Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 89


__ADS_3

     Didalam ada beberapa pengunjung yang sedang sibuk memakan makanannya. Ada yang makan mie ayam, bakso, martabak dan lain – lain. Karna sang penjual tidak hanya menjual bakso, tapi aneka makanan yang lain.


     “Pantas saja disini ramai! orang lengkap kok!“ ucap Iqlima.


     Saat kami sedang memilih tempat duduk tiba – tiba seorang pria berjaket hitam terlihat sedang melambaikan tangan kearah kami.


     Awalnya aku tak terlalu mengenal karna jauh, dia duduk dimeja panjang yang ada dipaling belakang. Ketika aku dekati mataku langsung membulat tak percaya.


     “Brago!“ seruku sambil tersenyum.


     “Ayo duduk!“ tawarnya.


     kami pun duduk didepannya.


     “Sendiri?“ tanyaku.


     “Tidak! aku bersama Alika, Aira dan Rendi!“ jawabnya sambil tersenyum.


     “Benarkah? lalu kemana mereka?“ tanyaku.


     "Mereka sedang membeli keripik disamping buat ngemil dirumah,“ jawabnya.


     "Iqlima!“ seru seseorang sambil melambaikan tangan kearahnya, mereka adalah teman sekolahnya Iqlima.


     Iqlima yang melihat temannya langsung tersenyum dan mulai beranjak dari tempatnya disampingku untuk menuju ke  teman – temannya.


     “Kaka aku mau makan sama Lika dan Liko yah!" izinnya.


     “Baiklah!“ responku.


     “Ya sudah nih uangnya! kamu bayar sendiri yah?" sambungku sambil memberikan satu lembaran seratus kepadanya.


     “Bagaimana dengan kaka?“ tanyanya polos.


     “Ih kamu lucu banget sih!“ gemasku sambil menjembel pipinya.


     Sang korban hanya mampu meringis karna perbuatanku.


     “Kamu kan tau kaka mu itu bawak banyak uang tadi... Masih aja ditanya, kaka lebih tau kalau adek kaka tuh banyak jajan!“ godaku sambil menghentikan aksiku.


     “Ya udah deh! aku ketempat mereka dulu yah?“ serunya sambil berlalu setelah aku menganggukkan kepala tanda setuju.


     “Ngomong – ngomong mana mereka? kok lama banget beli keripik nya?“ tanyaku yang tak sabar untuk bertemu mereka.


     “Biasa! mereka mah suka lama kalau memilih sesuatu! takut nyesel nanti!“ jawabnya sambil tertawa geli.


     “Oh!“ responku singkat lalu orang yang kami bicarakan pun datang.


     Mereka yang melihatku jadi berteriak kegirangan kecuali Rendi, ia hanya tersenyum kearahku.


     Aku, Alika dan Aira kini mulai berpelukan untuk melepas rindu. Setelah puas kami pun duduk Kembali. Aira duduk disamping Brago, sedangkan Alika disamping Rendi.


     Sebenarnya ada banyak pasang mata yang melihat kearah kami saat mereka berteriak, namun pasang mata itu langsung tertunduk saat Brago dan Rendi membalas tatapan mereka dengan nanar sehingga mereka jadi kembali menikmati makanan mereka.


     “Aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi Hamra!“ ucap Alika.


     “Iya aku juga! tapi kenapa kamu masih pakai wajah Aisyah?“ sambung Aira memasang mimik bingung.

__ADS_1


     Aku hanya tersenyum lalu mulai menjawab pertanyaan Aira.


     “Denger ya! aku kan masih kelas satu SMA. Aku berniat untuk melanjutkan pendidikan ku di Indonesia saja, karna sudah nyaman dengan sekolahku. Aku tidak mau jika di Andalusia, pasti aku disana harus menggunakan bahasa lain yang mungkin pelajarannya saja agak berbeda."


     "Jadi dari pada harus mulai dari nol lagi, aku lebih baik melanjutkannya disini saja. Itu sebabnya aku menggunakan wajah ini kembali, karna waktu aku sekolah disana wajahku kan masih wajah Aisyah. Biar gak timbul pertanyaan aja! lagian gak mungkin kan? aku ngejelasin kesemua orang tentang rahasiaku.“ jelasku yang langsung diangguki oleh mereka.


      “Jadi aku mohon sama kalian untuk memanggil ku Aisyah selama aku di Indonesia, kecuali jika aku sedang berada di Andalusia. Biar nanti kalau berjumpa dengan orang yang mengenaliku, tidak timbul tanda tanya saat kalian memanggiku dengan sebutan Hamra.“ sambungku.


     “Baiklah! itu mah tidak masalah! lagian kami lebih nyaman saat memanggilmu Aisyah! seperti saat pertama kami bertemu denganmu!“ ucap Rendi sambil tersenyum.


     “Lho! ngomong – ngomong kita gak jadi makan nih?“ tanya Brago yang menyadarkan kami.


     “Oh iya!“ ucap kami serentak.


     Akhirnya kami pun memanggil salah satu pekerja dan mulai memesan makanan. Namun sebelum  itu makananku sudah lebih dulu sampai karna aku lebih dulu memesannya tadi bersama Iqlima dan sudah pasti mie ayam.


     Aira dan Alika mie ayam sedangkan Rendi dan Brago bakso, jika minuman Brago dan Aira memesan jus jeruk sedangkan Rendi dan Alika jus alpukat.


     Kini aku sedang sibuk menyedot jus jeruk sambil menunggu makanan mereka datang, aku berniat makan sekalian dengan mereka.



"Inilah Mie ayam pesanan Aisyah, Aira dan Alika." 🤤



     "Inilah bakso Rendi dan Brago." 🤤



"Ini adalah jus jeruk pesanan Aisyah, Aira dan Brago." 😋



    Setelah selesai dengan pesanan, kami kembali berbincang dengan riang hingga makanannya  sampai. Aku langsung menikmati mie ayamku setelah menaruh saus diatasnya.


     “Jangan banyak makan saus Aisyah, nanti sakit perut!“ tegur Aira.


     “Iya tuh! kebiasaan!" sambung Rendi.


     Aku pun hanya menyengir kuda sambil terus mengaduk makananku.


     “Lah kamu nasehatin orang pinter, sendiri juga sama!" dengus Alika sambil merampas botol saus yang ada ditangan Rendi karna ia menggunakannya terlalu banyak ditambah sambel lagi.


     “Jangan gitu lah beb! gak enak tau kalau gak banyak!“ rengeknya seperti anak kecil.


     “Terserah! kamu tuh kelewatan banget yah makannya! nanti kalau sakit kamu juga yang meringis terus – terusan sampai telinga aku mengiang!“ cibirnya sambil menjewer telinga Rendi.



"Gimana gak dijewer coba, 😥 orang kelakuannya aja kayak gini." 😒


     Korban pun hanya mampu meringis kesakitan.


     “Kalau gak enak gak usah makan paham?“ sewotnya lalu melepaskan tangannya dari telinga Rendi.


     Rendi hanya mampu mengelus daun telinganya yang kini telah memerah sedangkan kami malah menertawainya.

__ADS_1


     “Makanya jangan main – main sama istri lo, yang super dzuper galak kayak macan!“ peringat Brago sambil menggunakan bahasa gaul.


     “Kamu kok gitu sih Brago? sakit tau! gak kasian apa sama aku?“ tanyanya dramatis.


     “Gak! lagian buat kebaikan kok!“ jawabnya santai lalu kembali mengunyah makanannya.


     Aku yang mendengar kata – kata istri dari Brago langsung membulatkan mata sempurna.


     “Apa?“ tanyaku.


     “Apa yang apa?“ ucap Brago balik bertanya karna aku sibuk melihat kearahnya.


     “Tadi kamu bilang istri?“ tebakku sambil menaikkan alisku.


     Brago pun langsung tertawa ketika mengerti apa yang aku tanyakan sejak tadi.


     “Oh! si Rendi?“ tanyanya dan aku hanya mengangguk.


     “Hahaha,“ tawanya.


     “Dia emang udah menikah sama Alika dua minggu kemaren,“ jawabnya sambil tersenyum.


     “Bener tuh! aku sama ayang bebep Alika udah nikah nih!“ bangga Rendi sambil mengecup lembut pipi Alika.


     Alika yang tak terima langsung menyentil bibirnya pelan.


     “Ih Rendi! kamu tuh yah udah putus urat malu apa? ini tempat rame, bukan rawa gelap“ geram Alika sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.


     “Iya maaf! jangan ngambek atu... Tar cantiknya ilang!“ rayu Rendi sambil mengedipkan matanya.


      Alika yang melihat tingkah Rendi hanya tertawa geli.


     “Bodo amat! sekarang sampai selamanya aja aku ngambek sama kamu!“ putus Alika sambil memajukan bibirnya beberapa meter.


     “Mampus lo Rendi, istri lo ngamuk tuh!“ ledek Brago sambil tertawa.


     Rendi hanya mendengus kesal sambil menatap Brago nanar, sedangkan sang pelaku hanya acuh dengan tatapan Rendi sambil menikmati baksonya yang tinggal satu buah lagi.


     “Ya udah jangan pada bertengkar lagi! gak seru atuh! Alika sebagai seorang istri yang baik kamu harus maafin suami kamu yah?" pintaku sambil tersenyum manis.


     Alika yang melihat senyumanku lalu langsung menarik nafas kasar.


     “Baiklah! karna Aisyah yang meminta kali ini aku maafin kamu, tapi jangan harap untuk kedepannya.“ tekannya.


     Aku yang mendengar itu menghembuskan nafas lega.


     “Makasih Aisyah! kamu memang teman yang baik buat aku! gak kayak cecurut sawah ini,“ ledek Rendi cengengesan sambil memandang sinis pada Brago.


     Brago yang ditatap malah membalasnya dengan tatapan yang lebih horor, hingga membuat Rendi mengernyit kan dahinya.


     “Becanda kawan!“ sambungnya was - was, takut seakan - akan Brago seperti ingin menelannya hidup – hidup.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2