Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 75


__ADS_3

     Ia menyuruhku melihat kebagian tengah.


     “Ini adalah busur ya!“ serunya lalu ia mulai menunjukku kebagian atas yang menempel pada busur itu.


     “Ini namanya lims, untuk menariknya.“ sambungnya lagi sambil menunjuk kebagian bawah yang bentuknya sama seperti yang diatas yang juga terhubung satu badan dari yang tengah.



                  "Ini adalah busur."



                   "Ini adalah lims."



                "Seperti inilah jadinya."


     Setelah mengenalkannya, ia menyuruhku terlebih dahulu menggunakan pelindung yang telah ia simpan rapi disebuah tas yang tergantung disamping pohon.


     Ia meletakkan pengaman yaitu sebuah pelindung pada dada bagian kiri.



   "Ini pelindung dada bagian kiri." 😊


      Lalu ia juga memasang pelindung ditangan kiriku, aku hanya menatapnya secara telaten. Tak lupa ia meletakkan pelindung ditiga jari tangan kananku agar memudahkanku untuk menarik.



            "Ini pelindung tangan kiri." 😊



              "Ini pelindung tiga jari." 😊


     Setelah itu Ahmar pun menyuruhku memegang busur dengan tangan kiriku lalu mulai memasangkan snok ditali panahan.


     Setelah pas baru ia munyuruhku untuk menjepit snok dengan pelindung tiga jari kemudian menyuruhku untuk fokus dan melihat pada fisir.



          "Dipaling atas itu snok." 😊



                    "Ini adalah fisir." 😊


     Fisir itu untuk melihat sasaran, ia adalah benda bulat kecil yang menempel dibatang panahan. Sebelum menancapkan panahan, ia menyuruhku untuk berdiri dalam keadaan tegak lurus.


     Setelah yakin aku pun mulai melepaskan anak panah beberapa meter dari tempat sasaran. Aku seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat, ini baru juga percobaan pertama tapi dengan kefokusan dan keyakinan yang besar dari ku aku akhirnya bisa menancapkannya ketitik sasaran.


__ADS_1


            "Ini adalah titik sasaran." 😊


     Aku kini melompat kegirangan sedangkan Ahmar hanya melongo dan bertepuk tangan kagum atas kehebatanku.


     Aku hanya membalas perlakuannya dengan senyuman termanisku sambil berkata “yes!“ beberapa kali. 


     "Ternyata kamu cepat juga yah dalam mempelajari sesuatu! kaka jadi kagum!" serunya yang kini jadi terkekeh karna melihat rona merah dipipiku.


     "Baru dipuji segitu aja udah merona! apalagi kalau lebih! udah merah kayak buah tomat kali," canda nya yang langsung membuatku jadi salah tingkah.


     "Ih kaka! aku kan jadi malu, ini semua juga berkat kaka kok." ucapku sambil menggoyang kan tubuhku kesana kemari.


     Ahmar yang gemas dengan tingkahku sontak mencubit pipi kiriku. Aku pun hanya meringis saat merespon tingkahnya.


     "Maaf! sakit yah?" tanya nya polos.


     "Enak banget malah!" jawabku sambil memaksa bibirku untuk tersenyum.


     "Ya enggak lah kak! nih! coba kaka rasain," sambungku sambil membalas perlakuannya, sedangkan sang korban malah tertawa geli sambil meringis.


     "Apaan sih Hamra! gemes yah sama pipi abang?" goda nya sambil mengedipkan mata, sehingga mau tidak mau aku pun menghentikan balas dendamku akibat ucapan PD nya.


     "Cih! PD amat nih manusia! baru ganteng dikit aja udah belagu." dengus ku terpaksa berbohong, padahal Ahmar adalah pria yang sangat tampan dan pantas dijadikan idola kaum hawa.


     "Beneran gak percaya dengan kegantengan abang?" godanya lagi.


     "Ih! bener - bener yah! ngomong lagi kayak gitu! biar aku tusuk pake cinta panahan ini," ancamku.


     "Aduh jangan gitu dong! itu mah gak jadi cinta namanya, tapi malah mati karna cinta." cegahnya sambil mengangkat kedua tangannya keatas.


     "Iya deh! pangeran rela mengalah demi tuan putri tercinta," godanya tanpa bosan hingga membuatku ingin sekali muntah dihadapannya.


     "Kok kayak gitu sih ekspresinya?" tanyanya sedih.


     "Jadi mual kan aku gara - gara kamu!" sewotku.


     "Jadi kamu hamil? ya ampun akhirnya aku punya anak," candanya sambil tersenyum geli.


     "Jangan ngada - ngada deh! mending gado - gado aja lebih bermanfaat, bisa untuk dimakan dan nyata! lah itu malah suatu yang tak ada benarnya." elakku membela diri tak terima.


     "Nikah aja belum!" seruku.


     "Makanya ayo kita nikah!" ajaknya.


     "Kebelet amat sih! nikah aja sono sama cewek lain! mungkin ada yang mau sama kamu cepat - cepat," tawarku.


     "Kalau aku cuma mau sama kamu gimana?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


     Aku yang mendengar kata - katanya hanya mendengus kesal, lalu langsung menaiki punggung kuda yang sedang memakan rumput dengat nikmat setelah melepaskan tali pengikatnya.


     "Eh Hamra! mau kemana kamu?" tanyanya.


     "Kok aku ditinggalin sih?" sambungnya sambil berlari menuruni gunung dengan nafas yang terengah - engah lalu pingsan.

__ADS_1


     Aku yang melihat tubuhnya yang sudah jatuh diatas rerumputan mulai panik lalu menghapirinya dan meletakkan kepalanya dipangkuanku.


     Nafasnya naik turun, sesekali mengucapkan "jangan cabut sekarang! jangan cabut sekarang!" yang membuatku semakin panik dan menangis deras.


     "Apa mungkin ia sedang bertengkar dengan malaikat maut?" batinku semakin menangis deras sambil memeluk kepalanya, lalu ia mengucapkan dua kali masyahadat yang membuat mataku langsung membulat lebar.


     "Tidak!!! tidak kaka!!! jangan pergi..." teriakku lalu mulai melembutkan suara diakhir ucapanku.


     "Akhirnya aku mendapatkan mu Hamra! dasar gadis jail!" serunya sambil menjitak pelan kepalaku dengan tangannya.


     Aku pun seakan - akan dibuat seperti terkena serangan jantung oleh Ahmar. Saat tersadar dari syokku, aku langsung memukulnya sampai aku puas lalu menghapus air mataku dengan kasar.


     "Jail banget sih jadi kaka! untung jantung aku kuat, kalau enggak gimana?" protesku kesal.


     "Kesel gak? kesel gak? kesel lah masak enggak! kaka aja sabar waktu kamu tinggalin sampe harus lari - lari kayak orang kesetanan, kamu pikir kaka gak capek apa? dasar gak ada akhlak!" ceplosnya geram.


     "Makanya! udah tau aku orangnya minus akhlak, tapi masih aja cinta sama orang minus akhlak." ledekku.


     "Makanya akhlak jelek itu bisa diubah Hamra! kaka akan bantu kamu! karna kaka sayang sama kamu! lagian gak ada salahnya kan niat baik kaka untuk bimbing kamu kejalan yang benar?" tanyanya.


     "Iya - iya rewel! terus mata aku gimana nih udah bengkak? terbuang sia - sia kan? gak ada makna gara - gara drama receh kayak gitu," protesku kesal.


     "Ya udah sini kaka pencet kelopak matanya biar gak bengkak lagi," tawarnya jail.


     "Kurang ajar! dasar kaka-" ucapanku terpotong saat aku melihat kuda yang sedang berlari untuk menjauh.


     Aku dan Ahmar saling bertatapan karna saking terkejutnya ketika tersadar.


     "Ya ampun! kaka! hewan berkaki empat kita kabur, gak cinta sih sama kamu!" dengusku.


     "Kan dia cowok Hamra... Masak cowok sama cowok!" elaknya.


     "Eh iya juga yah!" seruku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.



"Inilah gambar si kuda hitam yang kabur gara - gara malas dengar pertengkaran tuannya." 😂


     “Tapi dia kan hewan,“ sambungku.


     “Akibat terlalu pinter sih! makanya begituh jadinya,“ ledeknya.


     “Kaka!!!" teriakku yang tertahan karna ia telah membekap mulutku dengan satu tangannya.


     Tanpa rasa kasian aku langsung menggigit tangannya. Ia hanya meringis dan menjauhkan tangannya dari gigi tajamku.


     “Dasar Tupai!“ ledeknya lagi.


     “Buaya!“ balasku tak mau kalah.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2