Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 58


__ADS_3

     Entah kenapa jantung ku tak mau berhenti berdetak begitu cepat. Sesampai nya aku didepan Istana aku pun langsung masuk kedalam kamar setelah melepas hijabku dan menggantungnya.


     Aku bergegas kekamar mandi dengan sebuah anduk berwarna pink yang telah aku taruh diatas pundakku. Disaat aku sedang asyik mandi, azan pun mulai berkumandang melalui radioku hingga aku mempercepat membersihkan tubuhku lalu mengambil wudhu.


     Selesai dengan aktivitas dikamar mandi aku kini langsung memakai baju piama dan mengambil mukena untuk melaksanakan sholat maghrib, lalu membaca Al-Qur'an sambil menunggu azan isya.


     Tak terasa ketika aku sibuk membaca ayat sucinya “Allaaahu akbar Allaaahu akbar,“ suara azan mulai berkumandang dengan merdu.


      Aku pun berhenti membaca Al – qur’an setelah menutupnya dengan bacaan “shodaqolla hulngazim,“ tak lupa untuk mencium kitab yang suci ini sambil berjalan untuk meletakkannya dirak dan melakukan sholat isya.


      “Tok tok tok,“ suara ketukan pintu mulai terdengar.


     Aku yang baru saja selesai berdoa langsung bergegas untuk membukanya, kini mataku sedang menangkap sosok pria yang memakai koko putih dan peci hitam juga sarung hitam polos.



           "Seperti inilah gambarnya." 😎


    "Ya Allah ganteng banget,“ ucapku tak sengaja.


     “Kan kaka emang ganteng!“ balasnya.


     Aku yang mendengar kata – kata pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ahmar langsung memasang tampang malas.

__ADS_1


     “Susah yah kalo ketemu ma cowok kepedean kayak gini,“ cibirku.


     "Emang kenyataannya kayak gitu kan?“ tanyanya sambil tersenyum manis.


     “Oh iya! ada apa main ketak ketuk pintu orang aja?“ tanyaku kesal.


    “Hamra… Hamra… Kita ketok pintu salah! kalau kita masuk lebih salah lagi,“ dengusnya kesal.


     Aku hanya terkekeh ketika melihat eksperesinya.


     “Yaudah deh! ada apa abang guanteng?“ candaku sambil memaksakan bibirku untuk tersenyum.


     “Wedeh! tumben- tumbenan panggilnya abang guanteng, biasanya kaka.“ godanya senang dan aku hanya mendengus kesal.


    “Jangan marah – marah dong! nanti cepat tua lho! emangnya mau? tu pipi keriput kayak nenek - nenek?“ rayunya.


     “Bodo amat! mau marah – marah kek! enggak kek! bukan urusan kaka! hidup – hidup aku! ngapain kaka yang repot!“ seruku lalu langsung membanting pintu dan mulai berbaring diatas kasurku yang sangat empuk.


     Saat aku menutup kedua mataku entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang masih melekat ditubuhku dan saatku melihatnya sontak aku menepuk dahiku sendiri karna kebodohanku.


     “Ya ampun Hamra, tu mukena dibuka dulu napa.“ batinku .


     Setelah melipatnya aku memakai baju piama tidur dan membaringkan tubuhku kembali diatas kasur, sedangkan Ahmar yang masih dibalik pintu hanya mendengus kesal. Ia merasa tak rela diperlakukan begini oleh Hamra.

__ADS_1


     Akhirnya ia memilih beranjak kekamar sampingnya untuk mengganti baju kaos berwarna putih dengan celana panjang berwarna hitam, lalu langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur.



     "Seperti inilah contoh pakaiannya."


     Saat berbaring ia terus mengingat kenangannya dulu bersama Hamra, entah mengapa ia jadi merindukan suasana itu. Dulu sebelum tidur biasanya Hamra merengek ingin dibacakan cerita dongeng olehnya, ia pun mulai membacakan cerita itu hingga Hamra terlelap.


     Tak jarang kadang jika ceritanya telah selesai dibaca Hamra masih belum tertidur juga dan dengan jailnya menggelitik tubuhnya hingga ia jadi sakit perut karna terlalu lama tertawa.


     Namun, kini rasanya sulit baginya untuk mengulang kembali itu semua karna menurutnya Hamra sudah sangat berbeda, ia seperti tidak terlalu memerlukannya lagi. Andai saja waktu itu bisa ia putar kembali, ia ingin sekali membawa Hamra pergi bersamanya sebelum peperangan itu terjadi.


      Pasti sikap Hamra kepadanya tak akan jadi seperti ini, memang apa yang Hamra bilang itu benar. Tapi hatinya seperti sangat tak menerima itu semua, ia sangat ingin bebas seperti dulu.


     Ia ingin sekali gadisnya datang kesini dan mulai merengek untuk memintanya membacakan cerita dongeng itu, ia pasti akan menurutinya.


     Kini hidupnya jadi terasa begitu kosong, gairahnya sekarang seperti sudah pergi entah kemana.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2