
“Allahu akbar Allahu akbar,“ suara kumandang azan dzuhur mulai membangunkanku dari tidur nyenyakku.
Aku langsung bangkit untuk melaksanakan sholat.
Selesai sholat aku bergegas untuk mandi karna tubuhku terasa begitu panas lalu aku memakai rok hitam dengan kaos merah.
“Tok tok tok,“
Ketukan pintu mulai terdengar dari pintu kamarku.
“Kaka!“ ucap seseorang yang tak lain adalah Iqlima.
"Inilah pakaian yang Aisyah pakai."
“Masuk dek!“ responku lalu ia pun membuka pintunya.
“Kak, ayo kita makan siang! ibu sudah memasak kuah sayur asem kesukaan kaka dan jangan lupakan tiram baladonya.“ beritahunya yang membuatku jadi tak sabar untuk menyantap makanan yang sangat menggoda nafsu makanku.
"Inilah kuah sayur asem bikinan ibu, 🤤 ada yang mau gak ? pencinta kuah sayur asem 😏 mana suaranya." 😮
"Inilah tiram baladonya." 🤤
“Baiklah ayo!“ ajakku sambil berjalan beriringan dengan nya menuju dapur.
Sesampai disana aku pun mulai duduk.
“Ibu tau aja makanan kesukaan ku,“ ucapku senang.
“Ya tau lah! kamu kan juga pernah menjadi anak ibu,“ responnya yang semakin membuatku menyengir kuda.
Setelah ibu duduk kami pun memakan makanan kami, ibu dan Iqlima hanya menggeleng – gelengkan kepala sambil tertawa geli karna melihatku yang sangat lahap saat menghabiskan makananku.
Saat selesai aku membantu ibu dengan menyuci piring, kemudian pergi berbaring kembali diatas kasur. Aku tak sabar menunggu hari esok sekolah. Untung besok adalah hari selasa, jadi aku tidak perlu repot – repot upacara.
Memang seru sih melihat para paskibra menaikkan bendera, tapi cahaya matahari membuatku malas untuk bertahan lama disana, belum lagi saat aku harus mendengarkan ceramah pembina upacara yang membuat kakiku sakit karna menunggu lama.
Tiba - tiba ponsel ku berdering dan terpampang nama Eris disana.
“Assalamualaikum!“ ucap suara dibalik ponsel.
“Wa’alaikum salam Eris! gimana? apakah kau sudah sampai? bagaimana reaksi mereka saat melihat perubahanmu? apakah kau masih di izinkan tinggal disana?“ tanyaku bertubi – tubi.
“Tentu saja mereka menerima ku, bahkan mereka sangat senang dengan perubahanku. Kau tau kenapa? karna mereka sudah lebih dulu masuk islam sebelum aku, aku sangat bahagia!“ jawabnya.
“Masya Allah! benarkah? kau sedang tidak menipuku kan?“ tanyaku dengan nada serius.
“Tentu tidak sahabatku sayang,“ jawabnya.
__ADS_1
“Iya deh aku percaya,“ responku sambil tersenyum lebar.
“Bagus kalau bagitu, kau sendiri gimana?“ tanyanya.
“Aku baik sahabat tersayangku!“ jawabku sambil terkekeh geli.
“Ya sudah! sampai ketemu besok, bye!" sambungku.
“Bye juga,“ responnya lalu menutup ponsel.
Setelah mematikan telpon tubuhku masih terasa sangat lelah hingga akhirnya dalam sekejam mataku sudah terpejam kembali untuk masuk kedalam mimpi.
Kini jam telah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Aku dan Iqlima sedang bersantai diruang tamu sambil menonton televisi.
“Bosen gak?“ tanyaku akhirnya.
“Bosen lah kak! masak enggak!“ jawabnya.
“Ya sudah! kalau begitu kita jalan – jalan yok!“ ajakku.
“Yaudah ayok! pas banget, sebab malam ini ada pasar malam didekat kota!“ responnya mulai bersemangat.
“Tapi kita minta izin dulu sama ibu,“ perintahku.
“Baiklah!“ responnya sambil mengangguk.
Kami pun berjalan beriringan menuju dapur, kulihat ibu sedang sibuk bergulat dengan bahan - bahan dapur untuk makan malam kami nanti.
“Ibu kami minta izin yah?“ ucap kami serempak.
“Enggak kok bu! kami masih kenyang sebab tadi siang makannya banyak banget,“ jawab Iqlima.
“Bukannya kak Aisyah yang banyak makan?“ goda ibu sambil menaikkan satu alisnya.
“Ah ibu! kami kan mau makan diluar sekali – kali! lagian Aisyah sudah rindu banget pengen lihat pasar malam di Indonesia!“ ucapku malu.
“Ya sudah! berarti ibu tidak perlu repot – repot masak makanan yang banyak dong malam ini! cukup untuk ibu sama ayah aja!“ responnya sambil mencincang wortel.
“Beres bu! ya sudah kami berangkat dulu yah!“ pamitku sambil menyalami tangannya yang di ikuti oleh Iqlima.
Setelah itu kami pun langsung keluar rumah dan menuju kegarasi untuk mengambil motor Mio pink kesayanganku yang sudah lama tak kusentuh dan kini sudah sedikit berdebu.
Kali ini aku yang membonceng Iqlima menuju lapangan pasar malam.
Disepanjang jalan kami sibuk memandang keindahan kota Jakarta dengan jampu jalan yang kerlap kerlip, sesampai disana kami langsung meletakkan motor kami ditempat parkiran setelah membayar pada pak penjaga tempat parkiran.
Kami pun masuk dengan tangan yang tak perlah lepas dari genggaman satu sama lain.
“Waw! komedi putarnya besar banget malem ini! gak kayak biasanya!“ seruku kagum.
“Iya kak! kita kayaknya sedang beruntung bisa datang malam ini! permainannya banyak banget lagi!“ respon Iqlima sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Beginilah suasananya." 😊
"Inilah komedi putar raksasanya."
“Kak! beli bakso bakar yok!“ ajak Iqlima sambil menunjuk sang penjual yang sedang sibuk mengipas bakso yang telah ditusuk diatas panggangan.
Aku hanya mengangguk dan kini kami mulai berjalan menuju sipenjual.
“Bang bakso bakarnya sepuluh tusuk ya!“ pintanya.
“Kok sepuluh?“ tanyaku bingung.
“Kan aku lima kaka lima,“ jawabnya santai yang hanya kubalas dengan anggukan tanda mengerti.
"Inilah bakso bakar yang sedang mereka pesan untuk dimakan." 😂
Untung kami pelanggan pertama, jadi tak perlu menunggu waktu lama karna baksoya sudah dibakar sejak tadi. Setelah menerima pesanan dan membayarnya kami langsung pergi dari tempat duduk kami saat menunggu tadi.
“Kak naik komedi putar yok!“ ajaknya antusiasi sambil terus menunjuk ke arah benda yang sedang berputar itu.
“Ya udah ayo!“ responku.
Setelah membayar kami akhirnya dapat juga menaiki wahana itu sambil menikmati bakso bakar yang tadi kami beli.
“Wah! kak lihat keatas deh! cantik banget tau, pasti kaka suka!“ serunya sambil menyenggol tanganku.
Aku yang awalnya sibuk dengan makananku kini jadi terhenti karna terpana saat aku mengangkat wajahku, ternyata ada banyak bintang diatas langit.
“Kamu benar dek! cantik banget!“ responku sambil tersenyum senang.
Waktunya pun habis, kami kini turun dan mencoba berbagai macam permainan lain. Setelah lelah kami akhirnya memutuskan beristirahat dikursi panjang yang ada dilapangan itu.
“Kak! aku laper tau! sejak tadi kita cuman makan bakso bakar!“ rengeknya sambil memegang perutnya yang kini telah berbunyi.
“Ya sudah! kamu mau makan apa?“ tanyaku yang membuat matanya berbinar.
“Atu bakso lah!“ jawabnya semangat.
“Ya sudah ayo!“ ajakku sambil menggandeng tangannya.
Usai kami membuang kertas makanan kami ketempat sampah kami pun jadi sibuk mencari penjual bakso, setelah beberapa lama berjalan akhirnya kami dapat menemukannya dan masuk kedalam sebuah ruangan setelah memesannya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇