Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 98


__ADS_3

     Sesampai dirumah aku mulai melaksanakan ibadah sholat dzuhur lalu langsung membaringkan tubuhku.


     Sebelum tidur aku sempat melihat – lihat potoku bersama keluarga ku saat masih disana, aku menyuruh Eris untuk mengambil gambar kami sebentar dan ia menyetujuinya.


     Tak terasa rasa kantuk kini sudah menyerangku, aku langsung tertidur setelah mematikan ponselku.


     Tak berapa lama aku jadi terbangun karna mendengar ketukan pintu, sebenarnya aku enggan untuk bangkit dari tidur ku karna aku sangat kelelahan. Tapi mau bagaimana? setelah membuka pintu, ternyata ibu yang mengetuknya.


     “Ada apa ibu?“ tanyaku dengan suara parau.


     “Oh rupanya tidur ya?“ tanya ibu.


     “Iya aku sepertinya sangat lelah,“ jawabku.


     “Ya sudah! tapi makan dulu yah? abis itu kamu duduk bentar baru tidur, Iqlima sudah tunggu kamu tuh disana.“ ucap ibu.


     Aku hanya mengangguk tanda mengerti sambil berjalan menggunakan baju piama ku kedapur.


     Sesampai disana aku mencuci tangan dan makan dalam keadaan ruh yang masih belum terkumpul semua.


     “Ih kaka seperti zombie!“ ucap Iqlima sambil terkekeh.


     “Maklum! baru bangun tidur! pasti masih plim plan,“ sambung ibu.


      Aku hanya fokus dengan makanan ku tanpa menghiraukan apa yang dua wanita itu bicarakan, karna aku benar – benar masih mengantuk. Selera makanku jadi tidak terlalu meningkat.


      Setelah makan aku lalu meminum airku dan bergegas menuju kamar karna aku sudah tak dapat lagi menahan rasa kantukku. Tanpa duduk terlebih dahulu aku langsung berbaring dan dalam hitungan detik saja aku sudah tidur dengan pulas.


     Ibu dan Iqlima hanya menggeleng – gelengkan kepala ketika melihat tingkahku yang tak bisa sedikit pun jika kelelahan. Karna jika aku sudah ngantuk berat, aku tidak akan bisa memikirkan apa – apa sebelum tidurku benar – benar pulas dan puas tanpa ada yang mengganggu.


________________________________


     Malam ini aku sedang sibuk mengemasi baju ku dan memasukkannya kedalam koper saat pertama kali aku pergi kesini dua tahun lalu. Usai bergulat dengan barang - barangku, aku pun berjalan keruang makan dan duduk dikursiku.


     “Bagaimana? sudah siap?“ tanya ibu.


     “Sudah kok bu!“ jawabku.


     “Yah besok kaka udah pergi! aku jadi tinggal sendiri lagi deh! gak ada teman buat cerita,“ keluhnya sedih.


     “Gak papa kan masih ada ayah sama ibu,“ ucap ayah yang hari ini ikut makan malam bersama karna ayah pulang sedikit lebih cepat.


     “Iya sih! tapi kan ayah jarang dirumah!“ dengusnya.


     “Lah ibu emangnya gak dianggap?“ tanya ibu mulai kesal.

__ADS_1


     “Eh! enggak kok bu! masalahnya aku gak ada teman buat jalan – jalan juga,“ alasannya sambil cengengesan.


     “Terserah!“ respon ibu acuh dan sibuk dengan makanan nya.


     “Kalau kamu lagi gak sibuk... Boleh kok mampir ketempat kaka,“ ucapku membuatnya jadi bahagia.


     “Beneran kak?“ tanyanya tak percaya.


     “Bener! tapi jangan pergi sendiri! ajak ibu sama ayah juga,“ jawabku.


      “Oke!“ responnya senang lalu mulai memakan makanannya dengan lahap.


     Setelah makan aku kini sedang duduk bersama keluargaku disofa didepan tivi.


     “Oh ya Aisyah! bolehkan kami melihat wajah aslimu? kami kan belum mengenalnya,“ pinta ibu.


     “Oh! tentu saja bu,“ responku sambil tersenyum.


     Aku pun menggunakan kekuatanku untuk mengubah diriku. Saat diriku telah berubah, mereka mulai menganga tak percaya.


     “Masya Allah Aisyah! ternyata ini wajah aslimu? sangat cantik,“ puji ibu tak percaya.


     “Iya kak! padahal wajah kak Aisyah yang palsu juga terkenal sangat cantik, tapi yang ini lebih. Walau agak mirip sih dikit! hidung kaka pun sangat mancung, seperti orang arab.“ sambung Iqlima masih belum melepaskan pandangannya dari wajahku.


     “Sudah! kan putri kita memang cantik,“ ucap ayah yang sejak tadi hanya diam.


     “Nah, jadi ibu! ayah! juga Iqlima sudah kenal wajah aku kan? kalau udah di Indonesia, kaka gak bisa pake wajah asli disini. Nanti muncul pertanyaan dari orang lain, jadi tolong tetap panggil Aisyah yah?“ pintaku.


     Mereka hanya mengangguk tanda mengerti, setelah itu kami pun sibuk mengobrol hingga jam telah menunjukkan pukul 10.00 WIB.


     Aku dan Iqlima sudah sangat mengantuk, ibu dan ayah akhirnya menyuruh kami untuk tidur terlebih dahulu.


     Saat sudah masuk kekamar tiba – tiba ponsel ku berdering.


     “Halo!“ ucapku karna tak sempat melihat nama yang terpampang akibat sangat mengantuk.


     “Hamra! apakah kamu sudah siap? besok kita bertemu dibandara ya?“ respon suara dibalik telpon yang langsung menyadarkanku.


     Dalam sekejap kantuk ku jadi hilang setelah mengetahui siapa yang menelpon.


     “Oh Eris! iya pasti aku sudah siap kok! bagaimana denganmu?“ tanyaku.


     “Aku sudah dari pagi penyiapkannya, karna aku sangat merindukan ibunda dan ayahandaku juga calon suamiku.“ jawabnya sambil terkekeh pelan.


     “Dasar! alasan bawa – bawa rindu sama ibunda ma ayahanda, padahal kan ma babang tampannya.“ godaku.

__ADS_1


     “Hahaha!“ tawanya.


     “Ya udah kalau gitu besok kita ketemu yah? jangan lupa mimpiin aku,“ peringatku.


     “Ih! ngapain mimpiin kamu, orang besok udah ketemu!“ tolaknya.


     “Terserah!“ dengusku lalu langsung mematikan ponselku sambil tertawa ringan.


     “Tok tok tok,“


     Suara ketukan pintu mulai terdengar dari luar kamarku.


     “Kaka!“ ucap seseorang yang sedang berdiri didepan pintu.


     Ia mengenakan baju piama berwarna biru dengan rambut hitam pirang yang dibiarkan terurai, siapa lagi kalau bukan Iqlima.


     “Ada apa dek?“ tanyaku sambil tersenyum.


     “Aku mau tidur dengan kaka! boleh gak?“ pintanya sambil menundukkan kepala.


     “Ya tentu boleh lah! kau kan adek kaka yang paling gemesin,“ responku sambil mencubit pipinya pelan.


     “Benarkah?“ tanyanya yang membuatku terkekeh pelan, lalu menyuruhnya masuk dan langsung berbaring di atas kasurku.


    “Oh ya! kamu sudah sikat gigi sama bersihin muka?“ tanyaku.


     “Aku sudah duluan dong sebelum pergi kekamar kaka!“ jawabnya semangat.


     “Benarkah?“ tanyaku menyelidik.


     “Ih! kaka gak percayaan banget sih ma adeknya! nih! aku nampain,“ unjuknya sambil memperlihatan deretan giginya yang terlihat berkilau karna sangat bersih.


     “Ya udah deh! kaka percaya,“ responku yang membuat senyumannya semakin merekah.


      Aku bergegas kekamar mandi untuk menyikat gigi, setelah selesai dengan urusanku dikamar mandi aku pun keluar dan menghampiri Iqlima yang sudah lebih dulu terlelap diatas kasurku.


     Aku hanya tersenyum kemudian ikut naik keatas ranjang yang sangat empuk itu, ku hadapkan wajahku ke arah adikku yang sangat aku sayangi ini.


     Kami sangat jarang bertengkar, karna ia tidak pernah egois. Aku pun mulai menyelimuti diriku dan adikku kemudian memberikannya pelukan terhangat ku.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2