
Setelah sampai aku pun keluar setelah sopir membukakan pintu mobil untukku.
“Terima kasih!“ ucapku.
“Tidak apa – apa tuan putri,“ responnya.
Aku sangat terkejut saat melewati jalan Istana. Ternyata bukan hanya keluarga ku dan penghuni Istana seperti prajurit dan dayang, tapi rakyat juga menyambutku dengan sorakan yang membuat aku sangat terharu.
Sesampai dipintu diperbatasan jalan, aku melihat ibunda dan ayahanda sedang menungguku dengan senyuman yang tak pernah berhenti untuk merekah.
Aku langsung berlari menghampiri mereka, kemudian memberikan mereka pelukan terhangatku.
Aku tak mampu lagi membendung tampungan air mataku, hingga ia mulai turun dengan deras melalui pipiku. Sorakan rakyat semakin keras saat aku memeluk ibunda dan ayahanda.
“Terima kasih untuk rakyat ku yang tercinta, karna kalian sudah bersedia menyambutku!!!“ teriakku dengan linangan air mata.
“Sama – sama putri Hamra,“ ucap mereka serentak dengan suara lantang.
Tak berapa lama mereka pun bubar setelah aku mengucapkan terima kasih, lalu mereka mulai menyalami ku satu persatu. Setelah selesai aku, ibunda dan ayahada masuk ke dalam Istana.
“Ibunda yang lainnya kemana?“ tanyaku sedih.
“Kamu tidak perlu murung sayang! karna mereka sudah menunggu mu didalam Istana, mereka tidak ingin keluar karna banyak sekali rakyat.“ jawab ibunda sambil membelai kepalaku.
“Memangnya kenapa?“ tanyaku bingung.
Ibunda dan ayahanda hanya terkekeh mendengar pertanyaanku.
“Mereka hanya belum siap saja Hamra! kamu kan tau sendiri, bahwa sanya kaka mu itu mempunyai sifat yang sangat pemalu.“ jawab ayahanda sambil tersenyum kearahku, aku pun membalas senyumannya.
Sesampainya didepan pintu prajurit langsung membukakannya dengan hormat.
“Duar!“ suara letusan balon mulai terdengar dari dalam.
“Selamat kembali ke Istana tuan putri!“ ucap mereka yang tak lain adalah kak Aisyah dan Kak Arfah.
Aku hanya tersenyum menaggapi mereka lalu langsung memeluk kak Aisyah dan kaka iparku.
Setelah puas memeluk mereka, aku pun pamit untuk beristirahat dikamar. Aku merasa seperti ada yang kurang, tapi aku tidak tau apa. Aku benar – benar bingung karna aku tidak tau apa yang sedang mengganjal di hatiku.
Saat aku sudah sampai dilantai atas, barulah aku mengingat setelah melewati satu kamar sebelum kamarku.
“Kak Ahmar!“ batinku, tapi aku tak mau memikirkannya dulu karna aku masih penasaran dengan kado pemberian keluarga angkatku.
Aku pun mengeluarkannya dari dalam koperku secara perlahan lalu membukanya.
“Ya Allah! ini begitu indah!“ ucapku kagum saat kuketahui bahwa didalam kado tersebut ternyata berisi sebuah gaun yang sangat indah dengan campuran tiga warna.
Pink, biru muda dan hijau muda.
__ADS_1
"Seperti inilah gaunnya, warna yang pas bayangin aja ya." 😅
Gaun tersebut berkerlap – kerlip saat mengenai sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarku, meskipun aku tidak tinggal disini tapi kamarku selalu dibersihkan agar tak berdebu dan dibuka jendela supaya udara baru bisa masuk kedalamnya.
Kini aku menyimpannya di lemari koleksi bajuku, kemudian aku langsung membaringkan tubuhku yang terasa sangat lelah.
Saat lelahku sedikit hilang aku langsung bangkit dari kasur empukku untuk melaksanakan sholat dzuhur karna azan baru saja berkumandang dari mesjid kami.
Usai melaksanakan sholat aku kembali menghempaskan tubuhku keatas kasur lembutku tapi mimpi indahku terhenti saat ketukan pintu mengganggu indra pendengaranku.
Dengan susah payah aku melawan rasa kantukku dan langsung bergegas membuka pintu.
“Kaka ipar!“ ucapku terkejut.
“Iya cepat turun sana! makan siang dulu, nanti sakit perut!“ perintahnya sambil terkekeh geli ketika melihat ku keluar dengan rambut yang masih acak – acakan.
Dengan cepat aku langsung masuk dan menarik asal kerudung kurungku untuk mengenakannya.
“Kaka kok gak bilang – bilang sih? auratku kan jadi terlihat,“ dengusku saat pintu telah kubuka kembali dan Arfah masih setia menungguku.
“Ya sudah ayok,“ ajaknya.
Aku yang masih menggunakan baju piama dengan kerudung kurung hitam mulai turun kebawah, diperjalanan aku membuka topik pembicaraan.
“Kok gak kak Aisyah aja sih yang naik buat panggil aku?“ tanyaku.
“Kamu nih lucu banget sih!“ gemasnya sambil mencubit pipiku.
“Kan kamu tau, kalau kakamu lagi ngandung ponakan kamu!“ sambungnya.
Aku yang awalnya sibuk mengusap pipiku yang perih, kini jadi berhenti sambil membulat kan mata sempurna karna tak percaya dengan apa yang aku dengar.
“Yang benar kak?“ tanyaku.
Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Tapi kok tak terlihat sih?“ komenku.
“Hahaha! itu karna ia selama hamil tua selalu menggunakan baju yang longgar,“ jelasnya.
“Ya ampun!“ responku sambil menepuk dahiku.
Setelah sampai diruang makan, aku langsung duduk dikursiku seperti biasa. Mataku terus saja tertuju pada kak Aisyah karna aku sangat kesal, bisa – bisanya kabar bahagia itu tak diberitahukan kepadaku.
Aiyah yang merasa terus diperhatikan merasa tidak enak hati.
“Ada apa adikku? kenapa kau melihat kakamu seperti itu?“ tanyanya lembut.
__ADS_1
“Au! pikir aja sendiri,“ dengusku kesal sambil terus mengunyah makananku.
“Kok anak ibunda ngomongnya kayak gitu?“ tanya ibunda sambil menatap kearahku.
Arfah yang mengerti kenapa aku seperti itu langsung memberi tau kekasihnya.
Saat kak Aisyah sudah dibisikkan sesuatu oleh suaminya, ia jadi tertawa terbahak – bahak.
“Oh! ternyata kamu merajuk gara – gara kaka gak ngabarin kamu kalau tak lama lagi kamu bakal punya ponakan?“ tanyanya sambil tersenyum, sedangkan aku hanya mengacuhkan ucapannya.
“Ya udah deh! kaka minta maaf! karna kaka gak sempat ngabarin kamu,“ sambungnya tulus.
“Apa gak salah dengar? gak sempat? ini zaman moderen kok! kan bisa juga kasih tau pake hp. Apa gunanya hp kalau gak dimanfaatkan!“ dengusku.
“Gak boleh kayak gitu Hamra! kan kak Aisyah udah minta maaf!“ nasehat ayahanda.
“Terserah!“ responku yang membuat satu meja makan hanya menggeleng – gelengkan kepala ketika melihat sikapku.
“Oh ya! ngomong – ngomong kak Ahmar kemana?“ tanyaku dengan wajah datar.
“Kangen ya!“ goda Arfah.
“Apaan sih? cuma nanya doang! kan tumben banget tuh anak gak nongol – nongol,“ sewotku.
"udah gak usah ngelak! kamu pasti rindukan sama kak Ahmar?“ tanya kak Aisyah yang membuat selera makanku menghilang.
“Gak papa kalau rindu bilang aja... Nanti ibunda telponin ya? ibunda bakal bilang bahwa Hamra lagi kangen banget sama kamu!“ goda ibunda yang membuat pipiku merona.
“Ih! apa an sih ibunda!“ elakku.
“Gak usah mengelak! kamu kan memang sudah jatuh cinta juga sama pangeran batu karang itu, alias Ahmar. Apa lagi dia orang nya sesuai dengan selera kamu, karna bisa Menunggang Kuda dan Memanah.“ goda ayahanda yang membuatku tak mampu lagi menahan senyumanku yang sudah sejak tadi kutahan.
“Tuh kan! apa kami bilang,“ ucap Aisyah dan Arfah bersamaan.
“Ih! apaan sih kak Aisyah sama kaka ipar? rusuh nih! ikut campur aja,“ dengusku sambil berusaha menyembunyikan rona merahku tapi tetap saja tidak bisa.
“Gak usah disembunyiin! udah nampak kok rona merah itu sejak tadi,“ ucap Arfah yang kembali membuat ku terdiam kikuk.
"Aduh! mampus aku lama - lama disini! bisa jadi sumber hiburan lagi," batinku sambil berlalu menaiki tangga setelah menghabiskan makananku.
"Yah boneka kita kabur!" ucap kak Aisyah.
"Apa kaka bilang?" tanyaku sambil memberikan tatapan nanar, sehingga membuat Aisyah jadi mengernyitkan dahi.
"Menyebalkan!" batinku sambil berlalu dari hadapan mereka.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇