Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 64


__ADS_3

     Tak berapa lama kemudian ibunda dan ayahanda datang dan panik melihat kondisiku yang semakin memburuk karna aku sedang dalam keadaan sangat tertekan.


     "Maafkan ibunda putriku, ibunda gak bakalan bisa lepasin kamu begitu pun yang lainnya. Karna ibunda tau kamu adalah kunci makmurnya Kerajaan ini. kamu tidak akan pernah ibunda izinkan mengingatkan semua kejadian karena kamu memiliki sifat dendam yang sangat besar, hingga ujung - ujungnya tanpa rasa takut kamu akan menghadapi musuh itu sendiri."


     "Walaupun pun kamu masih kecil, dan asal kamu tau itu adalah suatu tindakan yang sangat berbahaya bagi dirimu bahkan jiwamu. Sudah cukup kami semua melihat tubuhmu yang berdarah karena si jubah hitam dan hampir menghilangkan nyawamu."


     "Itu saja sudah membuat ibunda dan yang lainnya trauma setengah mati, kami sangat sayang kepadamu putriku terutama ibunda dan ayahanda juga kakamu." jelasnya sambil meletakkan kepalanya di samping kepalaku.


     Matanya telah berair akibat air mata, aku jadi sulit berkata - kata.


     "Ibunda! tapi sekarang ibunda lihat sendiri kan? aku tidak apa - apa beberapa hari yang lalu, setiap niat yang baik pasti akan berakhir dengan sesuatu yang baik pula. Buktinya Allah masih menolongku, jadi ibunda jangan khawatirkan aku, karena aku punya Allah yang akan selalu di jaga karna aku adalah hamba-Nya."


     "Aku yakin Allah tidak tidak akan pernah lupa pada hambanya yang selalu ingat kepada-Nya dan selalu beristighfar ketika melakukan kesalahan, juga bertobat saat melakukan dosa yang menurut hamba tersebut fatal sehingga Ia jadi sangat peduli padanya."


     "Tidak hanya itu! Allah juga pasti akan membantu orang - orang yang juga membantu orang lain, bukan dengan pahala ibadahnya saja! itu masih tidak cukup untuk menjadi orang yang selalu ada didekatnya." ucapku dengan penuh keyakinan.


     "Tapi kalau kamu mati gimana putriku?" tanya Ibunda masih dengan perasaan ragu.


     "Ibunda tidak perlu khawatir karna itu tergantung takdirku sendiri." ucapku mantap.


     "Lagi pula aku telah di anugrahi kekuatan, jadi apa gunanya apa gunanya kekuatan ini jika tidak aku andalkan untuk orang yang lebih membutuhkan, apakah ibunda tega melihatku yang terus di hantui rasa bersalahku hingga mati? ayolah ibunda! hidup itu pun kan cuma sekali, kalau bukan sekarang kapan lagi?" beritahuku.


     "Tapi hanya kekuatanmu saja tidak cukup, apa lagi jika kamu terlalu berlebihan menggunakannya, maka dirimu sendiri akan terancam akibat mengeluarkan kekuatan sama dengan energi yang kau punya. Semakin banyak energi yang kau keluarkan, maka organmu akan semakin merasa sakit." Jelasnya.


     "Kecuali kamu mau mengorbankan cincin yang kamu dapatkan dari gunung beriday untuk memperbaiki semuanya. Tapi itu sungguh berakibat fatal, karna kekuatanmu juga akan menghilang akibat tersedot kedalam cincin tersebut agar rencana itu ikut berhasil. Setelah semua itu berhasil, maka kamu akan jadi gadis biasa yang tak memiliki kekuatan. Memangnya kau sanggup?" tanya Aisyah tak habis pikir.

__ADS_1


     Aku yang mendengarkan ucapan kak Aisyah merasa tak gentar sedikitpun, aku tetap dengan keinginanku untuk membantu rakyatku.


     "Apa pun caranya! akan aku lakukan dengan cepat supaya korban jiwa tidak semakin bertambah," jawabku kekeh.


     "Apakah mungkin Hamra memang pemilik cincin tersebut?" batin Ahmar.


     "Jika memang ia berarti," sambung Ahmar tak habis pikir.


      Ia tak menyangka, jika ternyata ia dan Hamra sama - sama mendapatkan cincin dari gunung tersebut.


     Konon katanya gunung itu hanya memberikan cincinnya pada sepasang kekasih yang baik hati, dan ternyata sepasang kekasih itu adalah ia dan Hamra.



     Ia sebenarnya sangat ingin memeluk Hamra karena hatinya sangat bahagia, tapi melihat kondisi yang tak memungkinkan ia hanya mengurung dalam - dalam keinginannya.


     "Tidak apa - apa! aku akan membantumu Hamra," tawar Ahmar penuh keyakinan.


     "Tapi Ahmar! kamu tidak tau cincinku telah hancur," respon gadis itu mulai menangis deras.


     Ia hanya tersenyum sambil melihat kearahku.


     "Aku yakin cincin itu akan utuh kembali," ucapnya sambil mengelus kepalaku, semua yang minat hanya mampu tersenyum sambil menggoda kami beberapa kali.


     Aku yang merasa risih langsung membisikkan sesuatu pada Ahmar dan ia mengangguk tanda mengerti.

__ADS_1


     "Jadi bagaimana? ayahanda dan ibunda juga kak Aisyah mengizinkanku kan?" tanyaku yang sudah tampak tenang.


     Tubuhku pun sudah mulai terasa membaik, aku jadi dapat bangkit dari pembaringan untuk duduk dan menyenderkan punggungku di kepala ranjang.


     Mereka sebenarnya sulit untuk berkata iya, tapi dari pada terjadi yang tidak - tidak karena aku tidak mendapatkan restu dari mereka akhirnya dengan berat hati mereka semua mulai mengangguk.


     Karena mereka tau, walau pun aku tak di izinkan aku tidak akan peduli dan tetap menjalankan sesuai keinginan ku akibat keras kepala.


     "Akhirnya," ucapku senang.


     Karna mendapat restu tubuhku jadi sehat kembali seperti sedia kala, aku pun menatap Ahmar untuk memberi isyarat melalui tatapan mataku dan Ahmar pun langsung membopongku dengan kedua tangannya kemudian membawaku keluar dari dalam kamar.


     "Dasar anak muda zaman sekarang! pada pake Kabur - kaburan terus tanpa pamit terlebih dahulu," cibir ibunda Ahmar.


     "Sudahlah... Maklum mereka kan sedang jatuh cinta," respon ayahanda Ahmar sambil mengelus puncak kepala istrinya.


     "Kan kita semua pernah muda!" sambung ibundaku yang membuat ibunda Ahmar jadi salah tingkah.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2