Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 21


__ADS_3

     "Sudah cukup kawan," ucapku mulai lemas hingga mereka mulai melepaskan pelukan mereka perlahan - lahan dan langsung menghadap kearahku dengan mata bengkak dan merah.


     "Nah! sekarang pertanyaannya, bagaimana caranya kita merebut kembali Alika dari tangan sipenjahat licik itu?" tanya Rizki sudah tak sabar.


     "Aku ada ide!" ucapku lalu langsung berkata "sekarang melingkarlah! salah satu diantara kalian harus berdiri disebelah kanan dan kiriku, lalu genggamlah tanganku dengan tangan yang lainnya kuat - kuat! jangan sampai ada yang mengendurkannya." pesanku.


     Setelah memberi aba - aba, mereka pun langsung mengangguk pertanda mengerti.


     Tiba - tiba mereka langsung berebut untuk berdiri disampingku dan saling dorong - mendorong, aku pun jadi sedikit kesal.


     "Berhenti!!!" pintaku setengah berteriak lalu suasana yang tadinya sempat riuh kini menjadi hening.


     "Baik, terima kasih." ucapku sambil tersenyum.


     "Biarkan aku saja yang memilih orang yang berdiri disebelah kanan dan kiriku, tapi tidak boleh ada yang marah ketika ada yang tidak terpilih." sambungku.


     "Pasti Rendi," bisik salah satu diantara mereka mulai berburuk sangka.


     "Ia bener banget tuh!" sahut yang lainnya.


     Aku pun mulai menghampiri seorang pria berjaket hijau yaitu Rehan. Ia sibuk menyendiri sejak tadi, tidak ada sepatah kata pun yang dia ucapkan setelah rangkulan selesai.


     kini ia sedang mengasingkan dirinya. Karna sedang memakai sarung tangan, aku jadi mudah mengajaknya dengan cara menarik tangannya hingga posisi nya yang sedang duduk jadi berdiri.


     Tanpa meminta jawaban, aku pun langsung menyeretnya ke kelingkaran tadi. Mereka tercengah dan sifat buruk sangka itu pun hilang karna telah diganti dengan rasa malu akibat kesalah pahaman mereka sejak tadi.


     "Kenapa kau begitu murung Rehan?" tanyaku kepadanya.


     Ia hanya menggeleng, air matanya mulai menetes deras. Setelah menarik nafas panjang, ia pun langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan kananku.


     Kini ia sedang menghadap kearahku sambil menaruh dua telapak tangannya dipundakku, kemudian salah satu tangannya mulai bergerak untuk mengangkat daguku hingga akhirnya aku tercengang menatap kearah matanya yang bening dan mulai berair lagi.


     "Dengar yah! aku kini tidak peduli siapa namamu dan dari mana asalmu, tapi aku mohon semoga kau betul - betul berniat membantu kami. Aku sekarang masih berada didalam ketakutan yang sangat dalam karna orang tuaku masih tak menerimaku, kamu pasti taukan? rasanya tak diperdulikan oleh orang yang mungkin sangat kamu sayang! taukan? kumohon!" rintihnya.

__ADS_1


     Aku ikut menangis.


     "Aku tau rasanya! yakinlah dan perbanyak doa, Insya Allah aku betul - betul berniat membantu kalian semua."  jawabku lalu mulai mengambil kedua tangannya dari pundakku.


     Tanpa berpikir panjang aku langsung mendorong tubuhnya untuk berjalan kesampingku, tangan kananku mulai menggenggam tangan kirinya yang dingin dibalik sarung tanganku.


     "Khadijah!" seruku.


     "Iya," responnya lalu mulai berdiri disebelah kiriku.


     Setelah semuanya selesai menggenggam tangan dengan erat hingga berbentuk lingkaran aku pun berkata "ketempat tujuan," ucapku.


     Lalu kami pun sampai disuatu rumah megah berwarna merah, dibagasi terdapat satu mobil yang cukup mewah berwarna merah pula.


     "Waw! rumah siapa tuh? gede banget!" tanya Ridho mulai heboh.




"Kalau ini mobilnya, 😃 ada yang udah punya belum? kalau udah ajak - ajak yah!" 😉😁😂


     "Ah! kamu mah! rumah segede itu ma gak penting kalau penghuninya hanya suka berbuat kejahatan," ceplos Rerga mulai geram.


     "Betul tuh betul!" sambung Rizki tak mau kalah.


     "Gelang goib," ucapku lalu mereka semua langsung melihat kearahku.


     "Nah! pakai ini, dengan ini kalian akan leluasa masuk kerumah itu sesuka kalian, kalian bisa tembus lewat dinding jadi jangan kaget nantinya." terangku.



     "Ini nih! 😊 gelang goibnya." ☺️

__ADS_1


     "Sekarang! ayo kita bergegas mencari Alika dan menangkap penjahatnya!" seru Rendi semangat.


     "Ayo!" jawab kami serentak.


     "Hai! kalian harus ingat yah! kita mampu melihat kelompok kita sendiri tapi orang lain tidak, jadi bakal mudah untuk meminta bantuan ketika sedang terperangkap dalam kesempitan." pesanku.


     Mereka semua pun mulai mengancungkan jempol tangannya kearahku sambil tersenyum lebar pertanda mengerti.


     Setelah membaca bismillah, mereka mulai memakai gelang pemberianku lalu menjadi tak kasat mata.


     "Baiklah mari kita berpencar!"  seruku sedangkan Khadijah sudah masuk kembali kedalam cincin.


     Tanpa berpikir panjang kami pun mulai masuk menembus pagar rumah dan menyelidikinya dengan teliti.


     Seorang gadis keluar dari rumah tersebut dengan menggunakan celana jeans dan baju potong bunga - bunga berwarna oren, juga satu kaca mata hitam yang melekat diwajahnya untuk menutupi kedua matanya.


     Gadis itu mempunyai tinggi badan yang standar dengan kulit putih bersihnya hingga terlihat cerah dibawah sinar sang mentari.



"Ini baju yang sedang dipakai oleh pelaku saat keluar rumah." 😄



   "Dan ini adalah kacamata nya." 😎


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2