Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 6


__ADS_3

     Saat mengucapkan amin, aku pun mulai membuka mataku perlahan - lahan. Mataku sedikit menyipit tak kala cahaya lampu mulai berusaha masuk kepenglihatanku, aku baru tersadar, ternyata kini tubuhku sedang berbaring diatas kasur yang ada di UKS.



          "Disinilah Aisyah berada." 🤕


     Aku merasakan ada sesuatu yang melekat ditangan kiriku, aku sangat terkejut, ternyata mimpi itu betul - betul nyata, aku kira hanya bunga tidur.


     Buktinya gelang itu masih melekat dengan manis ditangan kiriku, aku pun mulai mengelus kepala Eris dengan lembut hingga ia terbangun dan senang ketika melihatku kini telah sadar.


     "Aisyah! akhirnya kamu sadar juga setelah beberapa jam pingsan, aku khawatir banget tau sama kamu." ucapnya mulai memelukku dan aku membalas pelukannya sambil tersenyum. Namun, pandangannya tertuju ke arah gelang yang ada dipergelangan kiriku.


     "Sejak kapan kamu suka pakai gelang? biasanya tangan kamu polos banget,"  tanyanya.


     Jantungku mulai berdetak kencang saat ia menanyakan tentang gelang ini, kini aku mulai berpikir keras untuk mencari alasan tapi yang ada kepalaku malah merasakan sakit karna masih lemas dengan peristiwa tadi.


     "Heiiii! Jawab dong!" dengusnya mulai memecahkan lamunanku.


     "Oh! ini tadi ada temanku yang datang berkunjung dari kelas lain, dia yang memberikan gelang ini untukku." ucapku terpaksa berbohong.


     "Lho ! kok aku bisa enggak tau sih?" tanyanya heran.


     "Lah kan kamu tidur dari tadi Eris," serangku.


     Ia pun hanya tersenyum dan menyadari pertanyaan bodohnya.


     "Oh iya! aku kan ketiduran tadi, maaf yah?" ucapnya malu lalu langsung memalingkan  wajahnya sambil menutupnya dengan kedua tangannya.


     "Aduh," rintihku perih karna rambutnya mengenai mataku.


     "Oh! maafkan aku Aisyah," ucapnya mulai merasa kesal pada dirinya sendiri karna rambutnya tak sengaja mengenai mataku.


    "Tidak apa-apa kok, cuma merah sedikit." ucapku setelah melihat mataku sendiri dengan kaca kecil berbentuk bulat yang telah diberikan olehnya kepadaku.


     "Yang benar?" tanyanya memastikan bahwa jawabanku itu memang serius.

__ADS_1


     "Iya Eris! buktinya aku tidak menangis kan?" tanyaku.


     "Iya sih! " responnya mulai mengerti dan senang dengan jawaban yang telah aku berikan.


     "Aisyah kamu kan belum sholat," ucap Eris mengingatkan.


     "Benarkah?" tanyaku.


     Aku pun langsung melihat ke arah jam dinding di UKS, jarum jam telah menunjukkan pukul 13.30 WIB.


     "Astagfirullah Eris!" seruku.


     "Apa?" tanyanya ikut - ikutan panik.


     "Kamu kok telat banget sih ingetin aku?" protesku.


     "Ya namanya orang baru sadar masak langsung disuruh gerak, walau matamu sudah terbuka dari beberapa menit yang lalu tapi kamu masih terlihat lemas. Emangnya langsung sanggup jalan buat ambil air wudhu?" tanyanya.


     "Iya sih! maaf deh," ucapku malu sambil menyatukan kedua tanganku didepan dada seperti tarian India.


     "Eh! eh!  enggak boleh ketawa berlebihan, nanti ilmunya hilang lho." nasihatku.


     "Yang benar?" tanyanya menyelidik.


     "Ya - iyalah masak iya - iya dong!" ucapku bercanda.


     "Kamu tau gak? kalau Tuhanku benci dengan orang yang suka tertawa berlebihan, jadi kalau aku tertawa aku akan menutup mulutku kuat - kuat sehingga tidak mengeluarkan suara." jelasku.


     "Maafin aku deh! aku janji akan tertawa dengan biasa saja," ucapnya mulai lesu.


     "Jangan sedih dong!" balasku memecahkan kelesuhannya.


     "kan aku sebagai teman yang baik hanya ingin membawa temanku kejalan yang baik juga," terangku.


     "Ya udah aku gak bakal lesu dan sedih lagi," ucapnya berusaha tersenyum.

__ADS_1


     "Kamu gak ikhlas ya senyumnya?" tanyaku cemberut hingga tanpa sadar aku telah menggembungkan pipiku.


     "Iya - iya! mau aku praktek lagi?" tawarnya.


     "Maulah! coba tunjukin aku mau lihat senyuman si cantik, gimana sih?" godaku.


     Karna geram ia pun mulai membentuk bibirnya membentuk huruf " u " hingga menunjukkan dua lesung pipinya yang terlihat sangat manis.


     "Nah! itu baru namanya Eris bella," pujiku senang.


     "Kalau merayu jujur deh! emang kamu jagonya," puji Eris.


     "Tumben diakui! biasanya cari cara biar tidak terlihat kagum sama aku," cibirku.


     "Dasar! kepedean kamu," dengusnya.


     Aku yang dibilang begitu jadi semakin merasa kesal dengan ucapan Eris.


     Karna merasa salah, Eris pun mulai mencari cara agar aku tak semakin kesal kepadanya.


     "Yang penting!" serunya.


     "Gak ada yang penting - penting!" balasku kesal tanpa peduli bahwa semangatnya telah hilang akibat ucapanku.


     Tiba - tiba dokter yang mengurus siswa dan siswi di UKS pun datang dan mulai mengecek kondisiku, beruntung hari ini tidak ada yang sakit jadi dokter bisa hanya fokus untuk mengobatiku.


     "Sepertinya kamu sudah sehat, jadi infusan ini sudah boleh untuk dilepaskan." ucap dokter sambil tersenyum.


     Hatiku sangat senang saat mendengarkan penuturan dari sang dokter perempuan itu, tangannya kini bergerak untuk melepaskan jarum infus yang menusuk kulitku setelah meletakkan kapas yang telah ditaruh alkohol agar darahku dapat membeku sesaat sehingga aku tidak merasakan rasa sakit sedikit pun.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2