Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 79


__ADS_3

     “Krek!“


     Suara gagang pintu yang terbuka mulai terdengar. Seseorang tersebut menghampiri gadis yang sedang tertidur disamping Ahmar. Bibirnya memancarkan senyuman, ia pun membangunkan gadis itu dengan lembut.


     “Hamra ayo bangun!“ ucapnya.


     Aku yang sedang nyenyak dengan mimpi indahku langsung terbangun dan terkejut saat merasa ada yang menggenggam tanganku.


     “Ih! kebiasaan deh kaka!“ dengusku sambil melepaskan genggaman tanganku dari tangan Ahmar.


     “Maafkan putra ibunda yah! dia memang begitu orangnya,“ sambung ibunda sambil tersenyum.


     Aku yang melihat ibunda sudah berada dihadapanku langsung menunduk malu sambil meminta maaf.


     “Kamu tidak perlu meminta maaf Hamra!“ responnya sambil mengelus puncak kepalaku.


     “Baiklah! sekarang kamu istirahat aja! biar ibunda yang jagain Ahmar,“ pintanya.


     Aku hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamarku.


     Walau pun sudah terjaga, tapi tetap saja rasa kantukku tak kunjung menghilang. Setelah aku masuk kekamar, aku langsung mandi dan melaksanakan sholat dhuha. Kemudian karna merasa masih mengantuk dan lelah aku kembali membaringkan tubuhku diatas kasur.


     Mimpi indah mulai menyambutku hingga bibirku pun tak berhenti tersenyum “I love you Allah,“ gumamku dalam tidur.


      Ahmar membuka matanya perlahan - lahan, tangannya seperti kehilangan sesuatu yang sebelum ia tidur ia genggam dengan erat. Ia melihat keseblah kirinya, matanya langsung membulat saat melihat ibundanya duduk tertidur disampingnya.

__ADS_1


     “Kok malah ibunda? sejak kapan ibunda datang kesini? terus Hamra kemana yah?“ tanyanya pada dirinya sendiri.


     Ibunda Ahmar pun terbangun dan menegapkan tubuhnya.


     “Nyari Hamra ya?" tanyanya sambil menutup mulutnya yang menguap.


     “Enggak kok ibunda!“ jawabnya tentu saja berbohong.


     Bisa habis ia nanti digoda jika ketahuan.


     “Hamra sudah ibunda suruh istirahat dikamarnya! kasihan dia sampai ketiduran disini gara – gara jagain kamu!“ jelasnya yang membuat Ahmar jadi tidak enak pada gadis itu, karna ia lah orang yang telah memaksanya.


     “Iya! lebih baik sekarang ibunda istirahat aja dikamar ibunda, Ahmar gak apa – apa kok!“ tawarnya sambil tersenyum.


     “Ya sudah ibunda pergi dulu yah? kamu gak papa kan sendiri?“ tanyanya memastikan sambil mengelus lembut pipi putranya.


     Setelah mengecup puncak kepala putranya, wanita itu pun keluar dari kamar Ahmar.


     Ahmar memilih bangun untuk mandi, sepertinya badannya sudah tak terlalu sakit. Usai mandi ia kini sedang menuju ketaman dibelakang Istana dan alangkah terkejutnya ia saat melihat hewan empat kaki yang sempat hilang ketika meninggalkannya dan Hamra dihutan.


     Ia mendekati kuda tersebut perlahan – lahan dan mengelusnya lembut.


     “Akhirnya kamu kembali juga! kenapa kamu lari hah?" tanyanya pada hewan itu, tapi tak dihiraukan karna ia sibuk mengunyah rumput kesukaannya.


     “Ya sudah! ayo ikut aku kekandangmu,“ ajaknya sambil menarik tali yang ada pada kuda dan menuntunnya sampai ke kandang.

__ADS_1


    Setelah urusannya yang menyangkut kuda selesai, ia pun pergi kedepan Istana. Ia sangat terkejut saat orang – orang sibuk menghias bagian depan Istana dengan kain berwarna – warni.


      Ahmar pun mendekati pria yang tak lain adalah Arfah yang juga sedang sibuk menatap para pekerja.


     “Ada acara apa nanti? kayaknya meriah sekali!" tanyanya.


     Orang yang ditanya mulai berbalik arah menatap sang pemilik suara.


     “Oh Ahmar! apakah kamu lupa? tak lama lagi kan kaka dengan Aisyah akan menikah,“ jawabnya sambil tersenyum bahagia.


     Ahmar yang mendengar itu hanya tersenyum malu, bisa – bisanya dia melupakan hari bahagia itu.


   “Ya sudah! selamat yah kak!" serunya sambil menepuk punggung Arfah.


     Arfah pun juga membalas perlakuan Ahmar dengan lembut, ia jadi tak sabar menunggu datangnya hari tersebut.


     Hari yang membuatnya sangat bahagia, sedangkan Ahmar hanya mematung.


     “Kapan yah aku bisa seperti ini?“ batinnya semakin resah.


     Karna tak mau menghabiskan waktunya disini terlalu lama, ia akhirnya memutuskan untuk pergi kedalam kamarnya saat jam hampir menunjukkan waktu Dzuhur.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2