Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Bertemu kembali


__ADS_3

Merantau ke kepulauan Riau


#part33


Hari ini bekerja seperti biasa, aku ingin melihat calon karyawan baru itu, apa shela dan indira entah lolos entah tidak aku tidak tau. Kalau lolos entah bagaimana perasaan nya ketika melihat ku.


Sampai, kulihat ada 10 orang karyawan baru 5 laki-laki 5 perempuan. Oh, ternyata shela dan indira ada, apa mereka sudah lama kenal ya? Entahlah tidak tau.


"Tau gak kalian? Karyawan baru itu pengganti Seorang Diana loh."


"Enggak kok, sudah biasa perusahaan ini membukan lowongan setiap sebulan sekali." ujar seseorang bernama Anggi.


"Kata, staf nya iya, kemaren itu Diana di keluarkan besoknya perusahaan langsung membuka loker, sudah biasa kalau ada yang keluar,  besok perusahaan pasti buka lowongan lagi."


"Mungkin iya, ya,  sudah yok kita masuk nanti kena teguran."


"Ayok!"


Masuk, mereka memperkenalkan dirinya satu persatu, keduanya kaget melihatku berdiri manis di depannya mereka kompak senyum dan berusaha mengalihkan perasaannya. 


Bekerja seperti biasa tidak ada niat untuk menyapa mereka biarlah mereka yang menyapa duluan, aku tetap mengerjakan pekerjaan ku lebih baik dari hari kemaren agar tidak di tegur lagi.


Ternyata mereka sudah kenal, kulihat mereka kebingungan untuk mengerjakannya untung ada leader yang mengajari nya walau kadang suka membuat karyawan dongkol tapi itu semua di lakukan untuk kebaikan bersama bukan pribadi.


Siang waktunya makan dan sholat zuhur, demi menghemat maktu biasa aku menyempatkan diri untuk sholat seperti biasa ternyata antriannya belum kelar sedangkan lauknya hampir habis. Lekas mengambilnya agar tidak ketinggalalan, makan bareng alda tiba-tiba mereka mendekat.


Ingin aku bertanya tapi aku urungkan karena kulihat muka keduanya tidak bersahabat, entah apa salah kami, ini Seperti bukan indira yang dulu cepat bangat berubahnya. Alya juga seperti sinis aja melihatku, Astagfirullah, kenapa Indira juga memandang ku dengan sinis, tak pernah berkedip tak pernah pula matanya kelelahan memperhatikan aku makan. Akukan jadi salah tingkah. Sepertinya selepas Diana ada penggantinya yang Seperti copyright nya Diana.


"Hai, Nana, apa kabar?" Tiba-tiba, Alya bertanya masih sama pandangannya seperti memandang musuh bebuyutan.


"Kabar baik alhamdulillah, kamu?" sebisa mungkin aku harus menjawabnya setenang mungkin.


"Kabar ku juga baik, udah lama kita gak jumpa ya?" sepertinya mereka berdua 11 12 deh kompak memandang ku dengan cara sinis.


"Iya, gitu deh, kemana aja kamu selama ini?"


"Aku pulang kampung, ibuku sakit gak ada yang ngurus sudah sembuh baru ke batam lagi, kamu udah berapa lama kerja di si sini?"


"Udah 7 bulan."


"Oh, sebulan setelah aku pulkam ya?"


"Iya, aku kirain kamu kemana, pulang toh, kok gak bilang sih?"


"Ya, mendadak.


Selesai makan lekas kembali ke tempat kerja, gak ada niat untuk duduk sejenak di dapur malah di pandang mulu sama mereka yang tiba-tiba datang menampakkan wajah yang serius. Alda mengikuti ku menanyakan banyak hal. Malas menjawabnya takut alda Seperti Aira nantinya.


"Na, mereka Alya dan indira yang kamu cari kan? Sebab nama lengkapnya mirip."

__ADS_1


"Iya, mereka orangnya, yok! kerja lagi."


"Gimana perasaan mu, setelah bertemu mereka Na?"


"Biasa aja, udah ah, yok!"


"Mereka sepertinya kurang suka sama kamu, Na?" lagi-lagi Alda bertanya sepertinya Alda tidak akan berhenti sebelum dapat jawaban nya.


"Biarlah, mending fokus sama kerjaan kita aja nanti di tegur lagi."


"Yuk!"


 


Bekerja Seperi biasa, mereka berdua berusaha untuk mendekatkan diri pada yang lainnya. Tak lupa pula  mengajak menggunjing dan tebar pesona. Tapi, bodo amat, tetap fokus sama kerjaan ku.


Seperti biasa pukul 17.00wib pulang di jemput Bang Faisal, tapi yang datang Dokter Fernando


Memakai motor ninjanya tapi aku tidak biasa di jemput lelaki asing ini, teman kerja banyak yang bertanya "siapakah lelaki yang menjemputku?" tentu mereka tidak tau sebab Dokter Nando tidak membuka helmnya, kalau nampak wajah pasti semua tau karena dokter ini yang merawat Diana kemaren.


"Pulang, Nazalia Nazeefa?" Tiba-tiba Dokter Nando menyebut nama asliku.


"Iya, pak dokter."


"Naiklah!" mana bisa aku naik, belum pernah naik motor tinggi ini bisa terjengkang dan tidak pernah boncengan sama laki-laki asing.


"Tidak pak!" gak usah, terima kash aku pulang sama teman aja!"


"Tunggu! Da, Aku pulang bareng kamu?"


Alda cepat bangat menghilangnya jadi berdua aja disini yang lainnya sudah pada OTW.


"Udah naik aja, saya mengantarmu pulang." Gimana caranya aku menolak ajakan pria ini. 


"Gak usah nunggu Bang Faisal aja." entah benar entah tidak, tapi benar juga sih kadang bang Faisal lembur tidak bilang-bilang.


"Bang Faisal lembur, Naiklah.


"Oh! Ya, sudah." Motor melaju dengan kecepatan sedang. Dokter Nando seperti nya tidak banyak bicara, misterius bangat.


"Na, kita makan dulu ya?"


"Tidak usah, langsung kerumah aja." 


"Gak apa-apa Na!"


"Gak usah, lambat pulang gak mau di tanyain mulu sama kak shela."


"Kamu terlalu penurut ya?"

__ADS_1


"Lebih baik begitu." Malas bangat di ajak hangout sama laki-laki. Untuk sekarang ini belum nyaman juga. Aku tidak usah menjalin komitmen dulu, fokus ku cuma satu yaitu mau kuliah.


"Baiklah." Aku minta dokter Nando mengantar hanya sampai di jembatan biasa dari pada ketahuan sama orang rumah bisa jadi mereka ada di persimpangan jalan pulang.


"Pulang dulu dokter."


"Iya." 


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, udah pulang Na!"


"Iya, kak, FATIIH!" Ayok kesini dekat tante!" Fatih berlari ke arahku dan menciumnya bertubi-tubi. Membawanya bermain keluar sebentar.  Mataku memandang Seperti ada sosok dokter nando di ujung gang. Untung bukan di gang depan rumah, bisa ketahuan bang faisal nanti.


Dokter Nando senyum dan lanjut pulang. Misterius bangat kayaknya.


Pulang kerumah, istirahat sejenak, menjalani rutinitas seperti biasa, chat sama Dokter nando dan lainnya, malam ini WA ku sudah seperti Asrama putri ramai bangat yang kepo sama siapa pria menjemputmu tadi, di grub ada yang mengatakan itu Bang Faisal, ada juga yang ragu.  Malam ini lebih lama tidur hingga terdengar Bang Faisal pulang Jam 11.00wib. sidah biasa pekerja di kota ini pulang tak teoat waktu, Aku juga. 


Bangun pagi seperti biasa, rasanya penampilanku kali ini lebih rapi dari kemaren, tak lupa skincare hingga menyerupai seorang aktris korea memang kata orang aku mirip salah sati aktris korea.


Berangkat seperti biasa tiba di kantor, lagi-lagi mereka memandang ku dengan sinis, entah apa salahku sejak mereka masuk sudah seperti itu bagaimana nanti?"


Ah, biarlah, bodo amat.


"NANA!" terdengar suara seseorang memanggil ku dari seberang.


"Iya, Alda!"  berlari menuju ke arah ku dengan ngos-ngosan, pakaian pun sepertinya Amburadul.


"Gimana pulangnya kemaren?" 


'Biasa aja, kenapa emangnya?"


"Enggak ada kok, pasti perasaannya dag dig dug ya?" Alda tau aja perasaanku.


"Ah, biasa aja kok, jangan berlebihan deh, tuh kenapa pakaianmu berantakan banget?"


"Memang seperti ini kok, ku lihat pakaian mu sangat rapi hari ini, sudah banyak perubahannya kayaknya nih, pakaian aku masih sama seperti kemaren kamu itu yang udah banyak perubahannya ya karena hari ini kamu sedang jatuh cinta, itu juga membuat kamu pelan-pelan memperhatikan diri mu sendiri." 


Bisa- bisanya  Alda membaca situasi ku saat ini, memang sih, semenjak kenal dengan dokter nando, aku lebih memperhatikan diri sendiri. Kalau jatuh cinta, itu yang aku takutkan, jangan deh, nanti patah hati gak ada obatnya.


"Ah, biasa aja, jangan ngaco deh, niat aku kesini kamu masih ingat kan?"


"Ingat kok, bisa aja apa yang orang rencanakan tidak seperti kenyataannya di masa depan banyak kok yang kayak gitu."


"Aku jangan deh, Ingat ya, cinta itu memang ada, tapi bertahan hanya sesaat apalagi seusia kita ini rentan jatuh cinta rentan di permainkan laki-laki, aki gak mau itu terjadi si bisa mungkin tidak jatuh cinta padanya hanya sebatas kagum aja, siapa lah aku hanya karyawan biasa yang belum tau masa depan nya dia sudah jelas sudah dewasa, punya gelar dan sebentar lagi pasti akan menikah sama yang sederajat dengannya."


"Jodohkan hanya tuhan yang tau, Na, memangnya kenapa kalau seseorang bergelar itu mau menikahi kekasihnya yang gak punya gelar? Toh, cinta tak memandang kasta.


"Iya, jodoh memang tuhan yang tau, tapi untuk itu aku belum berani berpikir ke sana. Cinta memang tak memandang kasta, tapi oelan-pelan cinta itu akan luntur nampaklah satu persatu kesalahan kita. Ya, sudah lah. Jangan ganggu aku dengan ocehanmu yang tak bisa mengganggu moodku hari ini.

__ADS_1


"HAI!" KALIAN." Siapa lagi ini!"


Next...


__ADS_2