
Suasana meja makan terasa sepi semenjak kak Aisyah sudah tinggal bersama Arfah. Kini hanya tersisa aku, Ahmar, ibunda dan ayahanda.
“Oh ya Ahmar! sejak kapan kamu sampai kesini? kok Hamra gak kasih tau sih?“ tanya ibunda penasaran.
“Iya tuh! ayahanda baru engeh juga,“ sambung ayahanda.
“Enggak ibunda! ayahanda! kak Ahmar datang kesini cuma buat nyambung tali siraturahim doang kok! lagian kak Ahmar kan juga sudah lama sekali tidak berkunjung kesini,“ jelasku.
“Oh! bagus kalau kayak gitu! jadi kerinduan Hamra bisa menghilang,“ goda ibunda yang langsung aku acuhkan.
“Maaf ibunda! ayanda! saya minta izin pada ibunda dan ayahanda,“ beritahunya yang membuat bola mataku membulat sempurna, seakan tak percaya dengan apa yang Ahmar katakan.
“Ada apa Ahmar?“ tanya ayahanda.
“Tidak! saya cuma minta izin saja untuk tiga minggu kedepan,“ jawabnya.
“Lho! memangnya kenapa? kok harus minta izin?“ tanya ibunda penasaran.
“Insya Allah pada hari itu saya akan melamar putri kedua ayahanda dan ibunda,“ ungkapnya sambil memandang mereka serius.
Aku yang mendengarkan semua ungkapan Ahmar hanya menunduk malu.
“Ya ampun kaka! kenapa mesti minta izin segala? kan bisa minggu pada hari itu saja bilang nya atau minta izinnya,“ batinku sambil memukul dahiku.
Ibunda dan ayanda yang mendengarkan ungkapan Ahmar mulai terdiam, mata mereka kini berkaca – kaca.
“Benarkah Ahmar?“ tanya ibunda tak percaya.
“Iya ibunda!“ jawabnya yang langsung membuat ibunda memeluk ayahanda dan menumpahkan air matanya.
“Ibunda tak menyangka ayahanda! akhirnya Hamra bisa dilamar sama Ahmar,“ ucapnya sambil menangis terisak.
__ADS_1
“Lho kenapa ibunda menangis?“ tanyaku bingung.
“Ibunda mu sangat bahagia Hamra, karna akhirnya yang melamarmu itu seorang pria yang sangat ibundamu percaya untuk menjagamu.“ jawab ayanda ikut berkaca – kaca.
“Jadi ibunda dan ayanda sangat merestui kami dari dulu?“ tanyaku tak percaya.
Aku kira mereka dulu hanya bergurau.
“Tentu putriku! ibunda sangat tau bahwa Ahmar itu sangat baik kepadamu!“ jawabnya sambil melepaskan pelukannya dari suaminya, kemudian beralih menatap Ahmar dengan tatapan lembut.
“Terus bagaimana dengan orang tuamu?“ tanya ibunda.
“Ibunda tidak perlu khawatir! karna mereka sangat merestui keputusanku ini, bahkan dari dulu mereka sudah menawarkannya.“ jelasnya sambil tersenyum hangat.
“Alhamdulilah kalau begitu!“ respon ibunda sambil melihat kearahku.
Aku yang ditatap oleh ibunda hanya menunduk malu.
“Tapi bagaimana dengan Hamra? apakah dia menerimamu saat kau menyampaikan perasaanmu?“ tanya ayahanda serius.
“Ah! tidak usah terlalu buru – buru untuk mendengarkan jawaban Hamra! ayahada pasti nanti ketika waktunya tiba akan mendengarkannya sendiri,“ jawabnya yang dapat membuatku bisa bernafas lega.
“Oh ya ibunda! ayahanda! setelah acara makan ini saya mau izin pamit ya?“ pintanya.
“Wah! kenapa terlalu buru – buru?“ tanya ibunda.
“Maaf ibunda! saya sebenarnya sangat ingin berlama – lama disini, tapi semenjak jadi pemimpin saya jadi sangat sibuk karna masih ada urusan yang masih harus saya selesaikan!“ jelasnya sopan.
“Ya sudah kalau begitu! tapi hati - hati ya!“ pesan ibunda.
“Iya ibunda, pasti saya hati – hati kok!“ responnya sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
💍 Tiga Minggu Kemudian 💍
Akhirnya hari yang tunggu – tunggu itu pun tiba, Ahmar dan orang tuanya sedang duduk disofa keluargaku. Saat kami sudah berkumpul disana tak lupa dengan kak Aisyah dan Arfah yang turut hadir untuk menyaksikan.
Entah mengapa aku jadi merasa sangat tegang sekarang, apa lagi Ahmar terus saja memandang kearahku sedangkan aku hanya menunduk malu.
“Maaf baginda Raja! maksud saya dan keluarga kecil saya datang kesini adalah untuk melamar putri kedua kalian yang bernama Hamra,“ jelasnya.
“Baiklah! kalau kami Insya Allah sudah merestuinya dengan lapang dada! tapi tetap saja pilihan itu tergantung pada putri kami sendiri, karna ia yang menjalankannya.“ jelas ayahandaku.
“Jadi bagaimana Hamra? apakah kau mau menerima lamaranan putra tunggal kami yang bernama Ahmar?“ tanya ayahanda Ahmar yang langsung membuatku sangat gugup bahkan jantungku mulai berdengup dengan sangat kencang.
Setelah menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, aku mulai membalas tatapan mata Ahmar dengan penuh keyakinan.
“Tentu saja! aku sangat menerima lamaran dari kaka,“ jawabku tegas membuat senyuman orang – orang disitu merekah dan mengucapkan Alhamdulillah beberapa kali.
“Baiklah jika begitu! jadi sekarang kita hanya tinggal mendiskusikan hari pernikahannya saja,“ ucap ayahanda Ahmar dengan senyuman yang tak pernah berhenti merekah dari bibirnya.
“Oke! kalau masalah itu, bagaimana jika hari pernikahannya minggu depan?“ usul Ahmar.
“Iya kami juga setuju, karna kan jika menyiapkan acara yang sangat besar butuh waktu lama, rakyat juga kan ikut diundang soalnya!“ ucap ibunda dan ayahanda serentak hingga membuat kami hanya terkekeh geli ketika melihat semangat yang terpancar dari wajah mereka sehingga mereka mampu berbicara dengan kalimat yang sama persis.
“Terus bagaimana dengan Hamra? apakah kau menyetujuinya?" tanya Ahmar.
“Kalau aku mah terserah! asalkan tidak mendadak!“ jawabku sambil tersenyum.
Semua yang ada diruangan itu ikut tersenyum bahagia saat aku juga menyetujui waktu pernikahanku dengan Ahmar, banyak yang mendoakan kesuksesan kami agar lancar ketika proses ijab kabul nanti dimulai.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇