Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 104


__ADS_3

     Ia membawaku kesebuah kursi panjang yang letaknya tak jauh dari danau, tapi aku masih bisa melihat keindahan danau tersebut.



         "Disinilah mereka berbincang."


     Setelah aku dan Ahmar duduk baru ia membuka pembicaraan.


     “Kau tau Hamra? aku mencintai mu bukan karna kecantikanmu!“ jujurnya.


     “Benarkah? lalu karna apa?“ tanyaku ragu.


     “Kau tau? kau mempunyai sikap yang adil, dan aku suka itu! aku suka dengan kerja keras mu dalam memperjuangkan apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu. Bahkan kau rela mengorbankan nyawamu! untuk orang – orang yang bahkan tak menghargaimu,“ jelasnya sambil menatap sendu kearahku.


     “Terserah! apakah kau mau percaya atau tidak kepadaku, yang pasti aku sudah mengakuinya. Sejak dulu aku sudah menyukaimu!“ sambungnya lagi.


     “Ah tidak! kaka terlalu berlebihan,“ elakku.


     “Tidak apa – apa kau mau mempercayaiku atau tidak, tapi walau pun dari gerak – gerikmu kau sepertinya sudah menerimaku. Tapi aku tak tau isi sebenarnya dari lubuk hatimu yang paling dalam itu,“ ucapnya yang membuatku bungkam seketika.


     “Kenapa kaka berkata seperti itu?“ tanyaku sedih.


     “Tidak! aku hanya tidak yakin saja, aku cuma tidak ingin memaksa orang lain untuk mencintaiku. Aku sadar sekarang, bahwa cinta itu tak dapat dipaksakan. Aku kira kau bakal cinta kepadaku! namun walau pun kamu mengatakannya, kamu masih terlihat seperti tak terlalu yakin dengan apa yang kamu pilih dan katakan.“ jawabnya sedih.


     “Lebih baik kamu lupakan saja apa yang telah aku katakan sejak tadi kepadamu, aku akan pergi!“ sambungnya lalu bangkit dari tempat duduknya.


     Saat ia hendak melangkahkan kakinya, tiba – tiba langkahnya terhenti karna seseorang tengah memeluk erat pinggangnya dari belakang.


      “Ku mohon jangan pergi! aku bukannya tak mau mengakuimu dihadapan keluargaku, tapi-“ ucapanku kali ini terhenti, karna tenggrokanku seperti ada yang mengganjal.


     “Tapi apa Hamra?“ tanya nya resah.


     “Aku tidak sanggup untuk mendengarkan godaan ibunda, ayahanda, pangeran juga kakaku.“ sambungku akhirnya.

__ADS_1


     Ahmar jadi mengerti sekarang. Ia tau bagaimana perasaan gadis nya saat harus menahan malu dihadapan keluarganya, ditambah lagi dengan dia yang masih belum bisa mengontrol detak jantungnya.


     Ahmar kini mulai menatap kedepan dengan pandangan kosong. Ia menarik kedua tangan gadis yang sedang melingkar dipinggangnya  agar dapat memeluknya lebih erat, entah mengapa ia sangat rindu akan hal ini.


     Dulu ia sering melakukannya bersama gadis nya ketika masih kecil, menghilangkan kegalauannya saat dia sudah muak karna terus ditinggal dirumah sendirian tanpa seorang teman. Ia juga membantu membuat hari gadisnya jadi berwarna semenjak kehadirannya.


     Ia masih bertanya – tanya, apakah gadisnya masih belum ingat semua kenangan tentang mereka? ia masih belum yakin, tapi ia selalu berdoa agar ingatan gadisnya kembali seutuhnya.


    “Ia aku paham! sekarang kamu tidak perlu sedih bidadariku! aku tau mungkin sulit bagimu untuk menghadapi mereka, tidak seperti ku yang hanya acuh saja.“ responnya lalu menukar posisinya dengan gadisnya.


     Kali ini ia yang memeluk pinggang gadisnya dengan erat sedangkan gadisnya tampak sedikit terkejut.


     Tapi ia tidak berkutik sedikit pun, entah mengapa ia jadi merasa nyaman dengan Ahmar.


     Bukan kali ini saja, tapi sudah sejak lama. Namun, ia masih belum peka terhadap perasaan nya sendiri walau pun ia bisa melihat isi pikiran orang lain.


     Tapi itu bukan menjadi sebuah alasan baginya untuk melihat aib orang dengan mudah, justru ia tidak ingin melihatnya jika kondisi tidak mendesaknya untuk melihat.


     “Mulai sekarang kamu tidak perlu mengakui ku dihadapan mereka sampai hari pernikahan tiba, jika sudah maka aku akan selalu berada disampingmu untuk menemanimu dalam menghadapi itu semua.“ bisiknya tepat ditelinga ku.


     Tanpa ku sadari mataku bertemu dengan mata hitam pekatnya.


     “Aku akan mengakuinya demi menjaga perasaan kaka! aku tidak akan membiarkan kaka terluka karna sikapku. Percayalah padaku bahwa cinta ku tak hanya terlihat dari gerak gerikku saja, tapi dari lubuk hati ku yang paling dalam. Kau tau? saat aku melaksanakan sholat istikharah, jawabannya adalah kamu.“ ungkapku mantap.


     Ahmar sangat bahagia saat mendengar kata – kata gadisnya.


     “Baiklah kalau begitu! besok aku akan melamarmu,“ putusnya yang membuatku membulatkan mata sambil melepaskan pelukannya.


     “Ya ampun kaka! secepat itu kah?“ tanyaku terkejut.


     “Memangnya kenapa?“ tanyanya bingung.


     “Bukannya itu terlalu cepat?“ protesku.

__ADS_1


     “Lalu kapan waktu yang kau mau?“ tanyanya bingung.


     “Bulan depan,“ jawabku yang langsung membuatnya menggelangkan kepala tak setuju.


     “Percepatlah barang sedikit lagi,“ pintanya.


     “Ya sudah tiga minggu!“ putusku yang mau tidak mau diangguki olehnya.


     “Dasar kaka! apa – apa harus buru – buru. Kaka pikir mempersiapkan pesta pernikahan mudah apa? apa lagi kita orang Kerajaan, pasti pestanya besar kayak kak Aisyah. Kaka pasti gak lihat ya? sibuk dengan yang lain?“ selidikku sambil menyipitkan sebelah mataku.


     “Lha sibuk apa?“ tanyanya tak terima.


     “Dasar gak nyadar! kaka kan terus mantawin aku waktu lagi mau ngobrol sama pangeran dari Kerajaan lain,“ jawabku.


     “Itu mah wajib!“ responnya yang membuatku kesal.


     “Wajib wajib wajib wajib! orang risih tau,“ dengus ku sambil melipat kedua tanganku dibawah dada.


     “Dengar ya kak! kalau yang namanya jodoh itu gak kemana! tapi gak perlu diketatin juga tau! gak bebas aku,“ komenku tak terima.


     “Terserah!“ jawabnya ketus.


     “Ih! dasar kaka nyebelin! tapi sayangnya ngangenin,“ cibirku.


     Ia hanya terkekeh saat mendengarkan kata – kataku yang menurutnya sangat menghibur bagi nya, sedangkan bagi aku mah kagak sama sekali! yang ada naik darah saat mengingat kejadian pas pernikahan kak Aisyah.


     “Ya sudah! ayo kita pulang! udah malem nih,“ ajakku yang hanya diangguki olehnya.


     Sebenarnya ia masih ingin bersama dengan gadisnya, tapi karna mengingat waktu ia mulai mengurungkan niatnya. Ia hampir saja lupa bahwa ia tidak bisa terlalu lama diluar.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2