
Beberapa menit kemudian setelah sibuk berkutat dengan bumbu akhirnya bubur kacang ijo siap juga. Aku pun memasukkan nya kedalam mangkuk satu persatu dan menaruhnya kedalam nampan.
"Seperti inilah hasilnya, ketika sudah dituang kedalam mangkuk." 🤤
Setelah itu aku menyuruh dayang mengantarkannya ke meja makan terlebih dahulu untuk seisi meja.
Aku sengaja membuat banyak agar mereka dapat merasakan bubur buatanku terutama ibundaku, aku hanya ingin beliau senang dengan masakanku.
Sedangkan satu dipan yang berisi satu mangkuk dengan segelas air lemon yang diatasnya aku hias degan menancapkan potongan buah lemon tampak menyegarkan air yang ada didalam gelas kaca tersebut.
"Dan inilah segelas jus lemon untuk seseorang yang sedang sakit." 😣
Dengan langkah bahagia dan PD aku berjalan sambil terus tersenyum, karna melihat bubur yang aku buat sudah dihidangkan dengan indah.
Saat aku melewati meja makan, ibunda tiba – tiba berkomentar dengan makanan yang aku buat.
“Wah! gak sia – sia yah putriku kutitipkan pada mereka,“ ucapnya bangga sambil terus memakan bubur buatanku.
Aku yang mendengar hanya tersenyum.
“Gimana ibunda? masih ragu?“ tanya ku sambil menaiki tangga.
“Gak lagi kok sayang! lain kali kamu masak bubur lagi yah!“ pinta ibundaku.
“Setuju!“ sambung yang lainnya serentak sambil mengunyah bubur yang aku buat.
“Oke! tapi jangan minta makanan yang aneh – aneh yah! karna putri yang cantik ini baru belajar,“ ucapku PD.
“Dasar! untung adekku! kalau bukan aku udah muntah terus kali yah didepan buburnya,“ sengit Aisyah.
“Iri aja deh!“ cibir ku sambil memajukan bibirku beberapa senti.
Ia yang melihatku hanya berdengus kesal.
__ADS_1
“Cih! jangan marah – marah dong kaka! kan sayang nanti calon kaka iparku, jadi capek tenangin kaka.“ ledekku lalu berlari keatas.
“Dasar adek nakal!“ dengusnya yang langsung ditenangkan oleh Arfah.
“Tapi ngangenin kan?“ ucapku samar tapi masih dapat didengar oleh nya.
Sesampai dikamar Ahmar aku pun menaruh bubur disamping meja tempat ia berbaring.
“Kelamaan!“ protesnya dingin.
“Je..! udah dibuatin dengan cinta masih aja ngambek! kagak ada syukur – syukurnya nih orang! udah mah sakit! tapi itu mulut yah pengen dibenyek – benyek kayaknya, biar gak lemes lagi.“ cibirku sambil berlalu dari hadapannya.
“Mau kemana?“ tanyanya.
“Mau isi bensin kuda! kepo amat!“ sewotku tapi Ahmar langsung menarik satu tanganku hingga langkahku jadi terhenti.
“Kamu gak sayang apa sama abang ganteng ini? suapin dong!“ pintanya memelas.
“Cih! PD amat bilang ganteng nih orang! lebih ganteng bapak aku lah!“ cibirku lalu hendak melepaskan cekalan tangannya tapi tetap saja tidak bisa karna terlalu kuat, yang ada tangaku jadi perih.
“Kamu gak boleh gitu sama guru kamu,“ tegurnya.
“Wah! kacang lupa kulit nih! kemaren yang ajarin memanah sama berkuda siapa ayo?“ tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Oh iya! siapa ya? aku kayaknya kena amnesia mendadak nih kak!“ jawabku pura – pura lupa.
“Bener nih lupa?“ tanyanya.
“Katanya kalau bohong bukan umat nabi lho!“ peringatnya lagi.
Aku yang mendengar kata – kata nabi akhirnya luluh hingga mau tak mau aku pun mengaku salah dan duduk disebelahnya.
Aku kini membantunya menyuapkan makanan kedalam mulutnya, ia merasa sangat bahagia dan tersenyum penuh kemenangan.
“Apaan senyum – senyum terus? bibirnya udah sumbing apa?“ tanyaku kesal sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
“Yang ikhlas dong suapinnya, masak pahala buat tolongin orang kagak mau.“ komennya.
__ADS_1
“Sekarang aku udah tau kelemahanmu! gak bisa yah kalau menyangkut sama yang namanya baginda nabi? takut gak ketemu yah hari akhirat nanti?“ ledek nya.
“Bodo amat! bukan urusan kaka! urusan kaka sekarang cepat habiskan bubur cang ijo yang aku buat ini, biar aku bisa bebas dari mulut kakak yah super dzuper nyebelin.“ dengusku.
“Andai saja ada tempat penghilang sifat nyeselin bin lemes kayak gini biar bisa lembut kayak kucing rumahan, pasti aku masukin kaka deh kesana biar berubah! jadi darah aku gak naik lagi deh!“ batinku.
“Nah! udah kenyang kan sekarang? jadi aku mau capcus ya kak?“ izinku menatapnya malas sambil membawa nampan kedepan pintu.
“Eh! minumannya?“ tanya Ahmar.
Aku hanya tersenyum karna lupa.
Setelah ia menghabiskan minumannya aku pun mengambilnya dan menaruhnya kembali ketempat semula.
“Pas banget nih ada dayang lewat,“ batinku lalu aku meminta tolong kepadanya untuk mencuci mangkuk dan gelas yang sudah kotor itu.
“Hamra!“ panggil Ahmar yang membuat langkah bahagiaku menuju kekamar tercintaku terhenti.
“Ada apa?" tanyaku yang kini hanya memperlihat kan kepalaku saja.
“Mau kemana?“ tanyanya.
“Kepo amat sih nih anak! kayak anak baru kehilangan emaknya,“ batinku sambil mengerutkan kening.
“Temenin kaka boleh yah?“ pintanya.
“Enggak!“ tolakku cepat lalu ia mulai memelaskan wajahnya dihadapanku, akhirnya mau tidak mau aku kembali kekamar nya dan membantunya berbaring lagi.
“Aku yang sangat mengantuk pun menarik kursi dan duduk disamping ranjangnya, aku kini mulai membaringkan kepalaku diatas kasur empuknya dengan kedua tanganku.
Ahmar hanya tersenyum senang lalu menggenggam erat tangan gadis itu.
Gadis itu tidak menyadarinya, karna ia telah masuk kedalam mimpi indahnya. Saat memegang tangan gadisnya, entah mengapa ia jadi merasa sangat nyaman. Ia jadi ikut terlelap.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇