
💍 Pagi Harinya 💍
“Kaka ayo cepat masuk kemobil! lama banget sih mandangin rumahnya!“ dengus Iqlima sambil menarik tanganku tak sabaran.
“Kamu nih! suka banget kayaknya kalau kaka cepat – cepat pergi!“ protesku kesal.
“Ih kaka bukan gitu! nanti kaka tertinggal pesawat tau, emang mau?“ peringatnya yang langsung membuatku tersadar.
Disepanjang jalan aku hanya melamun, banyak sekali kenangan saat aku tinggal dirumah tersebut.
Namun kini aku tidak hanya meninggalkan rumah tersebut saja, tapi juga penghuninya. Iqlima yang melihat raut sedih dari wajahku ikut merasa cemas.
“Kaka kenapa? maafkan aku yah? karna tadi udah marah – marah sama kaka, aku cuma gak mau kaka tertinggal pesawat. Soalnya kak Eris udah duluan nyampek kesana tau!“ beritahunya yang membuatku terkejut.
“Wah! si Eris memang benar – benar demam rindu nih ma keluarga aslinya,“ batinku.
“Enggak kok dek!“ responku sambil memeluknya.
Tanpa kusadari air mata ku mulai jatuh membasahi pipi indahku, Iqlima yang merasakan basah dibagian pundaknya langsung membalas pelukanku yang sejak tadi masih mematung.
“Udah kak! kaka gak perlu nangis! nanti ibu sama ayah jadi sedih tau,“ peringat nya.
Aku hanya mengangguk, tapi masih enggan untuk melepaskan pelukanku dari Iqlima.
“Sayang kamu kenapa sih?“ tanya ibu cemas.
“Iya kok sejak tadi ayah liat kamu gak bahagia? padahal kamu mau ketemu orang tua asli kamu kan? mereka pasti bangga karna kamu berhasil mendapatan juara satu,“ sambung ayah yang masih fokus menyetir.
“Enggak kok ibu! ayah! aku hanya tak rela berpisah dengan kalian dan tempat tinggalku... Sebab dirumah itu sudah ada banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan. Aku janji akan selalu mengingatnya untuk selamanya, tapi kalian jangan pernah lupakan aku yah? meski aku bukan asli dari keluarga ini.“ jawabku sambil terisak kemudian mulai melepaskan pelukanku dari Iqlima.
“Itu tidak akan pernah terjadi sayang! karna kami sangat menyayangimu, bahkan kami sudah menganggap mu seperti anak dari keluarga kami sendiri. Benarkan ayah?“ tanya ibu sambil berkaca – kaca.
“Tentu saja!“ jawab ayah yang berhasil membuat senyumanku merekah.
“Iqlima juga sayang banget sama kaka!“ ucapnya sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
__ADS_1
Sesampai dibandara aku turun dari mobil, kulihat Eris sudah melambaikan tangan kearahku. Aku pun menyalami kedua tangan orang tuaku sambil berpamitan, tak lupa aku memeluk mereka satu persatu.
Sebelum aku melangkahkan kaki, ibu ayah juga Iqlima tiba – tiba memberikan ku kado.
Aku sempat terheran dan masih tak mengerti.
“Ini kado dari kami bertiga untuk mu, maaf tahun ini tidak sempat merayakannya.“ ucap ibu sambil memberikan kotak berukuran besar yang dibungkus dengan kertas kado berwarna pink dengan pita bunga merah.
"Seperti inilah bayangan kadonya, warnanya bayangin sendiri ya." 😅
“Ya Allah! aku gak nyangka!“ responku terharu lalu menerima hadiah dari mereka.
“Doa keluargaku saja udah cukup!“ sambungku lagi sambil mengecup pipi mereka satu persatu.
Ayah langsung mengeluarkan koperku dari bagasi mobil. Setelah menyerahkannya padaku, mereka kini masuk kembali kedalam mobil setelah mencium kedua pipiku.
“Aisyah cepat!!!“ teriak Eris.
Aku pun membuka koperku dan memasukkan kado tersebut kedalamnya, setelah selesai baru aku menyusul Eris.
“Biasalah! melepas rindu!“ responku santai.
“Ya ampun, dua tahun gak cukup apa buat kamu?“ tanyanya heran.
“Enggak!“ jawabku singkat.
Akhirnya kami pun masuk kedalam setelah meletakkan koper ditempat barang.
Lalu baru kami masuk kedalam pesawat. Lagi – lagi yang membelikan tiket Eris, karna aku sangat malas jika harus mengantri. Tidak seperti Eris yang mempunyai semangat tinggi dan kesabaran yang besar.
Sesampai di pesawat aku langsung memakai sabuk pengaman dan mematikan total daya ponsel ku.
Setelah itu aku mulai memejamkan mataku sambil bersender dikursi.
__ADS_1
“Ih! nih anak kerjaannya tidur mulu!“ dengus Eris.
“Lah! terus mau ngapain? mau olahraga? kan kagak bisa dalam pesawat,“ responku masih dengan posisi yang sama tanpa membuka mata.
“Dasar Hamra! kamu selalu aja kayak gitu,“ dengusnya lagi.
“Ya ampun! cepat ubah wajah kamu mumpung gak ada yang hiraukan nih! pasti waktu dimobil lupa ubah nih,“ selidik Eris.
Aku hanya menyengir kuda sambil menghadap kearahnya, mau tidak mau aku harus membuka mataku. Setelah menggunakan kekuatanku, aku akhirnya kembali kewajah asliku dalam sekejap.
Tak berapa lama pesawat pun mulai lepas landas. Aku hanya menikmati pemandangan dari kaca jendela disampingku saat pesawat sudah berada diatas awan. Kemudian turun sedikit, aku bisa melihat pulau yang begitu indah. Lautan biru tampak berkerlap – kerlip saat terkena cahaya mentari, aku hanya mampu memuji keindahan alam ini.
Setelah beberapa jam melayang diudara akhirnya pesawat pun mulai mendarat.
Saat berhenti dibandara dengan tepat, baru kami turun setelah pintu pesawat terbuka lalu menuju ke tempat pengambilan barang.
Usai mendapatkan koper kami langsung bergegas keluar dari bandara.
Ternyata mobil Kerajaan ku dan Eris telah menunggu kami sejak tadi. Karna mereka telah mengenal kami, mereka pun langsung bergegas menghampiri kami yang sedang berjalan kearah mereka sambil menyeret koper.
Mereka kini mengambil alih barang bawaan kami, sedangkan kami bergegas menuju mobil dan sebelum masuk kedalam mobil aku dan Eris mulai berpelukan sebentar.
Selama diperjalanan aku hanya diam, sampai akhirnya mobil Kerajaan pun berhenti didepan Istana.
"Inilah mobil Kerajaan Andalusia."
"Inilah mobil Kerajaan Kartila."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇