Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 69


__ADS_3

     Ia dengan cepat membawa tubuh ibundanya dengan cara terbang kepada dayang dan menyuruh mereka untuk mengantarkannya kepada tabib lalu mendarat didepan mereka yang meminta penjelasan.


     Ia sangat lemas sekarang, air matanya terus bercucuran. Ia tak menyangka adik iparnya sebaik ini dan rela menolong ibundanya terlebih dahulu untuknya, sehingga ia rela menahan dirinya didalam kobaran api demi menunggu kedatangannya yang sudah diketahuinya.


     Semua mata tertuju pada pria yang sudah terduduk diatas lantai Istana.


     “Kenapa Hamra terbang begitu tinggi?“ tanya Aisyah.


     “Apa jangan – jangan,“ ia pun menutup mulutnya yang telah menganga dan menangis sejadi – jadinya.


     Ahmar dengan wajah yang merah padam langsung menghampiri Arfah yang terduduk itu, dan tanpa rasa kasian ia mulai menarik kerah Arfah lalu langsung meninju pipi pria itu hingga bibirnya mengeluarkan darah segar.


     Tapi Arfah hanya pasrah karna ia telah merasa gagal memberikan harapan pada Ahmar.


     “Hentikan!!!“ teriak ibunda Ahmar dan Aisyah bersamaan sambil menghampiri pria yang mereka sayangi.


     Arfah membalas pelukan wanita yang sedang menangis terduduk didada bidangnya, begitu pun dengan Ahmar. Ia juga ikut membalas pelukan ibundanya, karna memang itu yang mereka perlukan untuk menenangkan diri.


     “Jangan nodai tanganmu putraku! sabarlah! dia pasti memiliki alasan!“ nasehat ibundanya sambil menenangkan putranya.


     Sedangkan Aisyah “tolong jangan seperti ini Arfah, jangan buat aku takut!“ getarnya hingga membuat nya hanya mampu mengeratkan pelukannya karna dadanya jadi sedikit sesak.


     Setelah tenang, ia berusaha berdiri dibantu oleh Aisyah. Ia pun berjalan menuju kehadapan orang tua Hamra dan mendudukkan dirinya.


     “Maafkan aku ibunda! ayahanda! aku gagal menyelamatkan Hamra,“ ucapnya sedih sambil menundukkan kepalanya.


     “Aku memang bukan calon kaka ipar yang baik untuk Hamra,“ sambungnya.

__ADS_1


     Mereka yang mendengar perkataan Arfah merasa sedih dan mencoba membantunya untuk berdiri dan mengangkat dagunya untuk menatap kebola mata mereka.


     “Tidak apa – apa! lagian ini sudah takdir yang Allah tentukan! ini pasti sesuatu yang terbaik untuk Hamra, walau pun berat bagi kita. Tapi kita harus menerimanya dengan ikhlas hati. Kau sudah mau berusaha itu sudah cukup, jadi kamu tidak perlu sedih karna kamu tidak salah sama sekali.“ hibur ibunda sambil mengelus puncak kepalanya.


     Karna merasa sangat senang ia mulai memeluk ibunda Hamra sambil mengucapkan terima kasih. Ayahanda Hamra juga ikut memeluknya, mereka bertiga kini mulai merasa tenang lalu Arfah memutuskan untuk menceritakan semuanya setelah melepaskan pelukan dari mereka berdua.


      Ahmar yang mendengarnya terharu dan tak menyangka jika Hamra senekat itu demi menyelamatkan semuanya. Membunuh dirinya dengan kekuatannya sendiri agar makhluk terlaknat itu mati.


     Ia jadi mengerti dan merasa bersalah karna telah memukul Arfah, saat Arfah sedang tersenyum dengan  ibunda dan ayahanda Ahmar datang menghampiri Arfah.


     Aisyah yang merasa orang yang dicintainya terancam bahaya langsung melebarkan tangannya sebagai pertanda bahwa Ahmar tidak boleh menyentuhnya.


     Tapi Arfah malah menyuruh Aisyah untuk menyingkir dan berkata ia tidak akan kenapa – napa, walau pertamanya wanita itu menolak namun akhirnya ia pun menyetujuinya.


     Ia sangat terkejut karna Ahmar ketika sudah berdiri tepat dihadapannya bukannya malah memukulnya seperti yang ia kira , justru ia malah memeluknya.


     Arfah tampak terharu sambil membalas pelukan Ahmar, yang menonton jadi bisa menghembuskan nafas lega karna sejak tadi mereka kembali tegang.


     “Aku akan menyusul Hamra,“ sambungnya yakin.


     “Kamu tidak akan sempat! ia sudah hampir sampai diposisi puncak,“ cegah Arfah sambil menahan Ahmar dengan tangannya.


     “Setidaknya aku akan selamatkan tubuhnya saja supaya tak semakin sakit jika menimpa tanah nanti!“ tegasnya yang tak dapat ditahan lagi.


     “Biarkan dia menggapai tubuh orang yang dia cintai untuk terakhir kalinya, berikan ia kesempatan untuk menolongnya.“ ucap ibunda Ahmar mengizinkan.


     Dengan berat hati Arfah akhirnya melepaskan cekalan tangannya dari tangan kekar Ahmar. Ahmar pun berlari sekuat tenaga lalu terbang ketika Hamra telah meledak bersama makhluk itu. hatinya sungguh perih bahkan sangat tersayat, air mata mulai menetes dari pipinya.

__ADS_1


     “Hamra! andai ku tau kalau kau ingin menginggalkanku seperti ini! aku ingin sekali mengurungmu didalam dekapanku, dan tak akan pernah kulepaskan supaya rencana mu tak akan berhasil dan aku tak kan kehilangan gadis yang kucintai."


       “Hamra! andaikan aku tidak menyetujui perkataanmu hingga membawamu lari dalam boponganku, mungkin makhluk terlaknat itu tidak akan bebas dan kau tidak perlu mengorbankan dirimu sendiri."


      “Hamra! aku mencintai mu lebih dari apa pun! kau adalah wanita kedua yang paling aku cintai setelah ibundaku.“


     “Hamra! bisakah ketika kau meledak aku melihat sedikit senyuman dibibirmu yang indah itu? aku rindu hamra! aku rindu!“


     "Bisakah aku bermain lagi bersamamu? seandainya kau masih hidup, aku ingin tunaikan keinginanmu yang sangat ingin belajar berkuda dan Memanah bersamaku.“


    "Hamra kumohon kuatlah! seandainya kau masih hidup dalam keadaan terbakar dan wajah indahmu hitam, aku akan tetap bersedia menerimamu dalam pangkuanku. Karna yang aku suka padamu bukan karna kecantikan mu, tapi karna ketulusan hatimu dalam mencintaiku."


     "Sekali lagi aku ingin mengucapkan bahwa aku sangat mencintaimu Hamra! sangat!“


   Gumamnya yang langsung menangkap tubuh Hamra yang sudah terjatuh dengan kulit yang sudah menghitam legam. Rasa panas yang menyentuh kulitnya tak ia hirau kan.


     “Kita berhasil kak! kita berhasil! maafkan aku karna tak bisa mendampingimu, carilah wanita lain yang lebih baik dariku.“ ucapnya lalu ia pun mulai menutupkan mata setelah mengucapkan kedua kali masyahadat.


     “Tidak! tidak! tidak Hamra! tidak akan pernah ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu dihatiku, hanya kamu Hamra! hanya kamu! tidak akan pernah kuizinkan yang lainnya menggantikan mu,“ responnya sambil menangis deras dan menjerit sejadi – jadinya sambil mengecup pipi Hamra yang sudah hangus terbakar beberapa kali.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2