Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 45


__ADS_3

     Tak berapa lama mereka sampai juga dilapangan Istana Alhambra, ibunda Hamra berteriak histeris.


     “Tolong jangan bunuh putriku! jangan bunuh putriku! dia tidak bersalah sama sekali! bunuh saja aku!" pintanya sambil terus mengucurkan air mata.


     Sejak mendengar kabar acara kematian putrinya, ibundanya tidak pernah berhenti menangis dan jika di izinkan ibundanya sudi berganti posisi dengan putrinya. Tapi karna ibunda bukanlah apa – apa mereka jadi tak mau menggantinya.


     “Yang sabar ibunda! doakan saja anak kita! ayahanda yakin! ia pasti akan selamat! jadi tenang lah ibunda! dan berhentilah menangis!“ ucap ayahanda.


     “Bagaimana ibunda bisa tenang dan berhenti menangis ayahanda? putri kita mau dibunuh ayahanda! mau dibunuh! bagaimana ibunda bisa tenang? bagaimana ayahanda?“  tanyanya sambil menahan rasa sesak dan perih didadanya.


    “Putriku Hamra,“ ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


     “Datanglah pada ibunda putriku! jangan lakukan ini putriku!  ibunda belum siap melihatmu mati putriku,“ sambungnya.


     Percuma saja mereka ingin menghampiri Hamra, karna mereka sedang dikepung oleh para pengawal yang juga sakti.


     “Oh tidak ayahanda! lihatlah putra kita terkurung disana, pasti dia berniat untuk menyelamatka kita dan tuan putri, bagaimana ini?“ tanya ibunda pangeran mulai cemas.


     “Tenang istriku, ayahanda yakin putra kita pasti bisa menyelesaikan ini semua.“ jawab ayahanda sambil menenangkan istrinya yang hampir mengeluarkan kristalnya.


    “Baiklah! kalian jangan buang – buang waktu, cepat bunuh tuan putri sebelum semuanya terlambat! ini sudah hampir jam dua belas malam.“ ucap sijubah hitam kepada Raja dan Ratu.


    “Kurang ajar!!! ternyata dia otak atas semua masalah ini!“ ucap pangeran Ahmar mulai geram.


     “Ada apa Ahmar?“ tanya Brago.


     "Iya ada apa?" sambung Rendi.


    "Apakah kamu tau Brago? aku tadi mendengar seseorang yang memakai jubah hitam itu berkata untuk segera membunuh Hamra, aku yakin sekali bahwa ia adalah otak dari semua kehancuran yang telah terjadi ini!“ jawab Ahmar geram.


     “Kamu benar sepertinya! firasatku juga berkata seperti itu,“ respon Brago.


     "Lalu kapan kita bisa memulai aksi kita?" tanya Rendi yang hanya dijawab deheman oleh mereka berdua.


     Upacara kematian pun dimulai, sebuah meriam raksasa telah berdiri tegap dihadapanku. Aku hanya mampu pasrah.


     “Apakah ada kata – kata terakhir tuan putri?“ tanya sang jubah hitam.



"Seperti inilah bayangan meriam raksasa yang akan digunakan itu."


     “Tolong lepaskan keluargaku juga Raja dan Ratu terumbu karang, apa bila aku telah mati.“ ucapku.


     “Tidak! jangan lakukan itu putriku! ibunda mohon batalkan itu semua! batalkan itu semua! tolong putriku!!!“ teriak ibunda histeris.


     “Jangan khawatirkan aku ibunda! aku pasti baik – baik saja!“ ucapku mulai berusaha tersenyum dalam sebuah ketakutan yang dalam.


     “Apanya yang baik putriku?“ tanya ibunda sedih lalu jatuh pingsan dan tubuhnya langsung ditangkap oleh ayahanda.


     “Baiklah pasukan! nyalakan meriamnya sekarang!“ perintah sijubah hitam tak sabar.


     Aku hanya mampu menutup mataku erat – erat, membayangkan nyawaku yang sebentar lagi akan melayang karna hangus terbakar.


     “DHUM!!!“ suara ledakan mulai terdengar begitu keras, asap mulai terlihat karna menara Istana sudah terbakar. Namun, suasana menjadi kacau saat jubah hitam mulai berteriak “sialan!!! dimana putri Hamra?"

__ADS_1


     Aku mulai membuka mataku perlahan – lahan dan aku terus saja mengedipkan mataku beberapa kali karna tak percaya bahwa aku masih hidup.


     “Ya Allah! apakah aku masih diberikan kesempatan?“ batinku bahagia.


     Kini aku merasa seperti sedang dibopong oleh seseorang diudara, aku sangat terkejut saat aku melihat kearah orang yang membopongku.


     “Kamu!“ ucapku terbelalak.


     “Iya ini aku, aku adalah pangeran yang menolongmu waktu dilautan. Sekarang aku sudah tau bahwasanya kamu adalah Hamra, aku sangat senang karna kita dapat bertemu lagi.“ reaponnya .


      “Memangnya kita pernah bertemu?“ tanyaku bingung.


     Ahmar merasa sangat sedih, tapi ia harus memaklumi bahwasanya Hamra masih dalam keadaan lupa ingatan.


     “Kurang ajar!!! dasar kalian boneka tidak berguna!!! aku kira aku bisa memanfaatkan kalian!!! ternyata tidak!!!“ gertaknya.


     “Kalau begini, biar aku saja yang membunuh Hamra dengan tanganku sendiri!“ dengusnya.


      “Tidak akan aku biarkan kamu melukainya! rasakan ini!“ ucap Brago mulai mengarahkan pedangnya kearah jubah hitam.


     Hingga ia terpelanting jauh sampai ketaman, sedangkan Rendi sibuk bertarung melawan prajurit sakti untuk menyelamatkan keluarga Hamra dan Ahmar.


     “Auw!“ rintihnya sambil memegang dadanya yang terasa sakit.


     “Kurang ajar!!! tidak akan aku biarkan,“ ucap jubah hitam tersebut mulai geram.


     Ia pun marah dan berteriak keras, dari tubuhnya mulai mengeluarkan asap hitam yang sangat tebal hingga Brago jadi sulit melihat.


    “Sekarang kamu rasakan ini!“ ucap jubah hitam sambil berlari kearah Brago lalu langsung memberikannya tonjokan mematikan, tubuh Brago langsung terhempas.


     Ia mulai berusaha untuk bangkit tapi masih saja tak mampu.


     “Panah pelindung!“ ucapnya.


     “Hamra kumohon kamu jangan keluar dari sini ya, karna aku tidak mau kamu kenapa – napa!“ pinta Ahmar khawatir.


     Aku sangat tertegun mendengar kata – katanya. Entah kenapa tiba – tiba saja saat menatapnya ada sebuah bayangan yang menghampiriku, bayangan yang terus menari – nari di dalam pikiranku.


     Dalam bayangan ku aku melihat seorang gadis yang masih berumur sepuluh tahun sedang bermain kejar – kejaran ditaman Istana dengan seorang laki – laki yang berumur tiga tahun lebih tua darinya.


     Pada saat itu tiba – tiba gadis tersebut terjatuh dan kakinya terluka dilutut hingga mengeluarkan darah.


     “Kamu tidak apa – apakan Hamra?“ tanyanya.


     “Iya kak aku gak apa – apa kok, cuman luka sedikit doang!“  jawabnya sambil tersenyum manis kearah laki - laki itu.


     Ia pun mulai berusaha untuk berdiri dan pada saat ia ingin berjalan ia malah terjatuh lagi.


     “Aduh!“ rintihnya sambil memegang lututnya yang sakit itu.


     “Tuh kan kaki kamu sakit! gak mau ngaku sih!“ cibir Ahmar mulai khawatir.


     “Ya sudah! kaka tolongin Hamra panggil pelayan dong! biar bisa bawain Hamra obat kesini,“ pintanya sambil berusaha untuk tersenyum walau pun itu sakit.


     “Untuk apa panggil pelayan? kan ada kaka disini!“ ucapnya sambil mengelus rambutnya.

__ADS_1


     "Iih! kaka jangan becanda napa! kaki Hamra kan lagi sakit biar cepat diobatin, nanti kalau udah diobatin pasti sembuhkan? nah kalau udah sembuh kita bisa main lagi deh!“ ucapnya.


     "Kalau panggil pelayan kelamaan Hamra,“  reaponnya.


     “Terus Hamra harus gimana kak?“ tanyanya polos.


     “Biar kaka yang gendong Hamra aja kedalam Istana biar cepet,“ jawabnya.


     “Emangnya kaka kuat?“ tanyanya lagi sambil mengangkat sebelah alisnya.


     “Ya pasti kuat dong! kan Hamra pun badannya gak gendut kayak gajah,“ jawab Ahmar sambil tersenyum manis.


     “Kaka bisa aja,“ ucapnya mulai tersipu.


     Ahmar pun mulai berjongkok dan menyuruh Hamra agar naik kepunggungnya, ia juga meletakkan kedua tangannya keatas pundak Ahmar. Setelah pas Ahmar pun langsung bangkit dan mulai menggendongnya.


     Diperjalanan menuju Istana tiba – tiba Ahmar berkata “Hamra! jangan pernah lupain kak Ahmar ya? kalau Hamra perlu sesuatu jangan sungkan – sungkan bilang sama kaka, kaka pasti akan memberikannya“ tawarnya.


     “Yang bener?“ tanyanya memastikan.


     “Iya,“  jawab Ahmar singkat.


     “Hamra gak minta apa – apa sama kak Ahmar! Hamra cuman pengen kak Ahmar selalu menyisihkan waktu untuk bermain – main dengan Hamra dan kalau Hamra udah besar kak Ahmar jangan lupa ajarkan Hamra Memanah sama Menunggang Kuda ya?“ pintanya.


     “Beres!“ jawab Ahmar.


     “Oh iya! kaka boleh gak? minta satu permintaan sama hamra?“  tanyanya.


     “Boleh! memangnya apa permintaannya kak?“ tanyanya penasaran.


     “Kaka pengen kapan pun dan dimana pun Hamra tetap ingat sama kaka dan gak boleh lupa.“ jawabnya.


     “Itu pastilah kak! kaka kan orang yang keempat yang paling Hamra sayang,“  ucapnya.


    "Lho! kok yang ke empat sih Hamra? emang yang pertama kedua sama ketiga siapa? apa jangan – jangan Hamra punya kaka baru yah? yang lebih keren dari kak Ahmar?“ tanyanya sedih.


     “Hahaha! kak Ahmar ada –ada saja, mana mungkin Hamra ada kaka baru.“ jawabnya.


     “Terus kalau gak ada kaka baru kenapa kak Ahmar jadi urutan ke empat? gak asiklah!“ dengusnya.


     “Kaka gak perlu khawatir! yang diurutan pertama itu ibunda, kedua ayahanda, ketiga kak Aisyah dan yang terakhir itulah kak Ahmar. Emang Hamra salah ya?“ jelasnya.


     Ahmar yang mendengar kata – kata Hamra langsung tersenyum bahagia.


     “Gak kok! Hamra gak salah,“ serunya lalu mereka mulai tertawa bersama – sama.


     Aku pun langsung tersadar dari bayangan itu.


     “Jadi ternyata itu adalah kak Ahmar,“ ucapku.


      Akhirnya aku dapat mengingat kembali walau hanya mengingatnya saja, karna sepuluh menit lagi waktu akan berjalan keangka dua belas pas. Tapi sungguh ajaib, sebab kak Ahmar dapat ku ingat terlebih dahulu sebelum ingatanku pulih. Aku juga sangat merindukannya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2