Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 17


__ADS_3

     “Berubah,” ucapku.


     Kini aku sudah mengenakan baju silatku, semuanya berwarna hitam tampa motif atau warna lain. Dengat gesit aku pun langsung menghajar mereka dengan jurus terhebatku sekaligus jurus yang paling tinggi.


     Jarang orang mampu atau sempat belajar tentang jurus ini, mereka para pria berjaket langsung merasa kewalahan. Sebagian dari mereka ada yang sudah menangis deras karna kesakitan, ditambah lagi dengan rasa takut yang telah berlebihan.



"Ini nih contoh baju silat yang dipakai Aisyah saat bertarung." 😡


 


      Dengan darah yang masih mengalir dari tubuh mereka, kini perlahan mulai mengotori baju mereka. Itu semua adalah perbuatanku, yang sedang memberi pembelajaran kepada mereka yang semena - mena terhadap Khadijah dan diriku.


     “Masih ingin bertanding?“ tanyaku menantang.


     Mereka mulai menyeret tubuh mereka untuk mundur kebelakang dengan kaki dalam keadaan terduduk.


     Kepala mereka tak berhenti menggeleng pertanda menyerah, air mata masih belum mengering sejak tadi.


     “Ampun! ampun! kami menyerah! kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi,“ rintih mereka.


      


     “Baiklah,“ ucapku mulai menenangkan diri.


     “Tapi ingat! aku akan terus menyelidiki kalian semua! bertobatlah! jangan pernah menyakiti orang lain lagi,“ ancamku sambil melangkah perlahan keseorang pria berjaket merah yang kini sedang terduduk tak jauh dari tempat aku berdiri.


     Saat aku telah berada dihadapannya, aku tak segan – segan dalam kondisi yang masih berapi – api mulai berjongkok dihadapannya.


     “Mengerti!!!“ bentakku sambil menatapnya nanar.


     “I-i-iya,“ ucapnya terbata – bata sambil menelan salivanya yang terasa sangat pahit.

__ADS_1


      


     “Sebenarnya kamu siapa?“ tanya seseorang dari mereka memberanikan diri.


     Aku hanya tersenyum saat menanggapi pertanyaan pria berjaket coklat.


     “Kamu tidak perlu tau siapa aku! yang aku pinta sekarang hanyalah berubahlah! carilah jalan yang terbaik!“ jawabku lembut karna telah tenang.


     Mereka masih duduk sambil terus menatapku dengan segudang pertanyaan, aku dapat melihatnya lewat mata mereka.


      


     Aku sangat tertegun saat membaca isi pikiran mereka masing - masing juga masa lalu mereka.


     “Kalian sebenarnya dulunya termasuk orang – orang yang baik yah?“  tanyaku.


    Mereka langsung memasang mimik wajah terkejut.


     Seakan tak percaya dengan kata – kata ku.


     “Karna aku dapat membaca pikiran dan masa lalu kalian,“ jawabku jujur.


     Mereka semakin menganga tak percaya.


     "Au!" rintih pria berjaket biru dibelakang.


     Luka bekas bertarung yang terdapat ditangannya mulai biru dan bengkak akibat terbelah cukup dalam.


     "Sarung tangan wol!" ucapku.


     Dalam sekejap sarung tangan hitam hangat mulai melekat ditanganku, karna sangat kesal aku sampai lupa untuk memakai sarung tangan.


__ADS_1


"Nah! 🤣 inilah sarung tangan yang Aisyah pakai saat ia kedinginan."


     Aku betul - betul melakukannya sendiri tanpa mengandalkan kekuatan cincinku, karna entah mengapa kekuatanku mulai datang sedikit sebelum usiaku mulai 15 tahun.


     Sarung tangan ini bertujuan untuk membungkus kulitku agar terhindar dari hawa dingin yang perlahan seperti menggigitku, karna malam ini udara terasa sangat tak bersahabat.


     "Maafkan aku! maafkan aku! aku terlalu kejam membalasmu dan teman - temanmu! tolong... Maafkan aku!" ucapku serak sambil menangis.


     Ia mulai bingung dan langsung menjawab ucapanku.


     "Tidak! ini salah kami karna telah berbuat kejam kepada kalian berdua," elaknya.


     Aku pun mulai meraih luka yang berada ditangannya.


     "Sembuhlah!" ucapku.


     Maka dalam sekejap luka itu pun menghilang, matanya mulai melotot kagum.


     Kini aku sedang berusaha untuk berdiri dalam keadaan nafas yang masih terengah - engah, karna dengan menyalurkan kekuatanku agar luka tersebut hilang benar - benar menyedot energi ku secara perlahan - lahan.


     "Dengan seizin Allah! sembuhlah kalian semua," ucapku.


     Akhirnya mereka sehat kembali seperti sedia kala, mereka kini tidak ada yang merintih lagi.


     Mereka malah semakin menunduk dan terdiam cukup lama.


     "Kalian kenapa?" tanyaku mulai bingung.


     Mereka tidak menjawab pertanyaanku, mereka malah hanya duduk dalam diam.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2