Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 76


__ADS_3

     Hari mulai malam, tapi kami masih setengah perjalanan menuju keIstana.


     “Kakiku sudah tidak kuat lagi,“ keluhku sambil memegang lutut dan terjatuh seketika.


     Ahmar yang melihat wajahku sudah dalam keadaan pucat pasi langsung menyuruhku naik kepunggungnya.


     “Jangan kaka! kita sudah tidak jauh lagi kok! kaka duluan aja, lalu tolong panggilkan salah satu prajurut yang ada dipintu gerbang untuk membopongku. Kaka pasti udah lelah juga kan? gara – gara keegoisanku kuda kaka jadi lepas deh!“ tolakku yang langsung direspon dengan tatapan tajam .


     “Naik atau nanti ada harimau yang memangsamu!“ ancamnya menakutiku.


     “Ih kaka! jangan buat aku takut,“ ucapku resah.


     “Makanya naik kepunggungku atau aku akan meninggakan mu sendirian!“ ancamnya lagi sambil memberikan tatapan yang lebih tajam.


     Aku tak peduli karna aku tak tega ketika melihat wajah kami sama – sama dalam keadaan pucat, mana mungkin aku malah enak – enakan menambah beban tubuhnya.


    “Dasar keras kepala!!!“ gertaknya sambil mengambil kedua tanganku dan melingkarkannya dilehernya.


     Ia pun tak jadi menggendongku dengan punggungnya, tapi malah membopongku dengan kedua tangannya.


     Sesampai dipintu gerbang, ia langsug disambut panik oleh para prajurit. Mereka menawarkan bantuan untuk membawa gadisnya, tapi Ahmar tidak mengizinkannya. Ia mengisyaratkannya dengan tatapan matanya yang sangat tajam hingga membuat prajurit mundur dan pergi dari hadapannya.


     Dengan tubuh yang sudah dipenuhi keringat ia disambut hangat oleh keluarga Istana, mereka juga sangat terkejut dan menyuruh bantuan dayang. Dengan lembut ia menolak keinginan keluarga Istana lalu langsung membawa gadisnya keatas.


     Ia berpesan agar tidak mengganggu mereka. Karna sudah tak kuat lagi setelah menaiki tangga ia pun terpaksa menaruh tubuh gadisnya diatas kasurnya, sedangkan ia lebih memilih berbaring diatas lantai sambil mengatur nafasnya.


    “Mengapa kau selalu mengorbankan dirimu untukku?“ tanyaku sambil berbaring lemas.


     Ahmar hanya tersenyum samar.


     “Karna aku sangat mencintaimu Hamra,“ jawabnya lalu mulai memejamkan matanya kemudian tertidur dengan pulas.


     “Kenapa kau tidur dilantai kaka? nanti tubuhmu jadi sakit!“ peringatku yang tak dibalas oleh sang pemilik tubuh karna ia telah meluncur kealam mimpi.

__ADS_1


     “Kaka aja kuat demi aku, masa aku enggak! aku harus menyelimutinya.“ batinku bangkit dengan tubuh yang bergetar hebat sambil membawa selimut tebal yang kuambil dari atas kasur beserta bantal.


     Dengan hati – hati tanganku bergerak menyelimuti tubuhnya setelah mengangkat perlahan – lahan kepalanya untuk menaruh bantal supaya empuk, saat selesai aku mulai berdiri kembali untuk menuju keatas kasur.


     Karna sedang hoyong kakiku tak sengaja menabrak kaki Ahmar hingga aku jadi terjatuh tepat diatas Ahmar yang langsung membuat pria itu terbangaun dari mimpi indahnya.


     “Maafkan aku,“ ucapku takut – takut.


     Bukannya marah tapi Ahmar malah mengelus puncak kepalaku dan bangkit dari tidurnya yang nyenyak.


     “Makasih yah udah mau peduli,“ reaponnya.


     Aku pun hanya mengangguk lalu berusaha untuk berdiri kembali. Tapi lagi – lagi aku terjatuh karna kondisiku yang lemah, untung Ahmar berasil menangkapku.


     “Sudah jangan dipaksakan, kamu kan masih belum seimbang.“ nasehatnya sambil berusaha bangkit dan mengangkat kembali tubuhku lalu mulai meletakkannya diatas kasur.


     “Kaka mau kemana?“ tanyaku saat melihatnya sudah mengambil anduk dan pakaian miliknya menuju kamar mandi.


     Aku sebenarnya juga ingin mandi, tapi tubuhku sedang tak sanggup. Akhirnya aku memilih mandi besok aja sambil menunggu kekuatanku pulih. Lagian tubuhku tidak terlalu berkeringat seperti Ahmar yang sangat kelelahan karna mengangkat bobot tubuhku.


    Setelah puas berendam di bak mandi ia mulai menyikat gigi dan mengelap tubuhnya lalu mulai memakai baju. Seandainya tidak ada Hamra, mungkin ia sudah memilih memakai baju diluar kamar mandi.


     Usai dengan aktivitasnya di dalam ia kini keluar dengan memakai baju tidur dan menarik kasur kedua di bawahnya.


     Kemudian tidur dibawah gadis yang sangat ia cintai. Ia menatap sekilas wajah gadisnya lalu membaringkan dirinya dikasur kecil tersebut setelah mengambil satu bantal diatas kasurnya.


     Mulai sekarang ia akan berusaha untuk selalu menjaga jarak dengan Hamra agar Hamra tidak sedih! nanti jika sudah bersama baru ia tidak akan melepaskannya. Ia akan terus menjaganya, menggandengnya dan memeluknya.


      Saat sedang enak – enak tertidur, ia baru tersadar bahwa ia belum menyembah kepada-Nya. Ia langsung bangkit kembali untuk mengkodho sholat ashar dan magrib. Entah mengapa hari ini ia bisa lupa, biasanya ia selalu langsung mengerjakannya walau pun masih diperjalanan.


     Ia kan pria! jadi dalam urusan sholat lebih mudah, tinggal menjaga kesucian pakaiannya saja. Setelah menyelesaikan sholatnya ia mulai membangunkan gadisnya perlahan – lahan.


    "Hamra! Hamra! bangun dulu yok sholat,“  ajaknya sambil menepuk pelan pipiku.

__ADS_1


     Aku yang mendengar kata – kata sholat langsung berusaha untuk membuka mataku.


     Ia pun membantuku untuk bangkit dalam keadaan masih memakai baju koko serta sarung hitam dengan sedikit motif dibawahnya.


     Aku sebenarnya masih pusing dan sangat mengantuk, tapi karna ini adalah suatu kewajiban aku harus berusaha.


     Lagi pula tubuhku kini sudah tidak terlalu lelah lagi. Ahmar menuju kekamarku untuk mengambil kan perlengkapan sholatku dan sebuah baju tidur, kemudian menyerahkan kembali padaku. Aku yang baru keluar dari kamar mandi langsung tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


     Lalu aku balik kekamar mandi untuk mengganti bajuku dengan baju piama tidur. Untung Ahmar sudah membawakannya, saat keluar aku masih memakai jilbab kurung hitam dengan baju piama.


     Aku  pun memakai mukena setelah mencopot jilbab kurung ku dari dalam mukena agar Ahmar tak melihat rambutku. Ahmar mulai membantuku menggelar sejadah kearah kiblat. Aku yang telah berdiri diatas sejadah mulai melaksanakan kewajibanku yang sempat tertinggal.


      Ahmar kini tinggal melepas sarungnya dalam kondisi sudah memakai celana panjang, juga baju koko yang didalamnya sudah ada baju tidur.


     Ia sengaja memakai baju dua lapis karna malas harus melakukan pekerjaan yang sama dua kali nantinya.


     Setelah selesai aku memakai kembali jilbab kurungku kemudian melipat mukena lalu aku pun pamit untuk kembali kekamarku.


     Saat ingin melangkah ternyata kakiku masih sangat keram. Aku jadi tertatih – tatih untuk berjalan kearah pintu, Ahmar yang melihatku kesusahan ketika berjalan semenjak bangun dari tidur langsung sigap memopongku untuk mengantarkanku kekamarku sendiri.


     Aku merasa tidak enak dengannya, sudah berapa kali ia harus membopongku.


     “Apakah ia tidak lelah?“ batinku lalu langsung berbaring diatas kasur empukku setelah meletakkan mukena dikaki ranjang dan baju kotorku dibawah ranjang.


      Ahmar pun pamit dan langsung menutup pintu kamarku dengan pelan. Aku jadi tertegun. Aku sebenarnya merasa sangat beruntung mempunyai sahabat sebaik kak Ahmar, tapi kadang tingkahnya yang mengekangku terlalu ketat membuatku jadi tak tahan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2