
"Eh Yogi! nih tolong terima amplop ini," ucap Bergi sambil meletakkannya diatas meja.
"Eh! apa - apaan nih? aku gak perlu sumbangan," tolaknya.
"Apaan sih? ini bukan sumbangan Yogi!" jelas Bergi.
"Lah terus apa dong?" tanyanya.
"Ya mana aku tau, makanya dibuka dulu baru komen." cibir Bergi mulai kesal dengan mimik Yogi.
Akhirnya setelah Yogi ingin membuka amplop tersebut Bergi pun langsung duduk ditempatnya semula.
“Makasih ya kawan!“ ucapku sambil tersenyum.
“Iya sama – sama! nyeselin banget sih tuh anak! menurutku dia memang pantas dapatin ancaman kamu tadi,“ dengusnya.
“Atu jangan kayak gitu lah Bergi!“ nasehatku.
“Aku kan khilaf tadi! entah kemasukan apa,“ sambungku cengengesan.
“Iya bawel! tapi ini kan hari pertama kamu masuk sekolah yah? boleh dong kamu traktir aku makan dikantin,“ ucapnya sambil menaikkan alisnya.
“Oh! ceritanya minta upah nih?“ tanyaku sambil menaikkan satu alisku.
“Bilang aja kalau gak ikhlas! bener – bener ya punya temen,“ dengusku sambil melipat kedua tanganku dibawah dada.
Bergi yang melihat raut wajah tak bersahabat dariku mulai mengerutkan dahi.
“Enggak kok! becanda,“ responnya sambil tertawa.
“Ya udah! mumpung aku lagi baek yah hari ini, aku bakalan traktirin kamu makan gorengan! mau gak?" tawarku.
“Beneran?“ tanyanya tak percaya.
Wajahnya mulai berseri – seri.
“Iya Bergi! kagak percayaan amat sih jadi temen!“ seruku sedikit kesal.
“Ya udah capcus!“ ajaknya.
“Kamu udah gila yah? belum bel tau! gak sabaran amat sih!“ cibirku.
“Iya - iya! orang terlalu bersemangat aja kok gak boleh!“ keluhnya sedih.
“Iya - iya maaf!“ ucapku lagi yang membuatnya tersenyum kembali.
Aku memang heran dengannya, padahal dia juga termasuk orang kaya tapi kelakuannya aneh banget.
Paling suka kalau ditraktir, bahkan udah jadi hobinya tersendiri.
Pertanyaanku "uang nya dibawa kemana sih?“ pikirku.
“Bukannya gak ikhlas, tapi aneh aja sih!“ pikirku lagi.
“Oh ya Aisyah! makasih ya kadonya,“ ucapnya yang tentu saja membuatku mengerutkan dahi.
__ADS_1
“Kado apa?“ tanyaku bingung.
“Sok - sok lupa deh! gak seru tau!“ sewotnya.
“Eh! maaf! tapi aku gak bohong kok! aku beneran lupa tau! kamu gak tau yah? aku baru sembuh!“ keluhku kesal.
“Mana aku tau! kamu sendiri gak ada kabar,“ responnya santai.
“Dasar gak perhatian!“ sewotku.
“Apa coba ulang?" pintanya.
“Gak perhatian!“ ulangku cuek sambil menaikkan pundakku.
“Yang bener aku gak perhatian?“ tanyanya sambil menaikkan alisnya.
“Pikir aja sendiri,“ dengusku.
“Siapa ayo yang kemarin itu waktu dikantin hampir kepeleset. Untung ada seseorang yang mau nangkep, kalau enggak pasti pinggangnya dah encok tuh! sebutin gak yah nama cewek yang kepeleset itu?“ sindirnya yang berhasil membuat pipiku merah karena menahan malu.
“Diem gak Bergi? gak lucu tau!“ protesku padanya, sedangkan ia hanya tersenyum sambil memperlihatkan jejeran giginya yang bersih dan rapi.
“Gak usah senyam - senyum, udah basi senyuman pepsodent ma.“ dengus ku.
“Jeh! kenapa emang? orang yang keren dan hitam manis kayak gue emang patut kok diberi jempol,“ ucapnya bangga.
“Apa? apa? Eris! kuping aku gak salah denger kan sama perkataan sibekicot ini?“ tanyaku pada Eris yang sedang sibuk membaca buku pelajaran bahasa asing.
“Tau lah! kalian kerjaan nya berantem mulu, kadang baik kadang enggak!“ jawabnya yang membuatku jadi semakin kesal.
“Is! Eris mah gitu!“ rengekku.
"Kamu yah bener – bener! andai saja kalau aku duduk disamping kamu! tuh rambut bakal aku torak – tarik kayak akar pohon,“ dengusku.
“Alah alasan! bilang aja pengen dekat – dekat sama babang tampan,“ ucapnya sambil memajukan bibirnya beberapa meter.
“Mimpi kecoa lo!“ responku.
Tak berapa lama ketika aku masih sibuk bertengkar dengan Bergi tiba – tiba Yogi pun datang, walau pun sering bertengkar tapi kami akan selalu mengerti antara satu sama lain.
“Aisyah!“ panggilnya.
“Apa? mau marah? silahkan!“ tawarku yang membuat kepalanya menggeleng.
“Terus mau apa?“ tanyaku lagi.
“Aku maunya, kamu maafin aku!“ jawabnya.
“Udah! sana pergi duduk lagi,“ usirku.
“Loh? kok gitu sih Aisyah?“ tanyanya.
Aku yang mulai geram berusaha mengontrol emosiku.
“Lah terus kamu mau apa?“ responku sambil memaksakan senyumku.
__ADS_1
“Aku mau kita baikan balik ya?“ tanyanya.
“Ya! kan tadi aku udah bilang udah, berarti tandanya dimaafin. Jadi kita baikan gak ada marah lagi! gimana sih! atau kamu mau aku jadi ganas lagi? boleh kok!“ jelasku yang langsung membuatnya terkejut.
“Eh! eh! gak! gak! udak kapok! udah kapok! suwer ta kewer – kewer, aku gak bakalan ganggu kau lagi. Aku bakal jadi teman baik buat kau,“ responnya sambil tersenyum.
“Gak usah! udah ada kali,“ ucap Bergi.
“Siapa?“ tanyanya.
"Ya orang yang ditanyalah!“ jawabnya santai.
“Lah emang iya?“ tanyanya lagi.
“Kagak percaya amat sih! coba tanya sama orang nya tuh kalau gak percaya,“ suruhnya.
“Beneran Aisyah?“ tanyanya memastikan.
“Apaan sih nih bocah nanya mulu, au amat lah! kan kita semua satu kelas ini temenan!“ jawabku acuh tak acuh.
“Maksudnya pertemanan spesyal Aisyah,“ keluhnya sambil berdiri dihadapanku.
“Kagak ada yang namanya spesyal – spesyal! cukup aku yang spesyal, karna aku yang pertama.“ ucap Bergi PD.
“Pedean lah kamu! gak ada yang yang namanya spesyal – spesyalan antara laki -laki sama perempuan dalam sebuah pertemanan. Yang ada malah maksiat nanti! lagian aku udah punya kok yang paling spesyal dan yang lebih lama sama aku dari umur lima tahun,“ beritahuku bangga.
“Alah! halu mulu kau Aisyah,“ ucap yogi.
“Iri? iri?“ tanyaku pada Yogi.
“Lah emang kenapa kalau iri?“ tanyanya.
“Iri bilang bos!“ ucapku.
“Ngapain bos iri sama anak buah?“ responnya santai.
“Au! si Aisyah banyak banget mimpinya, udah jelas aku yang pertama!“ protes Bergi tak terima.
“Aduh pusing aku sama orang yang PDnya tingkat kuda laut,“ ucapku sambil memukul dahi.
“Orang spesyal aku tuh orang nya keren! karna bisa memanah sama naik kuda,“ jelasku sombong.
“Bisa naik kuda sama memanah aja belagu, aku naik kerbau tiap hari sampe berlumur - lumpur gak bilang apa – apa!“ ucap Yogi.
“Itu bilang,“ responku sambil menunjuk kearahnya.
“Makanya jangan sok keren! aku yang keren, tampan dan kaya gak bilang apa – apa.“ sombong Bergi.
“Nah itu bilang!“ ucapku dan Yogi bersamaan.
Kami pun jadi tertawa bersama, memang kami sering bertengkar tapi dalam pertengkaran kecil ini akan menjadi memori tentang sebuah kenangan yang tak pernah terlupakan. Anak – anak lain hanya memandang aneh kearah kami tapi kami tidak menghiraukannya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇