
Friska dan Tiger naik ke atas lemari, saat mesin itu berjalan melindas buaya hingga tewas. Qin menghembuskan nafas lega, mengacungkan dua jempol pada Friska dan Tiger. Kaki melangkah keluar dari ruangan dengan hati-hati.
Para penjahat melapor pada Jenny, dan hari itu telinga menjadi bergemuruh. Seakan tsunami ingin menerjang lubang telinganya. Jenny melemparkan piring kecil ke lantai, hingga terbelah berkeping-keping.
"Nasib kalian akan sama seperti piring itu, bila gagal membunuh karyawan dan karyawati magang itu." Jenny melotot, dengan ancaman yang tidak main-main.
"Nona Jenny, dia terlihat bukan seperti orang biasa. Dia juga memiliki kemampuan mengelak serangan menembak. Berbeda dengan orang-orang sebelumnya, begitu mudah dilenyapkan saat lembur." jawab salah satu dari mereka mewakili bersuara.
"Kalian ini pria bandit, tidak mungkin kesulitan melenyapkan satu perempuan." Jenny berjalan ke arah kaca, menatap pemandangan kota dari gedung tinggi.
"Dia terlihat lihai beladiri, jadi perlu banyak persiapan." jawab satu orang, membantu mewakili temannya tadi.
"Kalian awasi pergerakan Qin itu, baik datang dan pergi ke kantor. Bahkan seluruh aktivitas kesehariannya harus tahu, dia begitu misterius. Kereta pembantaian pun berhasil lolos, orang biasa tak akan secerdik itu." titah Jenny.
__ADS_1
"Baik nona Jenny, siap laksanakan perintah." jawab semuanya, secara serentak.
Qin, Friska, dan Tiger berhasil keluar dari perusahaan lewat tangga biasa. Mereka pulang ke rumah masing-masing, dan tugas Qin yang belum selesai akan diguyur besok.
Karina mengetuk pintu kamar Qin, ada beberapa hal yang ingin ditanyakan. Tentang keadaan Fredy, tentang duta merek, dan lain sebagainya. Qin membuka pintu, lalu menyuruhnya masuk.
"Qin sayang, Mama harap kamu tetap menutupi identitas kamu sebagai detektif." ujar Karina.
"Tapi rasa khawatir tetap ada, karena para penjahat itu mungkin curiga. Bagaimana mungkin, kamu bisa bawa senjata saat naik kereta tengah malam itu. Seolah, kamu sudah mempelajari cara mengatasi kondisi darurat." jelas Karina, mengutarakan rasa cemas yang terpendam.
Karina memegang kedua pundak mamanya, lalu memeluknya dengan rasa kasih sayang. "Mereka juga tahu, tidak akan bisa menebak."
"Boneka seram yang dikirim ke rumah kita, sudah jelas ancaman yang ditujukan untukmu." Karina mengingat kejadian tempo lalu.
__ADS_1
"Kita benar, tidak boleh takut pada apapun. Dunia terlalu kejam, keberanian perlu dikerahkan. Aku akan tetap waspada, aku akan berusaha menjaga diri. Mama jangan terlalu berlebihan memikirkan aku, nanti Mama malah jadi sakit." Mengusap lembut punggung perempuan, yang dianggapnya malaikat tanpa sayap.
Keesokan harinya, kembali lagi ke perusahaan. Qin baru saja mau melaporkan yang terjadi pada bos Rudal. Namun siapa sangka, bahwa kekacauan semalam bisa beres dengan cepat. Tidak ada lagi buaya liar, dan ruangan mesin berat telah semula. Lantai yang bolong semalam, telah mulus tanpa cacat. Friska dan Tiger membulatkan kedua bola matanya, tercengang dengan apa yang mereka lihat.
"Qin, pasti ada yang menyusun semua kerusakan semalam." bisik Friska.
"Siapapun orangnya, pasti tidak jauh dari kita." jawab Qin.
"Kamu harus hati-hati, nyawamu terancam karena mengungkap kasus perbuatan kegelapan." Friska menepuk pundak sekali, turut prihatin.
Bos Rudal mendekat ke arah Qin. "Dokumen pendukung kemarin diperlukan untuk meeting pagi ini."
"Mendadak sekali, maaf belum mengerjakan sampai selesai." jawab Qin, seraya menundukkan kepala.
__ADS_1