Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 25


__ADS_3

     “Bagaimana? masih mau bertanding?“ tanyaku sambil melipat kedua tanganku kebawah dada dengan menaikkan satu alisku keatas.


     “Jangan belagu kamu! aku masih belum kalah! memang ilmumu sudah begitu tinggi, tapi aku tetap tidak akan menyerah demi mendapatkan Alika.“ rintihnya.


     Alika yang sudah sedikit sadar mulai membuka matanya perlahan – lahan. Saat mendengarkan kata – kata Brago Alika makin merasa sedih dan tak kuasa menahan isak tangisnya.


     Ia sebenarnya rela menyerahkan dirinya kepada Brago demi Aira, tapi ada benteng yang seolah - olah menghambat perjalanan kakinya untuk sampai kepada Brago.


     Seorang pria yang tak ia cintai dan pernah ia tolak secara halus cintanya karna ia telah memilih seseorang yang menurutnya lebih baik untuknya apa lagi masalah agama yaitu Rendi.


     Tapi walau pun begitu Alika turut prihatin dengan nasibnya Brago yang mungkin mulai merana karna dirinya, ia merasa bersalah karna telah membuat orang lain jadi menyukainya tanpa sengaja.


     Walau pun sebenarnya rasa itu muncul sendiri terkadang tanpa alasan.


     Tak jauh berapa meter dari mereka, Rendi yang sejak tadi tertinggal jauh ketika mengikuti mobil Brago kini mulai sedikit terlihat tapi mereka masih belum merasakan kehadiran Rendi yang muncul secara tiba – tiba.


    Ditangan Rendi sudah terlihat jelas sebuah pistol hitam berukuran sedang, entah kenapa cinta dan rasa amarah yang sudah berapi – api itu kini telah membuat Rendi hampir tak mengenali lagi siapa dirinya.


     Kelembutan yang ada pada diri Rendi tiba – tiba saja dalam sekejap ini menghilang entah kemana, dadanya begitu sesak menahan isak tangis akibat perbuatan Brago yang tak pernah berhenti untuk mengganggu kehidupan Alika.


     Gadis yang sangat ia cintai dan jaga dengan baik sejak dulu, kini ia merasa gagal menjadi lelaki saat keberadaan Alika ketika di culik tak diketahuinya.

__ADS_1


     Ditambah lagi dengan penyiksaan dan paksaan keras yang harus diterima Alika akibat ulah Brago yang semakin membuat ia tak dapat lagi mengampuninya dan ingin sekali untuk segera membunuhnya.


   


     Kini angin tiba – tiba saja berhembus begitu kencang, debu – debu yang awalnya hanya berbaring diatas bumi kini juga ikut melayang bersama angin.


     Penglihatan pun jadi sedikit suram, terdengar deru langkah kaki yang perlahan mulai mendekat tak jauh beberapa meter dari tempat Brago yang masih terlentang diatas tanah.


     Ia mulai berpegangan dibatang pohon berukuran sedang supaya tak terseret angin. Suara keras peluru yang dilepaskan terdengar begitu keras, seseorang berteriak keras karna menahan rasa sakit.


     “Bruk!!!“ suara sesosok tubuh jatuh dan langsung bergelinding kedalam jurang yang sangat curam.


     


     “Angin berhentilah!“ ucapku lalu dalam sekejap angin tersebut pun menghilang.


      Debu yang awalnya ikut melayang - layang bersama angin kini telah kembali ketempat semula, semuanya jadi menganga melihatku tapi aku berpura - pura tidak memperdulikan ekpresi mereka.


     “Kamu bisa mengendalikan cuaca?“ tanya mereka membuatku semakin berdebar.


     Belum sempat aku menjawab pertanyaan mereka tiba – tiba Aira langsung berteriak histeris.

__ADS_1


     “Dimana Alika? dimana Alika? dimana Alika?“ tanyanya mulai panik.


     “Jangan - jangan yang berteriak tadi Alika, karna tertiup angin.“ tebakku.


     Mata Rendi tiba – tiba saja terbuka begitu besar karna melihat Brago masih hidup dalam keadaan baik – baik saja, malah ia sudah bisa berdiri sendiri.


     "Aisyah!!!“ pekiknya histeris.


     “Ada apa Rendi?" tanyaku kepadanya.


     “Ini semua salahku! ini semua salah ku! aku memang pembunuh Aisyah! aku pembunuh Aisyah!“ jelasnya sambil menggeleng – gelengkan kepalanya frustasi.


     Air matanya mulai menangis deras, lalu langsung memukuli dirinya seperti orang gila sambil berteriak – teriak.


     Kini aku langsung menggenggam kedua tangannya untuk mencegahnya agar tidak menyakiti dirinya sendiri.


     Aku pun mulai menenangkan Rendi yang sudah gemetar begitu hebat. Mulutnya seperti tak kuasa lagi untuk menjelaskan apa yang sedang berputar dikepalanyanya, jadi ia menceritakan semuanya dari awal dalam keadaan terbata - bata.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2