Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 74


__ADS_3

     “Kaka aku siap!“ seruku sambil sedikit melompat – lompat saat berjalan.


     “Jangan bilang kamu pakai sepatu berhak,“ tegur Ahmar karna ia tidak mau kaki Hamra terkilir saat latihan nanti.


     “Oh jangan hiraukan kakiku kaka, kan aku pake sepatu ples kaos kaki." respon ku sambil memperlihatkan sepatu hitamku yang bersih.


     “Baiklah ayo!“ ucapnya sambil mengajakku naik didepannya.


     Aku hanya mengernyitkan dahi karna heran.


     "Mengapa kudanya cuma satu?“ pikirku merasa heran.


     "Sudah tidak perlu memasang mimik begitu, kamu mau belajar kan? gak mungkin pemula sepertimu langsung menaiki kuda sendiri.“ jelasnya sedikit terkekeh.


     “Kaka ledekin aku yah?“ dengusku cemberut.


     Ahmar pun turun dari atas kudanya, lalu mengangkat tubuhku keatas punggung kuda. Aku sampai terkejut karena mendapat perlakuan seperti itu secara tiba - tiba, saat dirasa pas baru ia mulai naik dibelakangku.


     Setelah menghentakkan tali yang melekat diwajah kuda, kuda pun mulai berjalan. Aku jadi merasa sangat senang, ini pertama kalinya aku menaiki kuda yang menjadi impianku sejak lama.



     "Nah! 🤣 inilah kudanya Ahmar."


     Rasanya aku ingin berteriak keras.


     “Aaaaa!“ teriakku sambil mengangkat kedua tanganku.

__ADS_1


     “Jangan teriak – teriak gitu! gak malu apa diliatin?“ bisik Ahmar ditelingaku.


    “Jah gak ada orang pun! kaka halu yah?" tanyaku sambil tertawa meledek.


     “Oh! jadi makhluk Allah yang lain gak dianggap?" jawabnya sambil menunjuk puluhan burung yang sedang terbang bersama diangkasa.


     “Ih! dasar kaka! itukan burung kaka! bukan manusia! siapa peduli coba! lagian kan disini gak ada manusia selain aku,“ ucapnya santai.


     “Terus kaka kamu anggap apa? hantu? hewan, tanah–“ belum sempat Ahmar menyelesaikannya Hamra sudah membekap mulutnya.


     “Bodo amat! lebih baik resleting aja mulut kaka,“ sengitnya.


    “Emangnya pakaian apa!“ serunya sambil menaikkan sebelah alisnya.


     Aku hanya mampu mengepalkan tanganku sambil menahan gerakan yang membuatku ingin sekali menghajar wajah tampannya.


     “Baiklah kita sampai!“ sambungnya senang.



       "Seperti inilah kejernihannya." 😍


     “Nah! pegang tali ini,“ perintahnya kepadaku.


     Aku yang masih takut ragu – ragu meraihnya hingga Ahmar langsung saja meletakkannya diatas tanganku.


     “Dengar yah Hamra! kalau kamu mau menguasainya, kamu harus fokus dan sebisa mungkin membuat dia nyaman sama kamu.“ nasehat Ahmar memberi aba – aba.

__ADS_1


      Aku mengangguk tanda mengerti lalu menghentakkannya perlahan sampai ia mau berjalan dengan pelan. Aku jadi sangat senang, ketika Ahmar melihatku sudah sedikit menguasainya ia memilih turun dari kuda dan membiarkan ku sendirian diatas.


     Ia menaruh jebakan berupa dua dahan kayu dan menyurukku untuk membuat kuda itu melomati nya, jika ingin melompat aku akan sedikit mengeraskan hentakan talinya setelah mengelus dan menenangkan sikuda dengan kata – kataku.


     Sikuda hitam itu menurut dan tampaknya ia sudah menyukaiku, aku jadi sangat senang hingga dengan mudahnya menyelesaikan tantangan yang Ahmar berikan.


    Setelah puas berlatih, Ahmar lalu menyuruhku untuk memandu kuda ini agar berjalan ketempat latihan memanahnya. Walau pun sudah pernah memegang panahan sendiri yang kubuat dari kekuatanku, tapi aku ingin mencoba yang manual agar lebih menantang nantinya.


     Aku sebenarnya sangat takut saat mengendarai kuda ditempat yang belum dilatih, tapi dengan mengumpulkan semua keberanian akhirnya aku bisa juga walau pun jantungku terus berdebar kencang saat menuruni jalan yang curam.


     Akhirnya kami pun sampai dipuncak gunung, pemandangannya terlihat jauh lebih indah jika diatas sini. Angin mulai menerpa kulit wajahku dan aku hanya menyambutnya dengan senyuman.


     Disetiap pohon terdapat lima papan bulatan untuk dijadikan sasaran, dibagian tengahnya terdapat bulatan merah kecil.


     Disamping pohon yang tertempel benda itu terdapat satu buah busur dan sepuluh anak panah. Ini adalah tempat latihan teman – temannya dan karna akhir – akhir ini mereka sangat sibuk! alhasil tempat ini menjadi sangat sepi, biasanya selalu ramai dengan anak muda.


    Kami pun turun.


    Ahmar mulai menghampiriku yang sibuk memilih busur yang berukuran sedang setelah mengikat kudanya dipohon yang dikelilingi oleh rumput ilalang yang lebat.


     Aku jadi bingung, tapi akhirnya aku dapat memilih busur yang Ahmar berikan kepadaku. Sebelum menyuruhku untuk melepaskan panahan, Ahmar dengan santai mengenaliku apa – apa saja yang ada pada busur.


     Saat aku bertarung melawan kelinci api aku sudah pernah mencoba memakai panahan sih! cuma aku hanya menggunakannya secara asal dan tidak tau lebih detail tentang alat yang aku gunakan itu.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2