
Hari sudah mulai malam tapi kami masih berada diatas bumi, aku melihat mereka tampak sedikit pucat dan kedinginan kecuali Brago dan Rendi.
Karna jika Rendi ia telah diselimuti jaket merah sedangkan Brago jas hitam, aku pun mulai melihat kearah cincin yang ada ditangan ku.
"Cincin tolong berikan aku dua buah jaket," pintaku.
Dalam sekejap dihadapanku langsung terletak dua jaket berwarna oren dan hijau, lalu aku memberikan itu kepada Alika dan Aira. Mereka pun menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.
"Kawan - kawan, apakah kalian lapar?" tanyaku.
Bukannya menjawab, mereka malah tertunduk malu kecuali Brago dan Rendi.
"Tidak! kami tidak lapar!" ucap mereka secara bersamaan dengan penuh percaya diri.
Hingga akhirnya tak berapa lama kemudian terdengar suara yang sontak langsung membuat suasana yang awalnya terasa begitu sepi kini jadi terasa begitu ramai.
"Dasar kalian! sok - soan gak mau padahal kalianlah yang paling merasa lapar," serang Aira meledek sambil menyenggol Brago dengan sikunya.
"Mulut bisa berbohong tapi perut tidak! betul tidak teman - teman?" tambah Alika mulai ikut - ikutan angkat suara.
Brago dan Rendi merasa sangat tertembak dengan kata - kata Aira dan Alika, saking malunya mereka sampai - sampai memasukkan kepala mereka kedalam jaket baju mereka. Tawa geli mulai terdengar lagi.
"Baiklah," ucapku menghentikan tawa mereka yang begitu nyaring.
Aku pun mulai berkata terbanglah diatas awan, akhirnya daun pisang kami mulai meluncur terbang menembus awan.
Dan pada saat itu daun pisang kami tepat berada diatas awan, awan itu terletak dibawah daun pisang yang menyentuh awan hingga saat menabraknya awan itu mulai tampak melayang seperti asap.
Kini aku langung menggeser tubuhku kepinggir hingga akhirnya aku mencoba mengulurkan tangan ku keawan dan mulai mengambilnya untuk membentuknya menjadi sebuah bola berukuran sedang.
Aku terus melakukan hal yang sama sambil membagikan awan itu kepada mereka satu persatu.
Saat semua telah mendapatkannya aku pun langsung berkata "Jadilah makanan yang mereka inginkan!" ucapku lalu aku menyuruh mereka untuk mengucapkan makanan yang mereka inginkan.
Mereka yang awalnya merasa ragu - ragu dan tak yakin karna dipikiran mereka bagaimana caranya segumpal awan bisa menjadi makanan? tapi mereka akhirnya mulai mencoba menyebut apa yang mereka inginkan yang di awali oleh Brago.
Ia ingin nasi goreng super pedas sedangkan Rendi ia memilih mie super pedas, Alika ingin bakso sedangkan Aira memilih seblak, kalau aku sudah pasti nasi Padang.
"Ini adalah nasi goreng Brago." 😃
__ADS_1
"Ini adalah mie super pedas Rendi, 😅 apakah ada yang ingin mencoba." 😣
"Ini adalah bakso Alika." 😊
"Ini adalah seblak Aira." 😊
"Ini adalah nasi Padang Aisyah." 😊
Dalam sekejab awan tersebut pun terbelah dua dengan sebelah bagian mengarah kekanan dan sebelah bagian lagi mengarah kekiri hingga akhirnya awan itu mulai menghilang seperti asap.
"Waw!" ucap mereka serentak hingga akhirnya mereka pun langsung menikmati makanan mereka.
"Dasar Rendi! makanannya selalu aja yang gak sehat," cibir Alika.
"Kenapa Alika? kamu khawatir ya sama aku?" goda Rendi sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Alika.
Rendi yang mendapatkan cubitan dari Alika hanya mampu merintih kesakitan.
"Makanya kalau dibilangin itu jangan ngeyel, anak bebek aja mau kalau disuruh berbaris masa kamu enggak." ucap Alika sedikit kasar.
"Emang nya aku lagi latihan mililiter apa? dasar Alika! kamu juga makanannya gak sehat, kayak Brago dong nasi dijamin sehat dan bergizi." responnya yang tanpa Rendi sadari ternyata wajah Alika sudah berubah warna merah.
Tidak biasanya ia seperti ini, karna ia termasuk orang yang sabar. Cuman karna rasa perhatian nya yang begitu dalam, membuatnya sedikit lupa dengan kriterialnya.
"Dasar nakal! dibilangain malah ngeyel, Brago emang makanannya sehat nasi! tapi warna yang mengubah rasa itu yang menghilangkan sehat karna dapat merusak perut walau pun mendingan sedikit. Sedangkan kamu! ancur semua tau! mie emangnya sehat? sambal pedasnya apa lagi, emang nya sehat?" protes Alika kesal, wajahnya sudah berada tak jauh beberapa meter dari Rendi.
Matanya yang awalnya terlihat tak terlalu besar, kini sudah mengaga begitu lebar seakan - akan siap untuk melahap Rendi hidup - hidup.
"Aduh! mati aku," batin Rendi mulai menelan ludahnya.
Mie yang ada ditangannya pun jadi tak terlalu diperdulikan lagi, hingga akhirnya ia memilih meminta maaf kepada Alika sebelum gadisnya benar - benar meledak sambil berusaha menggodanya beberapa kali agar dia bisa tertawa tapi hasilnya sangat nihil.
Hingga ia jadi ikut - ikutan merajuk sambil terus melahap mie yang awalnya terasa begitu enak kini jadi terasa hambar.
__ADS_1
"Yah! malah berantem lagi, kalau udah jauh kalian nanti malah..." belum sempat aku mnghabiskan ucapanku tiba - tiba Alika langsung memotongnya "tidak akan pernah aku merindukan cowok keras kepala itu."
Suasana menjadi begitu hening, hingga akhirnya aku pun mulai bernyayi untuk menyejukkan suasana. Ya! memang mungkin suaraku bukanlah suara yang paling bagus tapi setidaknya itu berhasil untuk menggembok mulut mereka.
Jangan kalian bertengkar 🎶
Marilah saling memaafkan 🎶
Karna setiap manusia pasti punya kesalahan 🎶
Berbaiklah... 🎶
Jangan mendiami .... 🎶
Yakinlah suatu hari kau kan rindu 🎶
( Nada : Tinkerbell # Fly To Your Heart )
Mereka semua hanya mampu tercengang mendengarkan suaraku yang aku anggab biasa saja tapi entah apa menurut mereka.
“Wah Aisyah! ternyata kau pinter nyanyi yah? suara kamu pun bagus, kamu juga pandai mengganti lirik dan pas nadanya.“ puji Aira.
“Tidak Aira! kamu terlalu berlebihan dalam memujiku karna aku bukan lah sang penyanyi handal, aku hanya hobi saja dalam bernyanyi sebab biasanya lagu yang aku keluarkan itu tergantung suasana hatiku." ungkapku.
"Dan dengan bernyanyi aku merasa lebih baik karna perasaanku terasa tercurahkan. Lagi pula jika kita bercerita kepada orang lain, mereka pasti belum tentu mengerti dan menjaga rahasia hati kita. iya kan?“ sambungku yang langsung disambut dengan anggukan dan senyum hangat dari mereka yang membuatku jadi ikut bahagia.
“Kamu benar Aisyah!" ucap Brago setuju.
“Iya aku jadi merasa bersalah sama Alika karna aku masih aja ngeyel, padahal dia cuma khawatir aja sama lambung aku.“ ucapnya sedih.
Alika yang mendengar perkataan Rendi jadi terharu dan langsung memeluknya sambil berkata tak apa – apa karna dia memang betul – betul sayang pada Rendi.
Rendi pun mulai merasa hidup kembali.
“Baik Alika! mulai sekarang aku akan berusaha untuk menjaga diriku sendiri.“ ucap Rendi, akhirnya suasana pun mulai menjadi hidup kembali.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇