomba mencari rezeki.
Tiba saatnya berangkat jalan sedikit ke panbil mata ini melihat Alyan dan Indira sedang memandang ke Arah kami.
"Pagi Alya, pagi Indira!" Entah kenapa mereka misterius amat, memandang ku entah dengan pandangan yang cukup tajam. Entah apa salahku.
"Pagi juga."
"Gimana jalan-jalannya kemaren, Na?" Hah, Alya tau kami jalan-jalan kemaren. Apa mereka berdua yang melihat kami dengan memakai masker kemaren?
"Jalan-jalan kemana, ya?"
"Kok nanya balik? Kemaren itu Aku lihat kalian bertiga sama dokter yang praktek di perusahaan tempat kita kerja. Kalian kemana aja? Gimana jalan-jalannya?" Benar, mereka orang yang melihat kami waktu itu. Apa mereka mengikuti sampai ke bioskop, mengambil gambar kami dan mengirimkannya ke Bang Faisal tapi untuk apa?
"Apa kalian mengikuti kami?"
"Tidak kok, untuk apa? Kalian mau me time.
Bekerja seperti biasa lagi-lagi bayangan laki-laki membuatku badmood. Aku tidak suka situasi seperti ini. Sepertinya pengaruh seseorang bisa membuat kinerja saya antara baik dan buruk.
Mulai sekarang aku harus melupakan semua yang pernah terjadi, aku tidak mau karirku terganggu hanya masalah seperti ini. Cinta yang kutanam layu sebelum berkembang. Dokter Nando sama sekali tidak muncul. Dokter Nando kan punya cewek sama-sama berkelas dan sangat cantik, siapalah aku mengharapkan orang Seperi dia, membayangkan saja aku ngeri.
Kata Bang Faisal, biarlah ku bekerja dulu, kalau ijazah sarjana sudah ku pegang, aku boleh mencari lelaki manapun yang ku mau, kalau dia mau.
Jam istirahat ku gunakan sebaik mungkin, Seperi makan dan sholat. Sedetikpun aku sudah tidak mau meninggalkan sholat. Ada ayah yang di alam sana sedang menunggu do'a anak yang sholeh. Tuntutan pekerjaan membuatku lalai tapi tak apalah dari pada tidak sama sekali.
Aku harus menghapus memori ku sama dokter Nando. Hapus semua foto, sosmed, cerita dalam catatan diary dan semuanya. Aku harus fokus mengejar cita-cita.
Hingga tiga tahun lamanya aku disini, tak banyak membeli barang karena semua itu untuk kuliahku di kota padang nanti. Ya, aku kembali ke kota padang mau kuliah di UNP. Angga juga mau kuliah kita barengan masuknya tapi di jurusan yang berbeda. Dia di Farmasi, aku di keguruan. Menjadi tenaga pendidik adalah cita-cintaku dari kecil.
Ingin mendidik anak bangsa, bukan anak sendiri tapi semua anak bangsa juga. Ilmunya akan menjadi Amal jariyah yang akan menolong kita di akhirat kelak. Aku tidak mau menjadi manusia yang sempit pikiran. Aku akan mendalami semua mata pelajaran agar tidak sesat dan sok pintar.
Next
__ADS_1