
Mereka terpaksa melanjutkan perjalanan, menuju ke ruang eksekusi yang lain. Fernan menunjukkan semua tempat, supaya Qin memeriksanya dengan teliti.
"Kak Qin bisa cari orang yang Kakak maksud. Kalau tidak ada, itu artinya dia sudah mati." ujar Fernan.
"Kalaupun dia sudah mati, aku ingin melihat mayatnya." jawab Qin, bersedih.
"Kalau mayatnya mungkin sudah hancur, banyak anggota tubuh yang tidak lagi utuh." ucap Fernan.
"Mereka sungguh sadis, menjalankan bisnis gelap diam-diam." Fredy merasa geram.
Terdengar suara pintu terbuka, mereka segera bersembunyi kembali. Seorang gadis berteriak meminta tolong, ternyata itu adalah Debby.
"Qin, bagaimana cara kita menolong Debby. Ternyata, dia masih hidup." bisik Friska.
"Aku juga gak tahu Friska." jawab Qin.
Bos Joy berkacak pinggang. "Gadis cantik tenang saja, mayatmu pasti aku urus dengan baik."
"Aku mohon, jangan bunuh aku." Debby bergemetar.
Friska mengambil batu, lalu melemparkannya ke sembarang arah pojok. Joy dan keenam anak buahnya langsung melihat.
__ADS_1
"Cepat kalian periksa, aku tidak ingin bila ada penyusup di sini." ujar Joy.
"Baik bos Joy." jawab semuanya.
Mereka melangkahkan kaki, ke arah pojokan. Sementara Fredy dan Friska segera keluar, dan mengeroyok Joy. Qin mengarahkan tembak, pada para pria berseragam hitam tersebut. Terjadilah tembak menembak, dengan Qin yang kadang menyembunyikan diri.
Sementara Fernan melepaskan ikatan tali, yang ada pada tangan Debby. Anak kecil itu juga ingin jadi penolong, untuk orang yang membutuhkan.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Fernan.
"Kakak hanya sudah tidak sanggup berjalan lagi. Luka di sekujur tubuh ini sangat perih." keluh Debby.
Qin berhasil menembak pundak Joy, yang menendang Fredy. Friska hendak menendangnya, namun malah didorong hingga jatuh. Qin menembak Joy dari jauh, dan begitupun sebaliknya. Fernan membawa Debby keluar bersama Friska.
"Qin, dia pasti akan memasang jebakan sana-sini. Dia tidak akan membiarkan kita, keluar dengan bebas." ungkap Fredy.
"Iya, aku mengerti. Namun dalam hidup ini, kita tidak boleh menjadi penakut." jawab Qin.
Joy terus mengejar mereka ke arah gudang. Qin dan Fredy melempar semua barang-barang, agar Joy kesusahan untuk lewat. Keranjang kayu yang sudah rusak, telah bertumpuk sepanjang lorong jalan.
"Aku pastikan, kalau kalian tidak akan bisa lolos." ujar Joy.
__ADS_1
"Aku pastikan, aku akan membunuhmu." jawab Fredy.
"Fredy, aku mohon jangan tembak mati dulu. Kalau tidak, aku tidak akan pernah bisa menemukan Kakak. Hanya dia yang tahu, Kak Arina berada dimana." ucap Qin memohon.
"Iya, setelah menggali informasi baru kita membunuhnya." jawab Fredy.
Qin dan Fredy memecahkan kaca jendela, sementara Joy sedang menyingkirkan barang-barang. Joy merasa kesal, karena jalannya dihalangi.
"Fredy, cepat sedikit. Dia hampir berhasil, untuk mendekati kita." ujar Qin.
"Iya Qin." jawab Fredy.
Fredy keluar duluan, lalu membantu Qin keluar. Tanpa diduga, pria botak dan gondrong muncul. Mereka berdua segera berlari tunggang langgang.
Bruk!
Keduanya menabrak seseorang, karena jalan tidak fokus lagi. Ternyata orang itu adalah Revano, pria yang sangat familiar bagi mereka.
"Revano, kamu masih hidup." Fredy memegang pundaknya.
Tiba-tiba saja Revano berjatuhan di lantai, dengan anggota tubuhnya yang terpisah.
__ADS_1
"Aaa!" Qin menjerit.
"Ternyata, dia sudah mati." Fredy hampir tak percaya.