Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 108


__ADS_3

     Akhirnya sekarang giliran sahabat dan teman – temanku yang datang. Aku pun langsung memeluk Eris dengan erat.


     “Ya ampun sekarang kamu sudah sah juga yah! walau pun kalian kerjaannya berantem mulu!“ ledeknya sambil tersenyum.


     “Ih! bisa aja! namanya juga jodoh,“ responku sambil mencubit pipinya gemas.


     Ia pun hanya merintih sedangkan suaminya hanya tertawa ketika melihat kedekatan kami.



"Assalamualaikum semuanya, 🤗 perkenalkan aku suaminya Eris." 😊


     Kini giliran teman – temanku.


     Alika dan Aira sedang memelukku erat, mereka mulai menitikkan air mata bahagia karna aku masih tak melupakan mereka dan mau mengundang mereka secara gratis ketika ingin kesini.


     “Udah tidak usah sedih! bagaimana kalau kita sekarang sahabatan? bukan teman biasa lagi,“ usulku.


     Mereka hanya mengangguk dan seakan tak percaya dengan kata – kata ku.


     “Mau banget!“ ucap mereka serentak, sambil menghapus air mata mereka.


    “Aku jadi ikut senang, jika kalian menerimanya!“ responku yang sejak tadi juga ikut berlinang air mata, karna sudah lama aku menampung rindu pada mereka.


     Walau pun status mereka seorang ibu, tapi status jiwa mereka masih saja seperti gadis muda.


     “Udah puas lemas rindunya? lama banget! kita kan mau ketemu juga kali, bukan kalian doang.“ cibir Brago.


     “Au tuh! udah kayak setahun kagak bertemu,“ sambung Rendi jenuh.


     “Apaan sih? ini mah udah lebih dari setahun tau! gak sabaran benget sih! suruh pegang dua anak sebentar aja susah banget!“ protes Aira.


     “Au tuh! para suami yang gak sabaran sama istrinya kayak gitu tuh contohnya! baik kalau ada maunya,“ sambung Alika tak mau kalah.


     “Terserah!“ respon mereka berdua sambil menggenggam tangan kedua anak mereka.

__ADS_1


     Brago dan Aira mempunyai dua anak laki – laki kembar, sedangkan Rendi dan Alika mereka mempunyai anak kembar tapi tidak identik karna satu laki – laki satu perempuan.


     Mereka tampak imut sesuai dengan usianya yang masih lima tahun.



             "Inilah anak Brago dan Aira."



               "Ini anak Rendi dan Alika."


     Anak mereka hanya menonton malas sikap kedua orang tuanya yang sudah mereka maklumi.


     “Nih! mamam tuh Hamra,“ ucap Alika dan Aira mulai berlalu dari hadapanku dengan pandangan tajam kearah mereka.


     Mereka pun membalasnya dengan tatapan yang tak kalah tajam, aku dan Ahmar hanya terkekeh melihat mereka.


     “Udah jangan berantem mulu! malu tuh di liat sama buah hati,“ godaku yang membuat mereka baru sadar bahwa sejak tadi mereka membawa anak mereka untuk melihat acara perdebatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.


      Kini aku telah berhadapan dengan Rendi dan Brago. Ahmar tidak mempermasalahkannya! karna mereka sudah cukup dekat, jadi ia tidak terlalu cemas.


     “Ah! seperti yang kau lihat, aku sangat baik karna aku selalu dijaga oleh suamiku.“ jawabku sambil tersenyum kepada Ahmar dan ia juga membalas senyumanku.


     “Oh ya! Brago kalau kamu gimana?“ tanyaku.


     Ia yang awalnya sudah kehabisan kata – kata ketika berhadapan dengan ku mulai  mengangkat suara.


     “Oh aku baik! aku hanya senang akhirnya kalian dapat bersatu,“ jawabnya yang tentu saja berbohong, tapi ia sudah berusaha untuk mengikhlaskannya.


     “Kau tidak mungkin kan masih mempunyai perasaan kepadaku setelah menikahi Aira? aku tidak akan memaafkanmu jika kau menyakiti hatinya!“ ancamku sambil berbisik ditelinganya.


     Ia hanya mengernyitkan dahi.


     “Ah! tentu tidak Hamra, aku kan akan selalu setia kepadanya.“ responnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

__ADS_1


     “Awas saja jika kau menipuku! dengar ya! aku sudah menghargaimu, tapi kau harus sadar bahwa jodohmu yang sekarang bukan aku.“ ancamku lagi – lagi hanya berbisik ditelinganya.


     Ahmar yang sudah merasa tak nyaman mulai membuka suara.


     “Apa yang sejak tadi kalian bicarakan?“ selidiknya sambil mengangkat satu alisnya.


     “Ah! tidak apa – apa!“ responku dengan nya bersamaan karna merasa gugup sekaligus takut.


     “Kau jangan main – main istriku,“ ancamnya sambil mendekatkan wajahnya kewajahku, ia pun tak segan – segan memperlihatkan tatapan tajamnya padaku.


     Aku hanya menutup mataku, wajahku sudah pucat pasi.


     “Sudah... Aku hanya membicarakan tentang prihal istriku kok! ia hanya tidak ingin aku menyakiti Aira, karna dulu aku pernah hampir membunuhnya.“ beritahunya sambil berbisik ditelinga Ahmar agar tak didengar oleh anak – anaknya yang kini sudah bersama istrinya.


     Ahmar pun menghembuskan nafas lega.


     “Baiklah kalau begitu!“ responnya dengan wajah datar.


     Akhirnya tak berapa lama kemudian mereka pun pamit untuk menikmati sajian, aku kini mulai menghembuskan nafas lega karna tidak akan terjadi perkelahian.


     Untung Brago pandai dalam mencari alasan yang sedikit sama dengan topik yang dibicarakan.


      Kini acara salam – salaman mulai berlanjut kembali setelah sahabatku membuat kemacetan.


     Akhirnya azan dzuhur mulai berkumandang dari masjid. Aku pun bergegas menuju kamarku. Aku sudah sangat panas saat mengenakan gaun dalam waktu lama. Apa lagi kembang! pasti sangat berat, tapi demi suamiku aku pun menurut saja sesuai arahan perias.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Star punya pertanyaan nih... 😎


Kira - kira Kaka sekalian lebih suka anak kembar identik atau tidak nih? 😋


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2