
Pandanganku mulai pudar, mulutku pun tak sanggup lagi untuk berteriak karna aku sudah tak sadarkan diri. Saat membuka mata ternyata aku sudah berada didalam kamarku.
Kepalaku masih terasa sangat pusing.
“Aisyah kau baik – baik saja?“ tanya mereka kepadaku.
Aku hanya mampu mengangguk sambil memaksakan sebuah senyuman terpancar dari bibirku yang telah pucat.
“Bagaimana bisa aku ada didalam kamarku? bukannya aku sudah jatuh dan hampir mati ya?“ tanyaku dengan suara serak.
“Apa yang kamu katakan Aisyah? kamu baik – baik saja! lihat, kamu tidak kenapa - napa kan? tolong tenang yah! semalam Brago yang telah menyelamatkanmu, untung saja ia mempunyai firasat aneh tentangmu hingga akhirnya ia melihat mu dan langsung menolongmu." jelas Rendi.
“Terima kasih Brago,“ ucapku lemah.
Tak berapa lama kemudian Brago mulai berusaha sedikit demi sedikit untuk menyembuhkanku dengan kekuatannya yang baru ia pelajari dari gurunya yang masih ia rahasiakan dariku.
Hingga tubuhku akhirnya mulai berangsur - angsur membaik.
“Kawan! aku memimpikan sesuatu saat aku pingsan tadi malam, dan dalam mimpi itu ada seseorang yang memakai jubah hitam datang menghampiriku sambil berkata aku adalah penjaga hutan Hantrai sebelum masuk kekawasan laut yang kalian tuju." beritahuku.
"Inilah gambaran kostumnya." 😧
__ADS_1
"Ini adalah peta yang Aisyah dapatkan dari sijubah hitam." 🙄
"Jadi sebelum kalian masuk kesitu kalian harus mendapatkan tiga benda yang aku pinta, jika kalian tidak dapat mengumpulkan tiga benda tersebut maka pintu masuk kekawasan laut tidak akan pernah terbuka."
"Dan berhati – hatilah! setiap kalian ingin mengambil satu benda yang ada dibeberapa tempat didalam hutan itu maka kalian harus menghadapi hewan yang sangat ganas, mereka bertugas menjaga sesuatu yang akan kalian ambil."
"Jika kalian kalah dironde pertama, maka kalian akan kembali lagi pada ronde masuk pintu pertama. Jika kalian kalah dironde kedua, maka barang yang pertama kalian dapatkan akan menghilang dan kalian harus mengulangi permainan pertama kalian untuk mengulang permainan tersebut."
"Tapi jika kalian kalah dironde ketiga kalian tidak akan pernah bisa mengulangnya lagi, kalian akan dikembalikan ketempat asal kalian dan sebesar apa pun kekuatan kalian kalian tidak akan pernah bisa kembali kesini lagi.“ akhir ceritaku.
Mereka yang mendengarkan ceritaku mulai merinding begitu hebat, mereka yakin tidak yakin dapat mengalahkan tantangan tersebut dengan mudah karna mereka tidak memiliki kekuatan.
Saat aku sedang berjalan hendak menyentuh gagang pintu untuk membuat daun ini kembali ketempat asalnya mereka, dalam sekejap tiba – tiba saja tanganku dicegah dan aku sangat terkejut saat melihat siapa orang yang mencegahku.
“Brago? untuk apa kamu menahanku?“ tanyaku bingung.
Brago masih saja tidak menjawab, suasana jadi terasa sangat hening usai aku menceritakan mimpiku.
Ya! terdengar sulit untuk dilewatkan tapi aku tak ada pilihan lain selain membawa mereka kembali sebelum mereka semua terbunuh dan hanya meninggalkan jasad yang sudah tak bernyawa.
"Tidak! tidak! tidak! aku tidak sanggup,“ rintihku sambil menggeleng – gelengkan kepalaku berulang kali.
__ADS_1
Brago tanpa pikir panjang langsung meletakkan kedua talapak tangannya diatas pundakku.
“Aisyah ku mohon tatap mataku! kumohon tatap mataku Aisyah kumohon! aku tau kamu mencoba untuk melindungi kami, aku tau ini masalahmu bukan masalah kami! tapi kita ini kan adalah temanmu dan seorang teman tak akan pernah rela membuat temannya terluka sekecil apa pun Aisyah. Aisyah aku tau kekuatan ku bukan lah apa – apa, dan kau hanya ingin menjadi seorang putri yang mampu mensejahterakan rakyatmu." ucapnya.
"Jadi aku mohon dengan rasa hormatku kepada seorang putri Raja yang telah mau membantu menyadarkanku untuk ikut membantumu, aku rela mati dan menyerahkan diriku. Aku mau engkau angkat aku menjadi prajuritmu walau pun aku harus mati Aisyah aku rela, disana kan tempat orang Islam juga! aku pasti juga akan mendapatkan pahala syahit jika aku mati hanya untuk bertarung agar agama Islam bisa berjaya kembali Aisyah.“ pintanya.
Lidahku seakan tak mampu lagi untuk berkata – kata. Air mataku pun sudah mulai terlihat, tubuhku juga bergetar begitu hebat.
“Bagaimana ini? apakah aku harus membiarkan mereka untuk mengikutiku berperang? nanti bagaimana dengan kondisi mereka selanjutnya? aku pasti akan merasa sangat terpukul jika mereka kenapa – napa,“ batinku .
“Iya Aisyah! kami pun ingin menjadi pendampingmu! kami mohon,“ putus yang lainnya bersamaan.
Akhirnya mau tidak mau aku mulai menganggukkan kepalaku, dan mereka pun saking bahagianya langsung berkumpul kearahku dan memelukku dengan erat. Sontak itu membuatku sangat terkejut dan terharu.
“Baiklah! aku akan memperlihatkan peta yang diberikan sijubah hitam itu kepadaku,“ ucapku lalu kami pun mulai menyimak dengan seksama sambil membuat strategi untuk mengalahkan lawan.
“Baiklah kawan! kita harus bersiap – siap karna tak lama lagi kita akan sampai kehutan itu, dibendera pertama yang berwarna merah.“ beritahuku.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇