Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 57


__ADS_3

     Ahmar hanya mengangguk tanda mengerti, ia sebenarnya tak bisa berpisah dengan Hamra. Ketika berpisah dengannya beberapa menit saja hatinya akan terasa sakit, ia tau bahwa ia bukan tipikel cowok munafik yang membohongi perasaannya sendiri.


     Jujur ia sebenarnya sangat mencintai Hamra, tapi mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Jadi ia lebih memilih diam dan tak meladeni ucapan Hamra yang menurutnya tidak penting dan mengambil yang ia anggap perlu diambil dari nasehat tersebut.


     “Baiklah aku paham sekarang, tapi jangan lupa sama janji kamu yah!“ perintahnya.


     “Janji apaan kak?“ tanyaku bingung sambil menggaruk – garuk kepalaku yang tak terasa gatal.


     "Kamu tuh bener – bener yah! boong dosa tau!“ dengusnya kesal sambil menatap tajam kearahku.


     Aku yang ditatap malah bersikap acuh tak acuh saja sambil memandang sejuk danau yang ada dihadapanku.


     Ahmar yang kesal karna merasa ku acuhkan langsung menyentil pelan pipiku, aku yang terkejut sontak hendak melayangkan pukulan dengan satu tanganku kearahnya.


     Ia dengan sigap langsung mecegahnya dengan menahan tanganku.


     “Apaan sih! lepas gak tanganku!“ ancamku pada Ahmar.


     Ahmar malah tak peduli dengan ancamanku, ia langsung menarikku kedalam pelukannya. Tak peduli dengan diriku yang terus meronta – ronta ingin dilepaskan.


     “Mentang – mentang sekarang kamu tinggi dan lebih kuat dariku jika tak menggunakan kekuatan, kamu bisa sepuasnya memperlakukanku seperti keinginanmu? aku bukan boneka kaka! peluk guling aja napa sih? tuh dikamar masih banyak tuh yang nganggur minta dikelonin, lah kamu malah sibuk ma yang lain. Kaka! kaka! kaka!“ pekikku beberapa kali tapi Ahmar tidak peduli, ia malah mengeratkan pelukannya kepadaku.


     Aku yang telah putus asa mulai kehabisan cara agar terlepas darinya dan mau tidak mau aku pun menyerah dan membiarkan tubuhku dipeluk hangat olehnya. Aku dapat dengan jelas mendengar detakan jantung Ahmar karna kepalaku sedang bersender didada bidangnya.


     Ahmar yang merasakan kediamanku mulai tersenyum senang.


     “Aku gak tau Hamra! kenapa aku seperti ini! aku masih merasa takut Hamra! aku masih syok saat aku lihat kamu waktu berlumuran darah! aku masih dihantui rasa kehilangan! walau pun aku sendiri tau bahwasanya kamu telah selamat sekarang! tapi semenjak kejadian itu membuatku jadi tak mau lagi pisah sama kamu!"


     "Aku merasa gagal buat jagain kamu! memang kamu pasti gak bakalan ngerti apa maksud aku sekarang, tapi aku mohon sama kamu coba kamu peka sedikit sama aku Hamra! kita memang hanya sahabat! tapi..." potongnya yang langsung membuatku sedikit penasaran.


     “Tapi apa?“ tanyaku dan ia malah tidak menjawab perkataan ku.


     Aku hendak membaca apa yang ia pikirkan, tapi entah kenapa saat aku ingin melakukan itu jantungku jadi berdebar begitu kencang. Jadi aku  hanya mampu mengurungkan keinginanku.


    “Tolong jangan lupa sama janji kamu yah Hamra! waktu aku pura – pura pingsan kamu bilang kamu janji gak bakalan ninggalain aku lagi,“ ucapnya sedih.


     Entah mengapa hatiku jadi merasa sakit, aku pun mulai merasakan pelukan itu telah mengendor dan aku langsung mendorongnya pelan.


     “Udah cukup! kelamaan tau,“ dengusku kesal setelah terbebas dari dekapannya.


    "Baru juga dibilangin tapi masih aja ngeyel, untung udah lama kenal! kalau enggak udah aku bunuh kali yah kalau ketemu cowok modelan kayak kaka, kerjaannya main pelak peluk aja.“ omelku.


    Ahmar hanya terkekeh pelan, yang penting hatinya sudah sangat senang sekarang.

__ADS_1


     “Oh ya kak! kaka gak usah anggap serius yah tentang janji yang aku bilang tadi, kan aku gak sengaja ngomongnya. Lagian mana bisa sih kita kerjaannya nempel mulu kayak magnet, kan kita belum muhrim. Kaka kan udah gede, masa kerjaannya ngekor mulu. Ekor kodok aja kalau udah gedek putus sama emaknya masa kaka yang manusia enggak.“ cibirku kesal.


     “Emangnya aku hewan?“ tanya Ahmar masih sulit mencerna kata – kataku. Aku pun membenarkan jilbabku yang sudah berantakan.


     “Kaka gak peduli! kamu itu udah janji tau!  kalau mengingkari janji dosa tau!“ peringatnya.


     “Bodo amat! karna kaka udah bikin aku panik! jadi salah ngomong deh!“ elakku tak terima.


     Ahmar tak peduli, ia merebahkan dirinya diatas rerumputan lalu mulai memejamkan matanya.


    Matahari mulai terbenam, aku yang telah puas memandang danau langsung bangkit untuk pulang ke Istana. Aku khawatir sama ayahanda dan ibunda, pasti mereka mencemaskanku yang pergi sudah tidak ada kabar.


     Jangankan kabar! izin aja kagak! aduh mau jadi anak durhaka kali, kalau dihukum jadi batu kayak malin kundang okelah! tapi kalau dikutuk jadi sate bisa gosong aku dipanggang di atas bara api, tapi lebih baik sih jangan dua – dua.“ batinku sambil terkekeh geli.


     Kini aku mulai berjalan, tapi hatiku entah kenapa merasakan seperti ada sesuatu yang tertinggal dan benar saja, saat aku melihat kebelakang aku  menemukan tubuh Ahmar yang masih tertidur terlentang diatas rerumputan.


     “Kaka! kaka! kaka! bangun kaka udah mau magrib nih!“ seruku sambil menggoyang kan tubuhnya beberapa kali.


     Ia langsung terduduk, terlihat jelas dari matanya bahwa ia masih sangat mengantuk.


     “Kaka ayok pulang,“ ajakku lalu memukul pelan pundaknya.


     “Ya udah tapi bantuin bangun dong!“ pintanya sambil mengulurkan tangannya.


     “Oh iya yah! kaka lupa,“ responnya tertawa sambil memukul dahinya.


     “Dasar kak!“ dengusku pelan.


     Setelah bangkit ia malah menarik tanganku agar berjalan beriringan dengannya, aku sangat terkejut dan langsung menjewer telinganya sehingga ia jadi meringis kesakitan saat genggaman tangannya terlepas dari tanganku.


     “Dasar kaka! kebiasaan! udah dibilangan berkali – kali tapi masih aja ngeyel,“ dengusku yang masih memutar daun telinganya.


     “Udah dong Hamra! telinga kaka sakit nih! kamu gak kasian apa sama kaka?“ rintihnya.


     Aku pun mau tak mau langsung melepasnya karna tak tega melihat wajahnya yang memelas kearahku.


     “Kaka gak sengaja Hamra, maklumlah! kan baru bangun tidur.“ rengeknya.


     Aku hanya memalingkah wajahku kearah lain dan tak peduli dengan omongannya.


     “Maafin kaka yah!“ pintanya.


     "Gak mau!“ jawabku kesal.

__ADS_1


     “Ayolah! nanti sebab kalau Hamra ngambek Hamra pasti diemin kaka! kaka paling males kalau Hamra yang diemin, jadi tolong yah! jangan marah sama kaka.“ pintanya sambil terus tersenyum kearahku penuh pengharapan.


     Tapi aku tetap saja acuh dengan apa yang Ahmar katakan.


     “Boleh aku maafin, tapi ada syaratnya.“ ucapku sambil menatap malas kearahnya.


     “Emangnya apa sih syaratnya?“ tanyanya penasaran.


     “Yang pertama gak boleh pegangan tangan, yang kedua gak boleh main pelak peluk terus kayak guling dan yang terakhir yaitu yang ketiga ini yang paling penting, yaitu gak boleh masuk nyelonong terus kekamar orang lain tanpa izin karna kamar adalah privasi orang lain dan gak boleh sembarangan kalau masuk."


     "Lagi pun kita beda jenis, kalau pas kaka masuk aku lagi gimana – gimana kaka emang mau tanggung dosa? kayak tadi, kaka main masuk terus waktu aku lagi sisir rambut sedangkan kaka kan gak boleh liat lagi rambut aku. Karna rambutku adalah mahkotaku dan juga auratku. Jadi aku gak bakalan lagi kasih liat siapa pun kecuali orang yang semahram denganku,“ jelasku.


    Ahmar hanya mampu mendengus ketika mendengarkan ucapanku, ia benar – benar kesal karna permintaan yang kubuat lumayan sulit baginya.


     “Ya ampun... Itu syarat apa proposal?“ tanyanya bingung.


     “Emang kaka tau apa itu proposal?“ responku malah balik bertanya.


     Ia mulai menggaruk – garuk kepalanya yang tak gatal sambil menyengir sendiri.


     “Gak tau,“ gelengnya sambil membuat ekspresi wajah yang menurutku sangat menggemaskan.


     Aku yang melihat ekspresinya sontak langsung mencubit kedua pipinya dengan kedua tanganku. Ahmar hanya pasrah dengan apa yang aku lakukan.


     “Aduh imut banget sih!“ ucapku gemas.


     Ahmar hanya mampu terkekeh melihat tingkahku.


     “Ketauan kan bahwa sebenarnya aku ini imut,“ godanya sambil mengedipkan mata kearahku.


     Aku yang sudah sadar dengan tingkah ku langsung melepaskan tanganku dari pipinya.


    “Aduh! bodoh banget sih kamu! ngapain coba malah cubit – cubit pipi kak Ahmar,“ batinku.


     “Nah! kayaknya ada yang suka nih sama abang ganteng ini,“ ucapnya percaya diri.


     Karna sangat malu aku memilih berlari ke Istana yang jaraknya tak terlalu jauh lagi. Aku jadi merasa salah tingkah dan pipiku mulai bersemu merah.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2