Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 61


__ADS_3

     Jam telah menunjukkan pukul tiga malam. Aku terbangun seperti biasa untuk melaksanakan sholat Tahajjud. aku merasa sebuah benda hangat melingkar dipinggangku, saat aku membuka mataku aku sangat terkejut.


     Tapi aku berhasil menahan teriakanku karna aku telah membungkam mulutku dengan tanganku.


     Bagaimana tidak? wajahku dengan wajah Ahmar hanya berjarak beberapa senti saja, sedangkan benda hangat yang melingkar dipinggangku adalah tangan Ahmar. Aku hanya mampu beristifar beberapa kali.


     “Sebenarnya apa sih yang terjadi sebelumnya? kenapa aku jadi tidak ingat,“ batinku sambil berpikir keras.


      Memoriku mulai berputar lagi tentang kejadian semalam, pipiku langsung bersemu merah saking malunya.


     “Ya ampun! sepertinya aku benar – benar gak waras nih gara – gara cinta,“ batinku.


     Aku perlahan – lahan berusaha untuk bangkit, tapi tiba – tiba Ahmar malah menahan tubuhku dengan tangannya. Aku jadi kesulitan untuk bergerak.


     “Tolong jangan pergi kali ini saja,“ pintanya dengan suara serak.


     “Gak bisa kaka, tolong lepaskan aku. Dosa tau! kita kan bukan muhrim,“ jelasku.


     Ahmar yang masih setengah sadar tidak menghiraukanku, ia malah semakin melingkarkan kedua tangannya kepinggangku dengan erat dan langsung membawaku kedalam pelukannya.


      Ia menompang dagunya diatas kepalaku. Aku yang dibuat begitu tak bisa lagi untuk berkutik, tubuhku jadi kaku dan sulit untuk digerakkan.


     Saat Ahmar telah tertidur pulas aku perlahan – lahan melepaskan pelukannya dan turun dari kasur lalu mulai membuka gagang pintu kamarnya perlahan kemudian berlari kekamarku setelah menutup pintunya kembali.


     Sesampai didalam kamar aku langsung mencaci diriku beberapa kali.


     "Bagaimana bisa itu semua terjadi? aku jadi merasa kesal pada diriku sendiri, seandainya aku bisa menahan rasa kantukku semalam pasti ini semua tidak akan terjadi. Untung kak Ahmar gak macam – macam sama aku,“ ucapku mulai was - was sambil beberapa kali mengacak – ngacak rambutku sendiri akibat frustasi.


    Setelah mengikat rambut asal, aku masuk kekamar mandi untuk berwudhu dan melakukan sholat Tahajjud. Dalam doa tak henti – hentinya aku memohon ampun dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.


     Selesai berdoa aku mengusap kedua telapak tanganku kewajah dan kembali tertidur. Untuk berjaga – jaga tak lupa aku mengunci pintu kamarku, karna masih merasa ngantuk aku kembali membaringkan tubuhku keatas kasur.


     Setelah membaca doa aku kini telah tertidur dengan nyenyak berbalut selimut tebal yang hangat.


________________________________


     “Allaahu akbar Allaahu akbar,“ suara azan yang berkumandang mulai masuk melalui pendengaranku.


     Aku yang masih mengantuk mulai berusaha bangkit untuk menyikat gigi dan mengambil wudhu.

__ADS_1


     Setelah itu aku bergegas menggelar sejadah dan melaksanakan sholat subuh. Lain halnya dengan Ahmar, saat ia mendengar suara azan dari radio Hamra yang berbunyi sangat keras ia malah mencari sosok yang sepertinya telah hilang dalam dekapannnya.


     Siapa lagi kalau bukan Hamra. Ya! gadis itu telah membuat nya jadi mabuk akan cinta.


     Setelah benar – benar sadar ia bangkit dari kasurnya saat mengetahui bahwa gadis itu sepertinya telah kembali kekamarnya.


     Ia pun masuk kekamar mandi untuk menyikat gigi dan berwudhu lalu bergegas melaksanakan sholat subuh.


      Seusai sholat Hamra kembali masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya agar lebih segar setelah melipat mukenanya.


     Selesai dengan ritual bersih – bersihnya ia pun memakai pakaian berupa baju dan celana olahraga berwarna pink berles hitam.



          "Inilah baju yang Hamra gunakan."


     Tak lupa aku memakai jilbab kurung hitam dengan sebuah topi pink yang melekat diatas kepalaku untuk menghindari cahaya matahari yang nantinya akan menerpa wajahku.



             "Seperti inilah topinya." 😏


     Ketika melewati kamar Ahmar tiba – tiba seseorang menahan tanganku. Saat aku melihat kebelakang, sesuai dugaanku pria yang menahan tanganku itu adalah Ahmar.



            "Seperti inilah sepatu nya." 😊


    “Kak tolong lepasin tanganku dong! sakit tau,“ rengekku sambil memelaskan wajahku supaya dia mau melepaskannya.


      “Mau kemana?“ tanyanya tajam tanpa melepaskan cekalan tangannya dariku.


     “Kesawah! mau ngapel sama bekicot, napa emang?“ jawabku kesal karna ia masih saja tak melepaskan tanganku.


     “Masak gak liat orang udah rapi – rapi pake baju olahraga, masih aja ditanya mau kemana! kecuali kalau aku tiba – tiba pake baju minim lenggok sana lenggok sini baru kaka curigain nanya mau kemana.“ sambungku.


     “Ikut!“ ucapnya singkat.


    "Yaudah kalau mau ikut tinggal ikut aja, gak usah tahan – tahan tangan aku kak! sakit tau! emang kaka pikir gak sakit? coba kalau tangan kaka yang aku gituin mau gak?“ tanyaku sambil memberikan tatapan maut.

__ADS_1


     “Kalau aku boleh aja, asalkan selalu bersama kamu.“ gombalnya yang membuatku sedikit mual.


     "Bacot!“ responku sambil melepaskan cengkraman tangannya dengan paksa menggunakan sebelah tanganku.


      Setelah itu aku berlari menghindarinya. Saat kakiku hendak menuruni tangga tiba – tiba Ahmar langsung menggendongku seperti karung beras dipundaknya yang membuat ku jadi memberontak kesana – kemari.


     Ia kini sedang mengunciku didalam kamarnya sambil menunggunya berganti pakaian olah raga dikamar mandi.


     “Ini tidak adil! masak walau pun cinta harus dikekang kayak gini banget. Ini aja belum jadi orang yang sah, modelnya aja kayak begini. Apa lagi kalau udah! bisa mati kebosanan aku dalam ruangan mulu,“ batinku kesal.


    Ahmar pun keluar menggunakan kaos olahraga yang warnanya sama sepertiku, bedanya ia memakai sepatu hitam polos dengan topi hitam berjahit tulisan kecil 'love' dipinggirnya.



"Seperti inilah bayangannya, anggap aja sama warna ya." 😌



     "Inilah sepatu yang ia gunakan." 😉



        "Seperti inilah gambar topinya."


     “Udah belum kak? kelamaan nih!“ seruku saat melihatnya masih sibuk membenarkan gaya topinya didepan cermin.


     “Aku kira cuman anak cewek yang perhatian banget ma penampilan! ternyata cowok juga yah?“ tanyaku meremehkan.


     Ahmar tidak menghiraukan kata – kata ku, ia sedang malas mengundang petasan yang kapan saja akan meledak melalui mulutku jika ada yang berani membantah ucapanku.


    Tanpa membuang – buang waktu Ahmar langsung membuka kunci pintu kamarnya dan menarik tanganku untuk ikut beriringan dengannya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2