Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia

Misteri Dua Cincin Dibalik Runtuhnya Istana Andalusia
Part 51


__ADS_3

     Tak berapa lama kemudian kami pun sampai. Aku menyuruh dayang untuk mengantarkan guru ketempat pengobatan agar cepat diberikan obat oleh tabib, tapi guru bersikeras menolaknya dan meminta agar disuruh beristirahat sambil mengobrol bersama kami diatas sofa Istana.  



"Seperti inilah bayangan sofa ruang tamu Kerajaan Andalusia." 🙂


     Ketika semua orang sudah duduk dengan rapi, aku mulai membuka topik pembicaraan.


     “Maaf, sebenarnya kalian dari mana?“ tanyaku pada Ratu Isabel dan Raja Ferdiand.


     Mereka yang awalnya sibuk mengelus rambut putri mereka yang ada ditengah langung menghentikan kegiatan mereka dan mulai menatapku dalam.


     “Apakah kau ingin membalas dendam pada Kerajaan kami?“ bukannya menjawab Ratu Isabel malah bertanya menyelidik.


     “Tentu saja tidak!“ jawabku sambil tertawa pelan.


     "Aku hanya ingin tau saja,“ ucapku.


     “Baiklah! jika itu yang kau inginkan! kami harap kamu tidak berbohong!“ ucap suaminya.


     "Untuk apa aku berbohong? lagian apa wajahku mencerminkan sifat seperti itu?“ tanyaku sambil memasang eksperesi datar.


     “Hahaha! maafkan kami! tentu saja tidak! kami hanya becanda! jangan serius begitu!“ ucap mereka serentak.


     Aku hanya mampu menggeleng – gelengkan kepala melihat raut wajah mereka yang berubah begitu cepat.


      “Kami berasal dari Kastila. Disana kami mempunyai Kerajaan sendiri yang perlu kami bina dengan baik, dan ini suamiku. Ia bernama Ferdinand. Kami menikah pada tanggal 19 oktober 1469. Kami mulai berkuasa pada tanggal 11 desember 1474 hingga sekarang."


     "Tapi entah bagaimana jadinya nasib Kerajaan kami disaat kami telah dibawa sijubah hitam kesini. Untung kami masih mempunyai seorang cucu yang mampu menggantikan kami untuk sementara waktu, ia bernama Carlos.“ ucapnya lalu ia pun langsung memandang suaminya dengan perasaan perih.


     Carlos adalah cucu dari anak pertama mereka yang kini sudah meninggal dunia karna suatu hal dan kini hanya tinggal Eris yang nantinya akan meneruskan Kerajaan tersebut.


     “Oh jadi begitu!“ ucap ku sambil mengangguk.


     Aku pun langsung mengubah wajahku kembali kewajah asliku.


     “Baiklah! kapan kalian berniat untuk kembali?“ tanyaku.

__ADS_1


     “Sebenarnya kami sangat merindukan Kerajaan kami. Kami ingin malam ini terus! tapi tidak mungkin, tubuh kami rasanya perlu untuk beristirahat walau hanya satu malam saja. Ngomong – ngomong apa ibunda dan ayahanda mu tidak keberatan membantu kami? kami kan sudah jahat pada kalian?“ tanyanya.


     “Tentu saja tidak!“ seru ayahandaku sambil tertawa senang.


     “Maklumlah karna kalian gak sengaja, kalian kan juga sedang dalam pengaruh jubah hitam tersebut. Lagian berkat putriku akhirnya guru silat terhebat kita ini bisa terselamatkan.“ pujinya sambil melihat kearahku.


     Aku langsung menyembunyikan pipi ku yang sedikit merona.


     “Gak usah disembunyiin!“  ledek Ahmar yang sedang duduk disampingku.


     “Ih kaka apaan sih! kan Aisyah malu!“ rengekku sambil memelaskan wajahku yang langsung membuatnya terkekeh geli.


     "Kok Aisyah sih? kan sekarang udah Hamra lagi, itu kan nama kaka kamu!“ protesnya sambil tersenyum.


     “Terserah kaka lah! kan Hamra lupa,“ ambekku sambil membuang muka.


     “Cie… Ngambek! mukanya makin jadi nenek - nenek kalau cemberut kayak gitu!“ ganggunya yang membuat emosiku naik lalu mulai memukul bahunya tanpa ampun.


     Ia hanya mampu meringis kesakitan lalu mulai mencengkram kedua pegelangan tanganku hingga aku jadi berhenti melakukan aksiku.


    “Ia kaka emang nyeselin, tapi ngangenin kan beb?“ ucapnya sambil mengedipkan mata.


     Aku hanya mampu menahan geli melihat tingkah kak Ahmar.


     “Beb - beb! emangnya aku ini bebek?“ dengusku sambil menaikkan sebelah alisku.


     “Ih! gemes banget sih!“ ucap Ahmar sambil mencubit kedua pipiku.


     Aku yang diperlakukan seperti itu oleh kak Ahmar hanya menahan perih lalu langsung membalas perbuatannya itu.


     “Kalian mentang – mentang sudah lama tidak bertemu melepas rindunya harus ditempat umum yah?“ goda ibunda yang langsung membuat kami jadi salah tingkah dan pipi yang awalnya putih jadi bersemu merah.


     “Gara – gara kaka sih!“ bisikku ditelinganya.


     “Kamu!“ responnya.


     Aku pun hanya mampu mendengus pasrah dengan apa yang dikatakan oleh Ahmar.

__ADS_1


     “Tapi maafkan aku ya baginda? aku juga tidak sengaja berada disini, aku juga merindukan keluargaku dan anak – anakku. Murid – muridku yang disana pasti juga mencariku yang menghilang tanpa kabar.“ ucapnya yang sejak tadi diam kini mulai ikut angkat suara.


     Ayahanda tampak sedih mendengarkan keinginan guru yang ingin meninggalkan Istana ini, tapi ayahanda masih dapat memakluminya karna setiap orang pasti merindukan keluarga mereka sendiri.


     “Tidak apa – apa! aku memakluminya! lagian itu suatu hal yang wajar! sekali lagi terima kasih karna telah mau melatih kami disini,“ ucap baginda.


     Guru yang mendengarkan kata baginda jadi sangat bahagia.


     “Tapi ada syaratnya,“ ucap baginda.


     “Apa syaratnya baginda?“ tanya guru yang wajahnya langsung berubah datar dan penuh rasa khawatir.


     “Jangan pernah lupa mampir kesini yah untuk mengajarkan ilmu mu lagi, anggap saja kita saudara sekarang!“ putusnya.


    Guru seakan – akan tak percaya dengan kata – kata baginda, ia sangat bahagia lalu langsung menghampiri baginda untuk memeluknya dengan erat.


     Tangisan penuh haru mulai terlihat dibalik wajah lelahnya yang berjuang mati  - matian untuk melepaskan makhluk hitam tersebut dari tubuhnya.


     “Bagaimana dengan kami? apakah Kerajaan kalian mau berdamai dengan Kerajaan kami?“ tanya Raja Ferdiand yang membuat kami diam sejenak dan akhirnya aku pun langsung menjawab pertanyaan tersebut karna belum ada salah satu pun dari keluargaku yang mengangkat suara.


     “Tentu saja kita berdamai! aku jamin kerajaan Andalusia dan Kastila akan harmonis sampai kapan pun!" ucapku sambil tersenyum.


     “Setuju!!!“ ucap semua orang yang ada diruangan tersebut, termasuk dayang dan prajurit.


     Mereka semua menjawab sambil menaikkan satu tangan mereka keatas secara bersamaan lalu tertawa riang, senyumanku jadi semakin merekah.


      Tapi aku jadi merasa ada yang kurang, seorang peri kecil yang sudah seperti adikku sendiri masih terjebak didalam cincin yang retak akibat peperangan yang membuatnya pecah berkeping – keping dan aku hanya mampu menyimpan kepingan yang sulit aku satukan itu.


     Dan yang paling mengesalkan adalah karna kekuatanku masih tidak dapat menyatukan kepingan cincin tersebut. Setelah puas bercerita dan tertawa ria, kami pun langsung masuk kedalam kamar masing – masing kecuali aku dan Eris bella.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2