Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 62


__ADS_3

     Ia masih terus menggandeng tanganku hingga turun dari tangga, tanpa ku sadari orang tuaku dan Ahmar yang tak sengaja berpapasan dengan kami didepan tangga langsung melihat kami dengan ekpresi yang tidak biasa.


     “Eh! ada yang nempel mulu tuh,“ goda ayahandaku.


     “Iya kayaknya serasi banget deh!“ sambung ayahanda Ahmar.


     “Nikahin aja kali yah? kadang udah saling cinta?“ ucap ibundaku tak mau kalah.


     “Bener tuh! apa salahnya nikah muda, kita kan bisa cepat – cepat gendong cucu.“ sambung ibunda Ahmar.



"Assalamualaikum semuanya, 🤗 perkenalkan aku ibunda Hamra." 😊



"Assalamualaikum semuanya, 🤗 perkenalkan aku ayahanda Hamra."


     Aku yang mendengar itu semua hanya mampu menundukkan wajahku, aku merasa sangat malu. Bahkan lebih malu dari pada kejadian semalam, kak Aisyah yang melihat itu bukannya membelaku malah ikut – ikutan berkata “iya gak papa! kalian nikah aja duluan, kaka mah gak keberatan kok diselang.“ godanya.


     Ahmar yang melihat tingkahku hanya mampu terkekeh.


     “Iih ibunda! apa – apaan sih! kan Hamra masih sekolah, gak etis banget deh! lagian acara pernikahan kak Aisyah kan gak lama lagi, ngapain juga harus ngebet acara Hamra! kecuali kak Aisyah belum punya pendamping! ini kan udah.“ dengusku kesal.


     “Gak boleh kayak gitu Hamra! kamu harusnya bersyukur karna jodoh kamu datangnya cepat bukannya lama,“ nasehat ibunda Ahmar.


     “Emang ibunda sama ayahanda percaya aja gitu kalau pria yang ada disamping Hamra ini adalah jodoh Hamra?“ tanyaku tak percaya.

__ADS_1


     “Kami semua percaya karna kalian sangat serasi,“ jawab mereka kompak kecuali Ahmar.


     Ia hanya tersenyum saja sejak tadi.


    “Kalau Ahmar mah siap – siap aja! kapan pun buat lamar Hamra, ma tergantung Hamranya aja mau apa enggak.“ respon Ahmar mulai membuka suara.


     “Ih! ya tentu aja enggaklah kak Ahmar guanteng ples kaya, ples ples ples deh! aku bukannya gak bersyukur ya tapi aku ini masih muda banget! pake banget tau! jadi kalau masih muda itu kudu poya – poya dulu, jangan cepat – cepat ngerasain asam jawa."


     "Nanti kalau udah yang namanya berumah tangga gak bakalan ada tuh yang namanya kebebasan, hidup akan terus terkekang mulu. Gak percaya? buktiin aja sendiri!“ dengus ku kesal sambil melipat kedua tanganku.


     “Yaudah! makanya ayo kita nikah biar semuanya terbukti apa enggak,“ tawarnya.


     “Ogah!“ tolakku cepat lalu berlari duduk dikursi meja makan.


     Tanpa menunggu yang lain, aku langsung mengambil piring dan menyuruh dayang untuk menaruh sedikit nasi untukku, mereka yang melihat tingkahku hanya menggeleng – gelengkan kepala.


     Sesekali mereka tertawa karna merasa sangat lucu, tapi menurutku sangat membosankan. Benar – benar membosankan dan kadang membuat mood ku yang awalnya naik jadi turun menjadi nol derajat celcius.


     “Ibundaku yang cantik jelita secantik – cantiknya pokoknya, putrimu ini ingin sekali olahraga pagi sebelum matahari terbit. Sekarang matahari udah gak mau ngumpet lagi, otomatis nanti Hamra bakalan kepanasan dan hangus kayak arang. Jadi dari pada - dari pada Hamra milih buat makan aja, pas banget makanannya udah siap dan perut pun sudah berteriak! alhasil makan juga deh pilihannya.“ jawabku panjang lebar.


    Semua yang mendengar ucapanku hanya tertawa riang sedangkan aku malah semakin dibuat kesal oleh mereka, kekesalanku terasa sempurna setelah Ahmar malah duduk disampingku.


     “Nih! ngapain coba kaka duduknya dekat aku! tuh kursi kosong banyak kaka! maunya nempel mulu kayak magnet, magnet aja yang gak cocok gak nempel.“ protesku kesal.


     “Masak?“ ucapnya acuh tak acuh lalu mulutnya mulai sibuk mngunyah makanan.


     “Kenapa malah ikut – ikutan gak olahraga sih? kaka kan tahan panas!“ tanyaku kesal.

__ADS_1


     “Laper,“ jawabnya singkat.


     “Ih! dasar kaka nyebelin,“ dengusku.


     “Nyebelin tapi ngangenin kan?“ tanyanya sambil mengedipkan matanya kearahku.


      “Enggak sama sekali tau! malah aku jadi muak!“ jawabku cepat.


     “Jangan gitu dong Hamra... Nanti rindu lho sama sosok Ahmar! dia orangnya ngangenin dan jago buat orang bikin perhatian sama dia.“ bisik ibunda Ahmar kepadaku yang masih bisa didengar oleh orang yang berada dimeja makan.


     “Emang iya ibunda? tapi Hamra mah gak percaya dengan yang belum pasti, apa lagi yang modelan kayak begini.“ gurau ku sambil terkekeh pelan, merasa menang karna aku telah menjatuhkan kepercayaan Ahmar.


     Ahmar dengan tenang menaruh gelas yang ada ditangannya setelah meneguknya, lalu ia pun dengan santai membuktikan semuanya.


     “Gak papa kalau Hamra gak percaya! intinya kaka udah pernah membuat Hamra perhatian bahkan rela terbangun dari tidur nyenyaknya pada waktu malam cuma gara – gara kaka sakit,“ ceritanya penuh kemenangan sambil menatap senang kearah mataku.


     Aku jadi tak bisa berkata apa - apa, bisa - bisanya Ahmar tanpa rasa malu ingin menceritakan itu. Tapi aku sangat bersyukur karna dia belum menceritakan bagian parahnya.


     Dengan sigap aku menginjak sepatunya untuk memberi isyarat, ia pun meringis kesakitan.


     "Awas aja yah kalau kaka jelasin semuanya! jangan harap aku mau bicara sama kaka lagi, dan aku bakalan balik ke Indonesia untuk selamanya agar dapat pergi jauh dari kehidupan kaka. Pokoknya kalau itu terjadi gak bakalan ada lagi yang namanya cinta dihati Hamra." ancamku yang langsung membuatnya tak dapat berkutik.


     Ancamanku memang sangat luar biasa berat baginya, hingga ia hanya mampu menelan saliva yang ada dimulutnya dan diam tanpa berkata sepatah kata pun.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2