
"Aira!" ucap Rendi mengagetkanku.
Ia terus memerhatikan gadis tersebut dengan serius.
"Ada apa Rendi?" tanyaku mulai menghampirinya yang sejak tadi masih saja berdiri beberapa langkah dibelakangku.
Ia mulai lemas, tubuhnya bergetar, air mata mulai terbendung dikelopak matanya lalu ia pun jatuh terduduk.
"Ada apa Ren?" tanyaku lagi sedikit khawatir, ia terus saja menunduk dan menggelengkan kepalanya kesana kemari tanpa melihat kearahku.
Isak tangisnya mulai terdengar.
"Tidak mungkin! tidak! tidak! tidak akan mungkin!" ucapnya serak dengan nada rendah yang membuatku semakin ngilu.
Ingin aku menatap matanya dalam - dalam dan menanyakannya secara hati - hati, tapi ku urungkan semua niat itu saat ia mungkin sedang sulit untuk dikendalikan.
Sosok yang disangka mempunyai nama Aira pun mulai melangkah kebelakang rumahnya yang besar, ia terlihat sedikit tergesa - gesa.
Kali ini aku memilih diam dan langsung mengikuti sosok Rendi yang mulai melangkah lemah, ia pun akhirnya mulai sampai didepan sebuah gubuk yang telah dimasuki oleh gadis itu.
"Ini adalah gubuk yang ada dibelakang rumah Aira." 😊
"Assalamualaikum semuanya, 🤗 perkenalkan namaku Aira." 😊
Tampak ada dua orang pemuda berjas hitam dan berkaca mata hitam sedang berdiri gagah sambil menatap nanar ke sekelilingnya, Rendi yang sedang kasat mata dengan mudah menerobos masuk.
Sesampai didalam ia pun mulai semakin berapi - api. Hatinya begitu sakit, sesakit - sakitnya, entah bencana apa yang kini menimpanya lagi setelah fitnah yang telah dibawa untuknya.
Kini ia tak tahan ketika melihat seorang gadis terikat dikursi dengan rambut panjang berwarna hitam yang sedikit acak - acakan.
__ADS_1
Gadis itu mulai membuka kain yang sejak tadi membekam mulut Alika. Rendi ingin sekali menolong, tapi kali ini entah mengapa ia hanya memilih diam karna tubuhnya sedang sangat lemah dan kepalanya masih mencoba mencerna Kejadian ini.
Ia terus memerhatikan Alika dan mulai menatap bola mata gadis itu.
Beberapa menit kemudian Aira berkata "kamu kali ini harus ikut denganku dan ingat!!! jangan sampai kamu lari dari ini semua, karna itu bisa menghilangkam uangku dan kehormatanku. Mengerti?!!" ancamnya mulai membentak gadis itu yang kini hanya bisa menangis deras.
"Tega kau Aira! tega yah kamu melakukan ini semua kepadaku. Kau kan sahabatku, apa mau mu hah? apa???" tanya gadis itu mulai mengangkat wajahnya kehadapan Aira.
Saat itulah Rendi semakin terperangah dan mulai sangat serius untuk mendengarkan pembicaraan mereka yang begitu sengit.
Aira hanya tersenyum dan membalikkan tubuhnya kearah lain, ia biarkan gadis itu menatapnya dengan sejuta pertanyaan hingga kesabaran gadis itu pun habis.
"Aira jawab aku! aku kan sahabatmu!!! masa aku tidak boleh tau masalahmu, aku telah bersabar karena penderitaanku ini. Apakah kamu masih punya hati Aira? mengurungku disini selama tiga bulan, ibu dan ayahku sangat mengenalimu! apakah kau sia - siakan kesetiaan mereka walau pun mereka bukan orang tuamu bahkan saudara? tapi mereka telah menganggapmu lebih," tegasnya.
"Dasar pembohong kamu!" elaknya sengit.
"Aku tidak bohong Aira," responnya.
"Apa?" tanya Alika tak percaya.
Ia merasa ia salah mendengar, hingga akhirnya ia memberanikan dirinya untuk bertanya lagi "apa Aira? kamu benci sama aku karna Rendi cinta sama aku?"
Aira yang mendengar perkataan Alika mulai gugup. Tubuhnya bergetar hebat, air matanya mulai terapung lagi. Ia kini mulai menggigit bibir bawahnya.
"Mungkin ini sudah saatnya aku memberitaukan semuanya," pikirnya dalam hati.
Persaudaraan yang mereka bangun seakan - akan tidak pernah ada, hingga akhirnya ia lebih mengutamakan rasa sakit dibandingkan ikatan tersebut.
"Maafkan aku Alika, aku tidak bisa menahan egoku yang kini sedang merasukiku.
"Walau pun aku berubah pikiran dan membebaskanmu sekarang, percuma saja! kau tidak akan pernah memaafkanku, apa lagi menerimaku kembali yang telah dilumuri dengan dosa besar. Aku sakit Alika! sakit! bukan karna serangan apa pun yang membuatku memerlukan dokter, tapi ini berhubungan dengan cinta! cinta yang berakhir dengan kebencian," resahnya.
"Apakah kau tau Alika? kau tidak akan pernah tau dan mungkin kau tak ingin tau, karna kau juga pasti sudah terlanjur mencintainya. Padahal akulah yang pertama kali bertemu dengannya, tapi ia hanya menganggapku sebatas teman dekat bahkan adek." dengusnya dalam hati membuat air matanya semakin pecah.
__ADS_1
"Aira! ku mohon Aira, jelaskan padaku Aira." pinta Alika mulai lemas karna ia masih belum dapat mempercayai apa yang sahabatnya ucapkan, karna setaunya Aira bukan tipekel wanita yang menyukai pria seperti Rendi.
Aira yang telah dikuasai oleh egonya pun mulai mendekati Alika sambil memberikan tamparan yang keras. Rasa panas masih melekat dipipi Alika, tapi Alika tidak pernah marah apa lagi memberontak. Ia malah hanya berkata "Aira, kalau ini yang membuatmu bahagia lakukanlah! sakitilah aku sepuasmu, dan jual lah aku sesukamu, aku ikhlas, asalkan kau tidak membenci Rendi dan membebaskan Rendi dari cara licikmu. Aku mohon, Rendi tidak salah! mungkin aku yang terlalu centil hingga membuatnya tergoda! tolong Aira, tolong yah! dengarkan aku kali ini aja." mohonnya penuh harapan.
Rendi sudah tak tahan lagi, hatinya sangat terharu mendengar ucapan Alika yang betul - betul menyayanginya.
"Kamu baru sadar Alika? dasar bodoh kamu! Rendi dan kawan - kawannya telah dipenjara. Tapi belum sempat mereka menderita, mereka ternyata telah melarikan diri dan tidak dapat dilacak lagi. Benar - benar sial bukan?" tanyanya setelah sejak tadi sibuk membentak Alika.
Ditambah lagi dengan matanya yang mulai menghadiahkan tatapan kebencian yang semakin berapi - api.
Kini mata Alika mulai tertutup dan menumpahkan lagi linangan putih tersebut, tanpa ia sadari ia menatap tepat dimata Rendi yang juga menatapnya dalam keadaan tak kasat mata.
"Aira! tolong dengarkan aku, aku sangat sayang kepadamu. Demi kamu aku rela lepaskan Rendi, kau tau kenapa? karna kamu adalah sahabatku satu - satunya yang aku punya, kamu gak bakal bisa diganti Aira." ucap Alika serak sambil terus menangis.
Aira tidak tau harus berkata apa lagi, sebenarnya ada sesuatu yang sedang bersarang dipikirannya, tapi ini sangat sulit untuk ia ungkapkan.
"Drett! drett! drett!" suara dering ponsel mulai terdengar nyaring, membuat pertengkaran yang hampir melayangkan nyawa itu berakhir.
Aira pun langsung mengangkat ponsel yang tak berhenti berdering itu saat melihat nomor yang meneleponnya.
"Ia bos," jawabnya.
"Aira! sudah kau bawa wanita itu kesini?!!" ucap suara tersebut sedikit membentak.
"Tidak! tidak! maaf bos! aku kini berhenti bekerja kejahatan padamu, karna aku sudah punya pekerjaan yang lebih baik dari pada sibuk berbuat yang tak jelas, ini kali terakhir aku bekerja denganmu." putusnya setelah berjalan ke pojok.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1