
Disisi lain Ahmar juga sedang menatap pilu dibalik jendela. Ia tak mau membukanya karna akan berakibat fatal untuknya, jadi ia hanya memilih memandang alam dari dalam saja.
Tiba – tiba matanya tertuju pada cincin hijau yang tersemat dijari manis nya, ia jadi rindu dengan gadis nya. Ia tak rela jika dia besok pergi, tapi ia tak bisa memaksanya karna itu adalah haknya. Jadi ia lebih memilih menunggunya.
Tanpa ia sadari air matanya terjatuh.
Air mata Ahmar dan Hamra jatuh secara bersamaan diatas cincin yang membuat mereka jadi menghilang entah kemana.
Kini aku terkejut saat melihat ke sekelilingku karna hanya berwarna putih dan mata ku pun tertuju pada seorang pria yang juga menatap bingung kesekelilingnya.
“Ahmar!“ ucapku.
Ahmar yang mendengar suaraku langsung menoleh kearahku.
Aku pun tanpa sadar langsung memeluknya.
“Kita dimana? aku takut tau!“ tanyaku.
“Aku juga tidak tau Hamra,“ jawabnya senang karna ini pertama kalinya gadisnya yang memeluknya terlebih dulu.
Ia akhirnya juga membalas pelukan gadisnya. Aku kini menangis deras, tubuhku mulai bergetar hebat. Tiba – tiba ada dua cahaya yang keluar, satu dari cincinku sedangkan yang satu lagi dari cincin Ahmar.
Cahaya tersebut pun berubah menjadi sosok yang sangat aku kenal.
“Khadijah!“ seruku sambil melepaskan pelukanku dari Ahmar lalu menghampirinya dengan perasaan haru.
Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya, ia juga balas memelukku.
"Assalamualaikum semuanya, 🤗 perkenalkan namaku Khadijah." 😊
“Aku rindu banget tau sama kamu,“ ungkapku.
“Aku juga!“ jawabnya yang membuatku tersenyum.
“Terima kasih Hamra! Ahmar! air mata kalian telah membebaskan kami dari situ untuk selamanya,“ ucapnya sambil menunjuk kearah cincin kami.
“Ia benar! aku juga sangat berterima kasih! akhirnya selama beberapa tahun terkurung di sana, kami bisa bebas juga dan aku tak sabar untuk melanjutkan pernikahan yang akan kami lakukan karna sempat tertunda.“ sambung seorang peri laki – laki yang tak kalah tampan.
Ia mulai menggenggam tangan Khadijah.
“Terima kasih telah menjaga kami!“ ucap mereka yang membuat ku dan Ahmar mengangguk.
__ADS_1
"Ternyata didalam cincin Ahmar juga terdapat seorang peri laki – laki yang tak lain adalah pangeran peri sedangkan Khadijah adalah putri peri.
“Perkenalkan! namaku Muhammad,“ beritahunya sambil meletakkan telapak tangannya didadanya.
“Maaf! karna kami yang telah membawa kalian kedimensi ini, agar tidak ada yang tau tentang kami! sekarang tugas kami telah selesai! kami harus pamit karna rakyat kami pasti akan sangat membutuhkan kami,“ sambung pangeran peri undur diri.
"Assalamualaikum semuanya, 🤗 namaku Muhammad." 😊
“Apa?“ responku terkejut.
“Jadi aku tidak bisa ketemu kamu lagi dong Khadijah! secara otomatis,“ sambungku sedih.
“Tidak apa – apa Hamra! aku akan selalu mengingatmu dan apa yang telah engkau ajarkan padaku, kamu sudah seperti kakakku sendiri. Pandanglah cincin yang tak lagi memiliki kekuatan itu, jika kau merindukanku.“ pintanya sambil berkaca – kaca lalu menangis deras.
“Pasti!“ responku tegas.
“Kalian adalah pasangan yang serasi dan telah ditakdirkan memegang cincin ikatan cinta ini. Jadi jangan khawatir, karna kalian pasti adalah jodoh.“ beritahu Muhammad sambil tersenyum.
“Amin...“ ucap Ahmar yang mendapatkan tatapan tajam dariku, tapi ia hanya terkekeh.
Aku pun memeluk Khadijah lagi untuk terakhir kalinya dan memasangkan gelang bunga yang aku beli untuknya tapi belum sempat aku berikan. Ia jadi tersenyum lalu menghampiri kekasihnya kembali, mereka lalu terbang menjauh setelah mengucapkan terima kasih.
Aku dan Ahmar kini sudah kembali ketempat masing – masing sebelum masuk kedimensi itu.
“Cklek!“
Suara gagang pintu yang terbuka jadi mengejutkanku dan melihat kearah suara yang tak lain adalah Ahmar.
Aku masih mematung terkunci dalam tatapannya, saat sadar aku dengan cepat memutuskan tatapan yang sontak membuat jantungku mulai berolahraga.
ia mulai mendekat kearahku hingga membuat jarakku dan dia hanya beberapa senti saja.
“Hamra apakah kau tadi juga merasakan apa yang aku rasakan? apakah kau juga melihat makhluk itu? atau itu hanya imajinasiku saja?“ pertanyaannya membuatku gugup.
Aku baru sadar, ternyata aku dibawa kedimensi itu tidak hanya sendirian, tapi dengannya bahkan aku sempat memeluknya. Aku jadi malas mengingatnya, apa lagi persoalan jodoh yang dikatakan peri itu! aku semakin tak mampu berkata – kata.
“Jawab Hamra!“ serunya yang kini merasa diabaikan karna aku hanya menundukkan wajahku.
Dengan berat hati aku pun menarik nafasku dalam dan membuangnya perlahan.
__ADS_1
“Apa yang kau tanyakan itu benar kaka! itu bukan sebuah imajinasi, tapi sebuah kenyataan yang mungkin belum terlalu kaka pahami!“ jawabku sambil terus menunduk.
“Lalu kenapa kau tak mau menatapku? apakah karna apa yang dikatakan peri itu? sebab kau tak menerimanya?“ pertanyaannya malah membuat dadaku sakit.
“Belum cukupkah ku buktikan rasa sayang dan cintaku untukmu? apakah perlu aku kini menyayat diriku supaya kau percaya? kenapa kau sulit sekali membuka hati mu Hamra? apakah aku ini monster didepan matamu? sehingga kau jadi takut kepadaku? apakah aku semenjijikkan itu sehingga kamu selalu menghindariku? jawab Hamra! jawab!" pintanya merasa perih.
Aku yang sudah tak tahan lagi langsung memeluk erat pinggangnya sambil menenggelamkan wajahku pada dada bidangnya.
Air mataku mulai membasahi bajunya. Sebut saja aku gila, bagaimana aku bisa berpikir jernih jika aku telah menyakiti hati kekasihku sendiri.
Aku sebenarnya juga tak sanggup menjauhinya, tapi aku berusaha menjaga jarakku bukan berarti tidak menerimanya. Memang aku pernah berlari karna rasa kesal, tapi entah kenapa jika dengannya aku tidak akan pernah bisa kesal begitu lama.
Tangan kekarnya kini telah membalas pelukanku hingga aku mulai merasakan perasaan hangat itu lagi.
“Maafkan aku kaka! aku gak pernah bermaksud menyakiti mu,“ responku yang masih dalam pelukannya.
Ahmar tidak menanggapinya, ia justru malah semakin tenang saat memeluk gadis nya. Ia meletakkan dagunya diatas kepala gadisnya sambil menatap pemandangan yang sekarang terlihat begitu indah.
Angin malam kini tidak menjadi masalah baginya saat melihat rambut gadisnya mulai berterbangan ditiup angin. Aku pun mulai melepaskan pelukanku dan menyuruhnya untuk pergi dari kamarku karna besok aku harus berangkat.
Ahmar sebenarnya tak rela momen ini berakhir begitu saja, tapi ia harus mengerti untuk saat ini karna ia tak mau gadisnya kelelahan esok hari gara – gara tidak cukup tidur.
“Tapi sebelum aku pergi aku ingin bertanya padamu!“ serunya yang membuat tubuhku menegang.
Aku yang sudah mengetahui jika ia pasti akan mencoba menanyakan tentang perasaan ku padanya membuatku memilih langsung untuk menjawabnya.
“Maaf kaka! aku tak ingin kaka khawatir! jadi aku lebih memilih menutupinya,“ jawabku takut – takut.
“Harusnya kamu tidak seperti itu! aku jadi sangat bahkan lebih sedih dan khawatir jika mengetahuinya secara mendadak,“ responnya sambil menghela nafas kasar.
“Maaf!“ lagi – lagi aku hanya mampu mengatakan kata maaf padanya.
Entah kenapa aku jadi begitu lemah jika dihadapannya dan juga sangat penurut, biasanya aku tidak bisa dibantah.
“Ya sudah!“ responnya yang berjalan kearahku lalu mengacak rambutku sekilas kemudian pergi dari kamarku.
Aku yang diperlakukan seperti itu hanya mampu tersenyum kikuk. Saat Ahmar telah menutup pintu kamarku baru aku melompat keatas kasur empukku dan tertidur dengan nyaman.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇