
“Ih kaka! gak enak tau ditorak tarik kayak gini, malu lagi dilihat banyak orang. Kembalikan koperku sekarang! biar aku aja yang bawa,“ rengekku sambil terus meronta – ronta dari cengkramannya.
“Gak boleh! nanti kamu hilang! dasar ceroboh!“ cibirnya.
“Ih kaka! baru satu kesalahan ku gara – gara meninggalkan koper, masak nanti diriku sendiri juga hilang akibat kecerobohanku! itu tidak mungkinlah kak!“ protesku sambil menatapnya tajam.
“Mungkin saja! siapa tau! kamu kan anak kecil,“ responnya sambil tersenyum miring.
“Dasar kaka brengsek! lihat saja nanti, aku pasti akan menamparmu jika sekarang kau masih tak mau melepaskan cengkraman tanganmu dari tanganku.“ ancamku mulai geram dengan tingkahnya.
“Aku tidak takut! lakukan saja! aku pun tak akan malu. Jika kau ingin melakukan itu nanti! aku pastikan sekarang kau akan malu, karna aku akan membopongmu didepan semua orang yang ada disini sampai keperbatasan sana! apakah masih mau melakukan itu nanti atau tidak? jika tidak! berhentilah mengoceh dan berjalanlah dengan santai, atau kau mau yang lebih buruk dari itu yah?“ respon Ahmar malah balik ancam yang sukses membuat mulutku bungkam dalam sekejap hingga nyaliku pun jadi ikut menciut karna melihat tatapannya.
“Bagus! teruslah menjadi kucing manis seperti itu!“ senangnya yang membuat emosiku meledak – ledak tapi sedang berusaha untuk ku tahan.
“Enak saja aku disamain sama hewan itu! memang imut sih! tapi kan aku ini kan tidak sama jenis dengan yang dimaksud! kalau saja tempat ini sepi, aku pasti akan menendangmu dan kabur dari hadapan macan sepertimu!“ batinku berapi – api.
Sedangkan sang pelaku tanpa rasa bersalah malah tersenyum penuh kemenangan karna korbannya telah menyerah kepadanya.
“Sabar Hamra! sabar! orang sabar disayang Tuhan,“ batinku sambil mengelus dadaku.
“Kenapa kamu? sakit dada ya?“ tanyanya khawatir.
"Enggak! sakit dodol!“ jawabku geram sambil menatap tajam kearahnya.
Bukannya diam dia malah gemas dengan ku.
“Menyebalkan!“ batinku hingga akhirnya aku memilih diam dan sibuk menghayal hal – hal yang positif.
__ADS_1
Membayangkan aku sedang berjalan dengan sahabatku bukan dengan kaka yang super zhuper nyebelin, hingga akhirnya tanpa kusadari Ahmar pun berhenti. Ternyata aku dan dia sudah sampai diperbatasan.
“Dasar kaka gak punya hati! kasian kan temanku jadinya tertinggal sendiri, harusnya kan aku bisa habisin waktu sama dia tadi story - story!“ dengusku.
“Bodo amat!“ responnya dingin yang langsung membuatku tak mampu lagi menahan emosiku hingga aku memberi pelajaran padanya dengan cara mencubit tangannya.
“Aduh!“ rintihnya sambil memegang tangannya yang terasa perih.
“Sakit kan? sakit kan? sakit lah masak enggak! tapi lebih sakit hati aku yang dipisahkan dengan temanku,“ dengusku.
“Lebay!“ ucapnya datar.
“Suka – suka gue lah!“ responku menggunakan bahasa gaul.
Saat Eris sudah sampai disampingku aku langsung menyeretnya untuk masuk kepesawat.
“Dasar! bilang keorang pinter! gak punya hati! gak punya hati! sendiri! teman ingin bernafas malah gak di izinin, kalau dia pingsan kamu sanggup gendong?“ cibirnya yang langsung membuat ku menghempaskan tanganku agar terlepas dari cengkramannya.
“Bodo amat! yang penting kami bisa cepat – cepat gak liat muka kaka yang super dzuper nyebelin bin nyeselin!“ geramku.
Eris hanya menatap kami lelah karna sejak tadi kami sibuk bertengkar hingga membuat beberapa orang menatap heran kepada kami.
“Emang gak tau terima kasih yah! masih mending kaka mau anterin koper kamu, kalau enggak kamu pasti udah ditinggalin sama mesin terbang.“ balasnya tak kalah sengit.
“Terserah! kalau gak ikhas bilang bos! nanti aku kan tinggal naik baling - baling bambu aja,“ responku sambil berkacak pinggang dihadapannya.
“Ih! udah dong Hamra berantemnya, kamu gak hargain mang? kerja keras kak Ahmar buat kamu! kaka kandung kamu aja gak sadar bahwa koper kamu tertinggal, sedangkan kak Ahmar dia sangat peduli dengan kamu walau hanya hal kecil seperti ini.“ jelasnya yang sotak menyadarkanku hingga membuatku jadi terdiam seketika sambil menunduk malu.
__ADS_1
“Maafkan aku yah kak! aku emang gak punya perasaan sampai tega berkata seperti itu ke kaka,“ ucapku sambil menahan tangis.
Ahmar yang mendengar ucapan maafku dengan tulus langsung menganggukkan kepalanya kemudian menjawab “tentu!"
"Walau pun kamu membenci kaka, tapi kaka akan tetap mencintaimu. Kaka tidak akan pernah menyerah untuk mengetuk pintu hatimu Hamra, hingga pintu itu benar – benar terbuka untukku.“ jelasnya yang langsung membuat air mataku pecah dihadapannya.
Ia dengan sigap mengangkat wajahku agar menatapnya dan langsung menghapus air mataku dengan kedua tangannya hingga aku jadi beku ditempat.
Tatapanku kita bertemu dengannya, lagi – lagi entah kenapa jantungku berdengup dengan kencang.
“Sial! kenapa jantungku malah tak karuan gini?“ batinku lalu memegang kedua tangannya agar lepas dari pipiku.
“Kami pergi dulu yah kak!“ pamitku sambil tersenyum penuh haru.
“Baiklah! hati – hati yah!“ responnya balas tersenyum manis.
Kami pun mulai masuk.
Sebelum itu aku meminta tolong padanya untuk mengantar koper kami ketempat penitipan barang, agar tidak perlu repot - repot membawanya bersama kami karna itu juga tidak diperbolehkan akibat barang kami terlalu banyak.
Setelah mengucapkan terima kasih kami kembali berjalan menuju tempat masuk pesawat sambil melambaikan tangan kearahnya, ia juga membalas lambaian tangan kami dengan semangat.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇