Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Bertemu Anak Kecil


__ADS_3

Anak kecil itu masih diam saja, pandangannya seperti mencari sesuatu. Qin memberanikan diri, untuk bertanya lagi.


"Dik, siapa namamu?" tanya Qin.


"Namaku Fernan." jawabnya.


"Kenapa kamu bisa terjebak di sini?" tanya Qin.


"Aku diculik bersama Ibuku, lalu kami terpisah bertahun-tahun lamanya." jawab Fernan.


"Oh iya, kenapa kamu baru kabur sekarang?" tanya Friska.


"Ini bukanlah yang pertama kali, namun ini keberhasilan yang pertama." jawab Fernan.


"Kenapa kamu bilang seperti itu?" ujar Fredy.


"Buktinya saja, selama ini selalu menerima hukuman. Aku banyak disiksa karena paling melawan, di antara semua tawanan ruang eksekusi. Kalian lihat, luka pada tubuhku ini." jawabnya.


Tiba-tiba, terdengar suara derap langkah kaki. Mereka segera bersembunyi, di tempat pilihan masing. Qin masih setia menemani bocah itu, bersembunyi pada tumpukan kain lusuh.


Berharap aman, tentu saja iya. Semuanya ingin kembali dengan selamat, lalu berkumpul lagi bersama keluarga. Rasanya mereka sedang berpetualang, dalam dunia seram tanpa akhir yang jelas.


"Bos Joy, kami telah menangkap teman dari pengunjung taman hiburan dan wisata." ujarnya.

__ADS_1


"Bagus, habisi satu persatu nyawa mereka." jawabnya.


"Gadis bernama Debby itu masih hidup. Kami sangat menikmati wajahnya yang kesakitan, apalagi darah segar mengalir." ucapnya.


"Kalian anak buah cerdas, telah mengerjakan sesuatu dengan baik." jawabnya.


Tiba-tiba ada pria botak dan pria gondrong, memasuki ruang eksekusi dengan tergesa-gesa.


"Sekarang, kami ingin melaporkan sesuatu." ujar pria botak.


"Cepat katakan, jangan sengaja membuang waktu." jawab Joy.


"Anak kecil bernama Fernan kabur lagi." ucap pria botak itu.


"Baiklah bos, kami akan berusaha menemukannya." jawabnya.


Fernan dapat mendengar ucapan Joy, sedangkan Qin berusaha menenangkannya. Dia mengelus lembut kepala Fernan, meyakini bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Kamu gak usah dengarkan ucapannya, dan kamu harus yakin bisa keluar dari sini." ujar Qin berbisik.


"Iya Kak. Terima kasih telah menyemangati aku." jawab Fernan.


Para pria berpakaian serba hitam itu, segera membacok mayat yang tergeletak. Mengiris tubuh mereka menjadi beberapa bagian.

__ADS_1


"Hahah... bagus sekali ini." ujarnya.


"Iya, cincang sampai habis." jawabnya.


"Ingat pesanku, organ dalamnya ingin aku jual." ujar Joy.


"Baik bos." jawab semuanya.


Darah mengalir sampai mengenai kaki Friska, namun gadis itu berusaha untuk tidak menjerit. Dia menutup mulutnya sendiri, agar tidak berteriak karena jijik.


Sementara di sisi lain, Sisil dan Tiger tengah bersembunyi. Mereka dikejar oleh para mafia, yang berhasil menyeret Revano.


Sisil mencubit lengan Tiger. "Kamu bagaimana si Tiger, malah membiarkan Revano tertangkap."


"Aku bukan sengaja membiarkan, tapi aku benar-benar panik. Tadi, aku gak bisa mikir jernih." jawab Tiger.


"Apapun alasannya, kita harus kembali." ucap Sisil.


"Siapa bilang ingin kabur, lagipula teman-teman kita berada pada gedung markas." jawab Tiger.


Joy keluar dari ruangan eksekusi, bersama dua orang pengawalnya. Qin, Fernan, Fredy dan Friska keluar dari persembunyian diam-diam. Tentu saja dengan hati-hati, agar tidak terendus jejak kakinya.


"Aku tidak menjamin, kalau kita benar-benar aman." ujar Friska.

__ADS_1


"Aku tahu, namun kita butuh lega meski gak bahagia." jawab Qin.


__ADS_2