
Azan subuh mulai berkumandang melalui radio pink yang ada dikamarku, aku kini langsung terbangun untuk melaksanakannya. Setelah selesai aku mengambil anduk untuk mengelap tubuhku usai membersihkan diri.
"Inilah radio pink milik Aisyah." 😘
Selasai mandi aku langsung membuka lemari pakaianku dan memilih salah satu baju gaun berwarna pink fanta yang berkerlap kerlip dibagian dadanya, tapi saat aku melihat lemariku seperti ada yang kurang.
"Inilah baju gaun yang Hamra pilih."
Benar saja tidak ada kerudung disana, aku pun harus membuatnya sendiri dengan kekuatanku yang kainnya sama dengan warna baju.
Aku lupa bahwasanya yang baru ku ubah itu hanya kamar tiruanku, dan kini sepertinya lubang itu telah lenyap beserta isinya karna waktunya telah habis.
Setelah membuat lemari lagi aku langsung mengubah semua barang yang ada didalamnya menjadi baju dewasa zaman sekarang.
Tak lupa juga dengan sepatu, mukena dan hijab. Baju gaun yang sudah aku keluarkan sejak awal kini sudah berubah tapi masih dengan warna dan motif yang sedikit sama.
Aku juga merubah wajahku kewajah asliku kembali. Setelah membuat sedikit model kerudung dan menaruh bros bunga kecil disamping kiri aku pun selesai. Aku kini sedang melihat pantulan diriku dicermin yang terlihat sangat cantik dan anggun.
Sudah lama aku tidak memakai baju Kerajaan yang sangat indah, aku pun langsung membuka lemari koleksi sepatuku setelah menutup lemari baju.
Mataku jadi berhenti tepat pada sebuah sepatu kaca berhak tinggi yang juga berwarna pink fanta.
"Inilah sepatu hak yang dipilihnya."
Eris bella yang baru terbangun langsung menatap kagum kearahku, aku yang dilihat begitu jadi salah tingkah ketika sedang bergaya didepan cermin setelah mengenakan sepatu tersebut.
“Eh sahabatku! sudah bangun?“ ucapku sambil tersenyum kikuk.
“Hahaha! biasa aja kali jawabnya, gak usah kayak gitu.“ responnya sambil tertawa.
Ia tanpa kusuruh langsung bergegas bangkit dari tidurnya setelah mengambil salah satu andukku dan mulai membersihkan diri dikamar mandi.
“Assalamualikum tuan putri!“ ucap seseorang setelah mengetuk pintu kamarku beberapa kali.
“Wa'alaikum salam, ada apa?“ tanyaku pada seseorang dibalik pintu tanpa membuka terlebih dahulu karna aku sangat malu memperlihatkan penampilanku.
Ditambah lagi dengan wajahku yang sudah ku oles make up tipis dengan lipstik berwarna pink yang semakin memenorkan bibirku.
“Maaf tuan putri! ibunda dan ayahanda menyuruh tuan putri untuk turun ke meja makan karna masakan sudah siap,“ jawab dayang.
"Baik, terima kasih!“ responku lalu langsung menghampiri kamar mandiku dan berkata kepada Eris bella.
“Eris!" seruku setelah mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
“iya ada apa?"“ tanyanya.
__ADS_1
“Aku dipanggil ibunda nih! disuruh keruang makan, disana pasti juga udah ada orang tuamu. Mereka sudah menunggu kita tau!“ jawabku sedikit mengeraskan suara karna pancuran air yang sangat keras pasti sulit membuat Eris bella mendengarkan ucapanku dengan jelas.
“Oh yaudah! kamu duluan aja Hamra! aku nanti nyusul!“ ucapnya.
“Deg!“
Jantungku sedikit berdetak jadi begitu kencang saat Eris memanggilku dengan sebutan Hamra. Ini kali pertama Eris memanggil nama asliku, biasanya kan ia lebih suka memangil nama samaranku.
“Ya udah! kalau udah mandi nanti jangan lupa yah pilih aja baju ku yang ada dilemari, begitu juga dengan sepatu. Terserah kamu aja deh kalau enggak! ambil apa aja yang menarik bagi kamu.“ tawarku sebelum meninggalkannya.
“Oke! makasih ya sahabatku!“ jawabnya yang masih sibuk dengan air pancuran.
Kamarku terletak dilantai dua sedangkan ruang makan dilantai bawah, dengan hati – hati aku berjalan menuruni tangga supaya gaunku tidak terinjak.
Semua yang ada dimeja makan yang awalnya asyik berbincang kini telah sunyi. Mata mereka sibuk mencari suara sepatu yang sedang berbunyi, lalu mata mereka telah tertuju kepadaku yang sedang menuruni tangga dengan satu tangan yang memegang besi tangga.
Aku jadi terlihat seperti seorang putri yang sedang menuruni tangga dengan sangat anggun, sehingga seluruh mata mulai menatap kagum kearahku. Ya memang aku seorang putrikan?
Aku duduk dikursiku yang letaknya disamping Ahmar, aku jadi lupa kalau dirumahku sedang banyak orang. Jadi salah tingkah sendiri nih! saat memakai pakaian yang warnanya mencolok.
Lama – lama aku jadi merasa risih dengan orang – orang yang terus menatapku, apalagi
Ahmar. Ia sejak tadi tak berhenti memalingkan wajahnya dariku.
“Oh iya ibundanya Eris! Erisnya mungkin sebentar lagi datengnya, karna ia lagi siap – siap." beritahuku sambil tersenyum
manis lalu langsung memutar wajah Ahmar agar menghadap kearah depan.
“Karna kamu cantik tau!“ jujurnya sedikit menggoda sambil mengedipkan mata.
“Lho! kok mata kaka kedap kedip gitu? kelilipan yah? tunggu aku panggilkan anak ayam yah buat niupin mata kaka! sekalian aja dipatok!“ responku sambil pura – pura berakhting khawatir karna kesal.
Sontak satu meja makan yang mendengarkan ucapanku langsung tertawa terbahak – bahak, mereka bahkan tak peduli dengan eksperesiku yang sedang kesal gara – gara Ahmar.
Aku hanya mampu melipat kedua tanganku kebawah dada sambil menatap malas makanan yang sudah tersedia diatas meja.
“Jangan marah marah ah! gak seru! nanti kalau kalian jodoh gimana? yang marah bakal jadi rindu!“ goda ayahandaku sambil menaikkan sebelah alisnya.
Aku yang mendengar kata – kata ayahanda jadi bertambah kesal.
“Amiiiin,“ ucap Ahmar sambil mengusap kedua tangannya kewajahnya.
“Eh! apa –apaan amin amin terus, emangnya aku langsung terima apa?“ protesku kesal.
“Memang enggak! tapi aku bakal berusaha buat dapatin cinta kamu gimana?“ tanyanya yang langsung membuat pipiku merona.
“Tuh kan pipinya merah! berarti kamu suka sama kaka,“ ledek nya.
“Ih! mana ada! kakak aja yang geer,“ elakku sambil memalingkan wajahku kearah lain.
“Ibunda dan ayahanda Ahmar pun setuju, kalau Hamra jadi menantu kami.“ ucap ayahanda Ahmar yang mulai mengangkat suara setelah sejak semalam tidak berkata sepetah kata pun dan hanya mampu mengikuti dan mendengarkan apa yang kami ucapkan setelah menang.
__ADS_1
“Ya ampun!!! malunya aku,“ batinku.
“Yang bener ayahanda?“ tanya Ahmar sambil tertawa kegirangan, aku hanya mampu berdecak kesal.
“Jangan mimpi yah! orang tuaku aja belum merestui! lagian yah aku ini kan masih sekolah dan status kita ini kan cuma sahabat kaka! kaka ngerti gak sih?“ seruku mulai resah.
Jujur sebenarnya aku malas membalas masalah ini, cuma mau bagaimana lagi aku tetap harus mendiaminya.
“Gak boleh kayak gitu Hamra! ibunda dan ayahanda akan terus merestui apa yang membuatmu bahagia. Kita dengan keluarga Ahmar tidak ada hubungan saudara kok! kalian pasti boleh untuk menikah. Walau pun gak sekarang tapi suatu hari nanti, dan ibunda pun gak sabar pengen gendong cucu ibunda.“ ucap ibunda hingga berhasil membuat bola mataku membulat.
“Ih ibunda! jangan Hamra mulu napa! tuh kak Aisyah tuh! yang udah cukup umur disuru nikah, masak Hamra duluan. Gimana sih! ini mah gak adil namanya, Hamra pengen bebas dulu. Kalau ada suami capek nanti gak bisa kemana – mana karna apa – apa harus izin dulu, kalau enggak pasti nanti kena batunya. aduh..! pasti capek banget! lebih baik jadi jomblo, kan bebas! gak ada yang larang waktu kemana – mana.“ celotehku sambil tersenyum bahagia.
“Dasar Hamra! emangnya mau jadi jomblo sampe sekarat? nanti ujung – ujungnya nikah sama duda mau emang?“ cibir kakaku sambil menatap tajam kearahku.
Aku hanya mampu terkekeh geli.
“Iya - iya maaf kak maaf! jangan marah – marah yah! nanti cepat ubanan kayak nenek peyot mau man?“ tanyaku yang lagi – lagi membuat seisi meja makan tertawa mendengar ucapanku yang menurut mereka sangat lucu.
“Kamu gak usah khawatir! kaka kamu udah ada yang punya. Karna peperangan! pernikahannya jadi tertunda. Tunangan kaka mu pun jadi sulit untuk kesini, ia berasal dari Kerajaan awan. Namanya adalah pangeran Arfah. Ia adalah anak tunggal dari Kerajaan itu.“ jelas ibundaku.
Aku hanya mampu menggeleng - gelengkan kepala mendengar sesuatu yang hampir saja tak masuk akal itu tapi ada.
“Pestanya akan digelar seminggu lagi,“ sambung ayahanda.
Aku sangat terkejut mendengaran ucapan ayahanda.
“Ampun dah! cepat amat? tapi gak papa! aku bisa makan – makan sepuas ku sebelum kembali ke Indonesia.“ batinku.
“Oh ya! Eris bella kok dari tadi belum turun – turun juga? lama banget sih siap – siapnya! apa jangan – jangan sakit perut,“ tanya ibunda Eris mulai khawatir.
“Apaan sih ibunda!“ ucap seseorang yang sedang berjalan dibelakangnya sambil mengecup pipi ibundanya lalu duduk disamping Brago.
Ia menggunakan gaun ijo lumut polos selutut dengan bando yang ia sematkan dikepalanya, dan karna rambutnya masih basah ia pun hanya membiarkannya terurai setelah disisir. Ia jadi terlihat sangat cantik.
"Seperti inilah contoh gaunnya." 😇
“Kamu sangat cantik Eris,“ pujiku sambil tersenyum.
Yang lainnya hanya mengangguk membenarkan ucapanku.
“Baiklah! karna kita semua telah berkumpul, mari kita baca doa sebelum makan sesuai kepercayaan kita masing – masing.“ ucap ayahandaku sambil tersenyum.
Setelah membaca doa semua orang sibuk menikmati makanan yang telah tersaji, yang terdengar hanyalah suara dentingan garpu dan sendok diruangan ini.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇