
Keesokan paginya Hamra telah terbangun dari tidurnya. Ia langsung bergegas untuk mandi dan melaksanakan sholat, selesai sholat ia memanggil para pelayan untuk menyuruh prajurit menaruh barang – barangnya didepan Istana.
Lagi - lagi meja makan terasa kembali hening, tidak ada satu orang pun yang membuka suara. Aku yang melihat kemurungan diwajah mereka, entah kenapa hatiku jadi tidak enak.
Apakah karna aku lagi? aku pun masih tidak tau, tapi setelah ibundaku mengangkat suara baru aku mengerti.
“Hamra, kamu hati – hati yah nak! ibunda berharap kamu nanti disana akan selalu baik – baik saja,“ ucapnya parau.
Aku dapat melihat dengan jelas dari sudut matanya sudah tampak berkaca – kaca.
“Pasti ibunda! Insya Allah Hamra bisa menjaga diri, jadi ibunda tidak usah khawatir ya?“ responku sambil memaksakan senyumku.
Aku sebenarnya juga tidak sanggup melihat kondisi ibunda yang seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? aku akan tetap dengan keyakinan ku untuk bersekolah di Indonesia lagi, padahal ibunda sudah menyarankan ku untuk melanjutkannya di Andalusia saja.
Aku tidak mau, karna pasti akan sedikit berbeda.
Ketika sedang asyik menikmati makananku, tiba – tiba ponsel ku berbunyi dan terpampang jelas nama Eris dilayar ponsel hingga aku mengangkatnya.
“Hai Hamra! aku udah berada didepan Istanamu dengan mobil Kerajaanku! jadi cepatlah keluar, karna pesawat kita tidak lama lagi akan berangkat.“ pintanya.
“Oh! baiklah!“ responku lalu menutup ponselku.
“Ibunda! ayahanda! aku minta izin yah? karna Eris sudah datang dan tak lama lagi pesawat kami akan berangkat,“ jelasku.
Mereka yang mendengarkan ucapanku merasa sangat terkejut.
“Kenapa mendadak sekali?" tanya ibundaku.
“Maaf ibunda! aku juga baru tau karna Eris lah yang telah membeli tiket pesawat untukku,“ jelasku.
Kini bunda mengangguk mengerti, mereka pun ikut mengantarkanku keluar tanpa menghiraukan makanan mereka yang belum selesai.
“Dimana Eris?“ batinku sambil terus mencari kesana kemari tapi tak kunjung kutemukan.
Tiba – tiba seorang wanita yang sedang memakai jilbab ungu beserta gamis ungu berjalan kearahku sambil melambaikan tangannya.
"Nah! pakaian seperti inilah yang Eris gunakan saat berjumpa." 😋
“Hai Hamra! Assalamualaikum!“ sapanya yang langsung membuatku membelalakkan mataku tak percaya.
“Eris! kau benar – benar Eris kan?“ tanyaku tak percaya dengan sosok yang sedang berdiri didepanku.
“Iya dong! masak gak kenal sih? sama sahabatmu sendiri,“ godanya yang langsung membuatku memeluknya erat penuh haru.
“Akhirnya kau telah menuruti kata hatimu,“ ucapku senang.
“Iya itu semua berkatmu kawan,“ responnya sambil balas memelukku erat.
__ADS_1
Saat telah berpelukan ia pun berjalan untuk menyalami orang tuaku dan orang tua Ahmar, tak lupa juga dengan kak Aisyah dan kak Arfah. Tapi orang tua Arfah tidak hadir karna setelah pesta pernikahan anaknya, mereka langsung kembali ke Kerajaan mereka.
Sebelum masuk kemobil aku memeluk ibundaku erat sambil berbisik ditelinganya “Ibunda Hamra mohon jaga diri ibunda baik – baik! kalau ibunda rindu sama Hamra kita tinggal vc aja yah!“
Ibunda hanya mengangguk mendengarkan ucapanku, aku langsung menghapus air mata yang mengalir dipipinya.
“Ibunda gak boleh sedih! kalau ibunda sedih, Hamra jadi ikutan sedih nih!“ sambungku menahan tampungan air mata yang hendak keluar dari tempat persembunyiannya.
Ibunda mulai berusaha kuat didepanku. Aku tau ibunda belum bisa melepasku, tapi mau bagaimana lagi? tekad ku sudah bulat! aku berjanji akan belajar dengan giat agar ibunda tidak akan menyesal saat melepaskanku.
Walau pun aku selalu juara satu, tapi nantinya aku tidak tau karna pelajaranku sudah cukup banyak yang tertinggal.
Aku langsung masuk kedalam mobil dengan Eris setelah menyalami tangan semua keluarga. Sesampai didalam kami mulai bercerita – cerita.
“Eris! bagaimana caranya kau bisa seperti ini?“ tanyaku.
"Nah! 🤣 inilah mobil Eris." 😎
“Aku juga awalnya tak yakin, aku jadi seperti ini. Suatu hari saat aku sedang dikamar bersama ibundaku, aku pun menyurahkan apa yang ada didalam hatiku padanya. Salah satunya adalah masuk islam,“ ceritanya.
“Terus?“ tanyaku lagi.
“Kau tau? aku pikir ibundaku akan marah dan mengusirku dari Kerajaan. Tapi tidak! ia malah berkata sebaliknya yaitu 'jika kamu sudah yakin kenapa tidak anakku' aku sangat bahagai, sampai – sampai saat aku telah masuk islam ketika meminta bantuan seorang syeh lalu aku mengucapkan kalimat syahadat."
"Syeh tersebut ternyata masih sangat muda, bahkan usianya sekitar dua puluh tahun. Sejak hari itu aku jadi sering kemajlisnya untuk diajarkan sholat dan mengaji hingga aku bisa menguasainya dalam beberapa hari saja."
“Ada apa dengan pipimu Eris? kok merah sih? jangan – jangan kau telah bertunangan yah?“ tanyaku yang langsung membuatnya sangat terkejut.
“Ba-bagaimana bisa kau tau?“ tanyanya gugup.
“Kau ini! seperti tak tau saja sahabatmu gimana,“ jawabku sambil menaikkan sebelah alisku.
Ia hanya terkekeh pelan sambil menganggukkan kepala, pipinya makin bertambah merah saking malunya.
“Dan kau tau? saat ia melamar ku, orang tuaku menyetujuinya demi kebahagianku." beritahunya sambil tersenyum.
“Aku berharap mereka juga masuk islam,“ sambungnya mulai murung.
“Tidak usah khawatir! kamu berdoa saja, semoga Allah cepat memberi hidayah pada orang tuamu.“ semangatku.
“Amiiin,“ responnya sambil mengusap kedua telapak tangannya kewajahnya.
Aku yang melihat keceriaannya hanya tersenyum lebar.
“Maaf tuan putri, kita sudah sampai.“ ucap sang sopir.
“Baiklah! terima kasih,“ ucap kami bersamaan lalu langsung turun dari mobil.
__ADS_1
“Pak maaf! tolong bawakan koper kami keluar yah!“ pinta Eris.
Si sopir hanya mengangguk lalu menjalankan tugasnya.
“Ini tuan putri,“ ucapnya sambil membawa sebuah koper berukuran sedang berwarna ungu kepada Eris.
“Makasih!“ responnya.
“ Terus koperku mana?“ tanyaku pada pak sopir.
Ia pun berjalan kebagasi kembali.
“Maaf tuan putri! hanya ada satu koper dibagasi!“ serunya yang membuat ku terkejut.
"Inilah koper ungu milik Eris." 😊
“Ya ampun Eris! koperku berarti masih tertinggal didepan Istana,“ teringatku sambil memukul dahiku.
“Apa? terus bagaimana dong? apakah kita harus kembali? itu tidak mungkin! pesawat akan berangkat setengah jam lagi,“ cemasnya kaget sambil melihat kearah jam tangannya.
Aku yang sedang pusing memikirkan bagaimana caranya agar cepat sampai kesana pun terhenti akibat sebuah mobil merah yang berhenti tepat dihadapan kami.
Dari dalam mobil tersebut keluar seorang pria yang tak lain adalah Ahmar yang sejak tadi tidak terlihat.
“Ka-kaka!“ ucapku terbata – bata hingga akhirnya ia berjalan kearahku setelah membuka bagasi mobilnya sambil membawa benda yang tak lain adalah koperku yang berwarna pink, mataku jadi berbinar – binar.
“Wah! akhirnya koperku sampai juga! Alhamdulillah,“ syukurku senang.
"Inilah koper Hamra yang tertinggal saat telah berangkat tadi." 😥
“Untung aku melihatmu meninggalkan kopermu ketika aku sedang memerhatikan kalian dari atas balkon Istana,“ beritahunya sambil menatapku tajam.
“Ya maaf kaka! aku kan tadi terlalu bahagia melihat perubahan sahabatku, jadi lupa deh suru masukin koperku.“ alasanku.
"Terserah! itu berarti tandanya kamu tidak di izinkan untuk pergi meninggalkan Istana,“ tebaknya acuh tak acuh.
“Istana yang tak mengizinkan atau kaka?“ godaku hingga membuatnya jadi salah tingkah dan menyeretku menuju bandara.
Eris hanya menggeleng – gelengkan kepala melihat tingkah Ahmar dan mulai membuntuti kami dari belakang setelah menyuruh sopir pribadinya pulang.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇