Merantau Ke Kepulauan Riau

Merantau Ke Kepulauan Riau
Motivasi kak shela


__ADS_3

"Assalamualaikum," setiba dirumah mengetuk pintu dan mengucap salam biasa sebagai etika kita seorang muslim atau bagi yang non muslim bisa juga mengucapkan salam untuk menyapa yang non muslim.


"Waalaikumsalam, dah pulang kamu Nana, gimana perjalanan mu hari ini?"


"Ya, gitu lah kak," dengan suara lesu aku menjawab ala kadarnya.


"Gitu gimana?"


Ya, kak shela tentu bingung sama kataku


"Susah kak, kukira semudah yang ku lihat di sinetron,"


"Kamu ini, Na, mana ada semudah di sinetron, itu hanya sinetron,"


"Ya, kak, Fatih mana?"


"Fatih tidur, ya gitu lah, Na, untuk mendapatkannya harus dengan perjuangan,''  Aku menatap kak shela dengan pandangan serius, kata-kata "perjuangan" sangat berat yang harus di lakukan oleh orang sepertiku.


"Oh, ya, kakak gimana dulu?" Aku penasaran sama perjuangan kak shela dulu.


"Kakak dulu 5 bulan mencarinya baru dapat,"

__ADS_1


"Hah, iy kak! 5 bulan lama bangat," tentu saja Aku kaget, waktu yang digunakan untuk anak perantauan tidak boleh main-main, kalo main-main menggunakan waktu, bagaimana kehidupan selanjutnya.


"Iya, gitu lah, Alhamdulillah dapat juga, orang lain banyak yang tidak dapat, mereka kerja apa aja yang penting halal ada yang pulang kampung juga,"


Kok, gitu kak?" 


"Iya, karena orang merantau itu harus serius, niat yang bagus, berusaha dan berdo'a, tidak boleh dengan niat setengah-setengah apalagi untuk main, ya tidak akan dapat,"


"Niat Aku serius kak, mau mandiri, tidak membebankan orangtua, mau mencari biaya untuk kuliah," tentu Aku tak lupa dengan tujuanku kesini untuk apa tentu bukan untuk main-main.


"Ya, kata-katamu memang seperti itu, tapi hati kamu mengatakan sebaliknya," lagi-lagi Aku dibuat melongo sama ucapan kak shela.


"Memangnya, tau apa sih kakak terhadap isi hatiku,"


Nana berpikir apa yang dikatakan oleh iparnya ini benar adanya, dia ragu, kurang percaya diri, tertekan dan terpaksa. Nana memang kurang serius. Hatinya berkata ingin menginjak negeri orang sambil piknik dan bukan untuk bekerja, sambil mencari kerja kalau dapat dia nama kan Rezeki.


"Enggak kok kak, Aku serius, jangan lah kakak bilang Aku tidak serius."


Tentu Aku masih tidak terima dengan ucapan shela barusan.


"Nana, kakak ini sudah jauh perjalanan, pelajaran, dan pergaulan dan pengalaman loh, bukan dibatam aja, tapi sudah pernah berada di beberapa kota besar, beda orang beda karakter, ribuan orang yang kakak temuan ribuan pula karakternya. Kamu jangan kira kakak tidak tau,"

__ADS_1


"Ih, kakak, ini, sekali lagi ya kak, Aku itu serius bangat, bukan main-main, niat Aku itu tulus ingin mencari uang sendiri tampa membebankan orangtua tua kak, apalagi Ibu seorang janda tak mungkin kita anaknya sudah dewasa ini bergantung mulu sama Ibu,"


Lagi-lagi gak shela tidak percaya dengan ucapan aku, harus bicara apalagi agar kak shela percaya.


"Ya, kata-kata yang keluar sebenarnya bagus bangat, kata-kata itu do'a, Niat juga do'a, perbaiki niat dulu, bahwa "Nana, berniat merantau mencari pekerjaan untuk biaya kuliah." Kosongkan pikiran, jangan mikir macam-macam, jangan pikir kamu tidak akan dapat, jangan pikir hasilnya, Niat aja dulu, usaha, ikhtiar, berdo'a, libatkan Allah dalam setiap urusan. Kamu pasti lupa akan berdoa'a seperti itu. Jujur aja deh apa yang diucapkan dalam hati seseorang kakak tau loh mudah bagi kakak untuk mengetahuinya."


"Udah kayak tuhan aja kakak ini mudah mengetahui isi hati orang,"


"Kan udah kakak bilang, kakak ini sudah jauh pelajaran, perjalanan, pergaulan dan pengalaman. Semua orang yang kakak kenal kakak sudah hafal sama karakternya termasuk kamu. Ayo lah kalau mau kerja niat lah  dalam hati jangan hanya di mulut aja, disini kamu tidak sendiri, ada abang, kakak, sama Fatih. Kamu juga merasa sendiri dan tinggal sama orang lain disini."


Apa tadi?" merasa tinggal sama orang lain?" entahlah Aku juga bingung, di satu, Aku tidak akrab, tidak dekat dan jarang berkomunikasi sama Bang Faisal. Tib disini juga jarang bercengkrama sama Bang Faisal malah sering berkecengkrama sama ipar. Yang kedua, Aku merasa dilema.


"Kenapa diam?" Santai aja, di sini ada Abang, jangan anggap kami orang lain, santai aja, anggap aja berada dirumah sendiri, memang perasaanan orang yang pertama kali memutuskan merantau itu ya kebanyakan seperti kamu. Menjelang terbiasa aja, kalau sudah dapat kerja, sudah gajian, sudah mampu membeli barang yang mereka mau makin betah deh disini,"


"Tuh, akhirnya kakak tau," tentu saja sudah tau udah banyak pengalaman mah.


"Ok, gimana?" ubah niatnya dulu ya, niat, doa, ikhtiar, berusaha, dan jangan mengeluh, pantang menyerah untuk yang berjuang untuk sampai di titik paling atas,"


"Ok, kak, Aku siap."


"Ya, bagus.

__ADS_1


Hahaha.


Next....


__ADS_2