Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 49


__ADS_3

     Tapi Eris bella justru malah berusah melonggarkan pelukan mereka, mereka hanya dapat menatap bingung pada anaknya. Entah mengapa anaknya seperti tak mengenali mereka, rasa kecewa mulai merambat dihati mereka.


     “Maaf tuan dan nyonya yang terhormat!  saya bukan ingin menyinggung perasaan kalian! tapi saya adalah anak gelandangan yang telah diasuh oleh salah satu warga Indonesia yang baik. Seingat saya, saya ditinggal oleh orang tua kandung saya dan dibuang ke Indonesia. Saya jadi heran, entah kenapa saya bisa ada disini! padahal sebelumnya saya sedang duduk diatas ranjang kamar saya.“ ucapnya.


     Hati ibundanya terasa tertusuk saat mendengar bahwa anaknya dibuang padahal dia diculik, ia jadi benar – benar geram pada sijubah hitam karna telah menghapus ingatan anaknya dan memberikan ingatan baru yang sama sekali tidak masuk akal.


     Ia mencoba mendekati kembali anaknya dan ingin menyisir rambutnya dengan jari jemarinya, tapi tangannya langsung ditepis olehnya.


     “Jangan sentuh aku! aku mohon pada kalian semua untuk membawaku kembali!“  pintanya sedikit kesal.


     Aku mulai mengganti wajahku dengan wajah lamaku untuk sementara, pada saat ia melihatku ia langsung berlari kearahku lalu mulai memeluk erat tubuhku.


     “Aisyah kamu dari mana saja? aku sangat merindukanmu tau! aku lelah mencarimu!  kamu pun absen dari sekolah sangat lama, aku jadi kehilangan sahabatku!“ ucapnya sambil menangis sesegukan.


    “Suruh dia makan sembilan buah ceri hitam,“ perintah seseorang dari belakang yaitu guru silat kami.


     Ia berjalan tertatih – tatih menggunakan sebuah tongkat karna tubuhnya masih sulit untuk bergerak.


     “Guru! kenapa guru keluar dari tempat perawatan? apakah tabib tidak mengobati guru dengan baik? atau apakah para pengawal yang kami suruh untuk membawa guru ketempat pengobatan salah ruangan?“ tanya Rendi yang membuat kami jadi ikut memandangi mereka berdua.


     Aku langsung melepaskan pelukan Eris bella dan mulai menghampiri Rendi sambil bertanya dimana Brago, karna hanya Brago yang menyimpan ceri hitam tersebut.


     “Aku tidak tau Aisyah! Brago tadi telah pergi entah kemana, sepertinya ia sangat cemburu denganmu yang sangat dekat dengan Ahmar. Ketahuilah! ia mulai mencintaimu sejak kau berhasil menyadarkannya, dan ketika ia melihat mu dengan Ahmar ia seperti habis harapan untuk mendekatimu karna dipikirannya kamu pasti lebih menyukai Ahmar.“ jelas Rendi setelah menghampiriku.


     Aku sangat terkejut ketika mendengar penjelasan Rendi, kepalaku jadi semakin pusing. Aku tanpa pikir panjang langsung menyusul Brago setelah melacak keberadaannya.


     Disebuah danau yang indah, bulan purnama mulai memamerkan cahayanya hingga menerangi beberapa tempat. Pantulan cahayanya yang menembus air danau semakin memberikan keindahan yang sangat mengagumkan.



      "Seperti inilah keindahannya." 🤣


     Seorang pria sedang duduk ditepi danau sambil menyelupkan kakinya, beberapa ikan - kecil mulai berdatangan lalu menggigit – gigit kakinya hingga ia sedikit merasa geli.



"Seperti inilah gambarannya, 😉 siapa disini yang suka terapi ikan?"


     Brago hanya mampu menatap danau yang sejuk ini, hatinya masih merasa perih saat melihat adegan tadi. Cuma mau bagaimana? ia masih tidak punya hak untuk merebut Aisyah, karna ia masih belum lama mengenalinya.

__ADS_1


     Ia sangat terkejut saat melihatku yang langsung duduk disampingnya dan ikut melepaskan sepatuku lalu menyelupkannya kedalam air, hingga ikan kecil yang awalnya berada dikaki Brago kini sudah berpindah sebahagian kebawah kakiku.


     Aku hanya tersenyum sambil menahan geli.


     “Ada apa kau kesini?“ tanyanya acuh tak acuh.



"Seperti inilah gambar perpindahan ikan yang awalnya diBrago mulai berenang menuju kaki Hamra." 😆


     “Maaf Brago! sebelumnya aku kesini cuma berniat untuk mengambil buah ceri hitam karna temanku membutuhkannya.“ jawabku.


     “Siapa temanmu? apakah seorang pahlawanmu itu?“  tanyanya sinis.


     “Bukan Ahmar! tapi itu untuk teman perempuanku Eris bella,“ jawabku mulai terkekeh.


     “Oh!“ responnya singkat.


     “Lagian kamu sih! main kabur – kaburan aja! gak lucu tau, seandainya kamu tidak kabur pasti kamu paham.“ protesku kesal.


     Brago yang mendengar kata – kataku jadi merasa sangat geram.


     “Ini semua gara – gara kamu tau!“ dengusnya sambil menatapku tajam.


     Brago yang mendengar ucapanku langsung terciduk dan merasa sangat malu, ia bahkan sampai tak berani memperlihatkan wajahnya yang sedikit tersipu dihadapanku.


     "Brago! kamu kan lebih tua lima tahun dariku, jadi kamu pasti sudah lebih dewasa seharusnya. Aku mohon jangan terlalu kekanak - kanakan. Kamu harus paham bahwa aku dan kak Ahmar tidak ada hubungan apa – apa, kami hanya sahabat masa kecil kok!“ beritahuku sambil tersenyum manis.


      “Benarkah?“ tanyanya tak percaya.


     “Iya! jadi jangan salah jika aku selalu didekatnya, karna aku sangat merindukannya. Coba kalau kamu yang diposisi aku, bayangkan jika kamu mempunyai seorang sahabat yang sangat baik dan setia juga pengertian."


     "Tapi kamu harus berpisah dengannya selama beberapa tahun bahkan takdir tidak mengizinkanmu untuk mengingatnya, menurutmu bagaimana perasaanmu? dan asal kamu tau yah! sebenarnya banyak wanita yang mencintai kamu, cuman kamunya aja yang gak peka tau!"


     "Lagian ngapain sih kamu harapin yang gak pasti kayak aku, dengar ya! aku ini orangnya plin plan dan tak mudah menyukai seseorang, ditambah lagi dengan umurku yang masih muda dan jenjang sekolah yang belum kuselesaikan membuatku tak ingin dulu menjalin kasih dengan seseorang.“


    “Mendingan saran aku kamu jangan egois! menginginkan sesuatu yang tak pasti untuk mu dan belum tentu ia adalah jodohmu. Cobalah kamu belajar untuk membuka hatimu pada orang lain, contohnya pada Aira.“ jelasku panjang lebar.


     “Jangan ngaco deh kamu Aisyah! masa seorang Aira yang hampir aku bunuh karna keinginanku tak terwujud, menyukaiku?“ responnya sambil tersenyum geli lalu sedikit menjipratkan air kewajahku.

__ADS_1


     “Ih Brago! gak lucu tau!“ dengusku.


     “Tapi bagiku lucu gimana?“ tanyanya sambil tersenyum jail.


     Aku yang kesal langsung memukul bahunya dengan tanganku beberapa kali sampai aku puas.


     Ia pun hanya mampu merintih sambil tertawa geli ketika melihat tingkahku yang sedikit kekanak – kanakan.


     “Aku serius nih!“  seruku lalu Brago mulai berusaha untuk fokus.


    "Kamu harusnya yang telah berumur dua puluh tahun harus mencari yang pasti, jangan nanti kamu jadi duda bangkotan gara – gara salah pilih pendamping. Dan aku gak bohong lho! bahwa Aira memang benar – benar menyukai mu."


     "Kamu jangan harus dipekain mulu dong sama Aira. Aira sudah berusaha mencari perhatian denganmu, walau pun perhatiannya berakhir dengan sebuah pertengkaran kecil yang menggemaskan. Gara – gara kamu sibuk memperhatikan yang lain ia jadi menyerahkan sekarang."


     "Coba kamu pikir! Aira kurang apa sih? paling masalah keluarganya doang! tapi didalam dirinya ia mempunyai hati yang sangat baik dan setia, ia juga tidak memiliki jiwa pendendam kepada orang lain walau pun telah disakiti berulang kali.“


     “Dengar ya Brago! kalau menurutku lebih baik dicintai dari pada mecintai, kalau kamu yang mencintai belum tentu orang yang kamu cintai itu cinta sama kamu. Tapi kalau dicintai ia sudah pasti mencintai kamu, cuman kamu aja yang tinggal membuka gerbang hati kamu.“ jelasku.


      “Kamu benar Aisyah! terima kasih dan maafkan aku yah karna terlalu egois, aku ingin memiliki mu yang belum pasti terhadapku.“ ucapnya sedih dan mulai paham saat mendengar semua penjelasanku.


     “Tidak apa – apa kawan! kita kan berteman, aku mendukungmu untuk mendekati Aira. Rendi dan Alika tak berapa lama lagi akan menikah, umurmu kan sama dengan Rendi. Umur Alika kan sembilan belas. Memang mereka tidak akan menikah tahun ini, tapi hubungan mereka sudah pasti dan restu dari orang tua juga sudah ada."


     "Kini mereka cuman memikirkan kerjaan dan persiapan, masak kamu enggak! Alika dan Aira kan sahabat. Umur mereka juga sama. Aira pun juga gadis yang cantik, kamu kalau nolak benar – benar gak bersyukur! aku tau kamu masih bimbang, kamu sebenarnya sedang menyukai dua wanita yang berbeda usia kan? tapi untuk saat ini kamu lebih menyukaiku tapi untuk kedepannya kamu sendiri dan aku tidak tau kan?“ tanyaku.


     “Dengar yah Brago! jodoh itu sudah diatur, karna kamu sebelum lahir ke alam ini sudah memilihnya dan rezekimu pun  telah ditentukan. Jadi aku mohon jangan egois, kalau kamu masih ragu kenapa tidak meminta jawaban pada yang Maha Kuasa saja?"


     "Contohnya dengan sholat istikarah dan bangun tengah malam untuk melaksanakan sholat tahajjud. Insya  Allah hatimu akan dicondongkan pada orang yang lebih baik, maaf! bukan aku tidak mau menerima mu dengan cara menyuruhmu dekat dengan Aira. bukan begitu! aku hanya ingin menasehatimu."


     "Jika kita memang berjodoh pasti ada saja cara yang akan membuat kita bersatu, tapi jika tidak! tidak ada yang mampu memaksakannya.“ jelasku lalu mulai menarik kakiku dari dalam air danau yang sangat dingin.


     Pada saat itu aku ingin memakai sepatuku, tapi tiba – tiba saja Brago langsung mengambil sepatuku hingga aku jadi heran.


     “Baiklah! Aisyah! karna kau telah menyadarkanku untuk kedua kalinya. Aku ingin berterima kasih dengan cara membantumu untuk melekatkan sepatu ini kekaki cantikmu, apakah kau mengizinkannya?“ pintanya sambil tersenyum hingga berhasil membuatku jadi sangat tersipu.


     Selesai menggunakan sepatuku aku  langsung berjalan beriringan dengannya menuju ke lapangan.


     🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2