Misteryous Detectif

Misteryous Detectif
Makan Bersama


__ADS_3

Setelah pembicaraan serius, barulah mereka pergi menemui Anyi dan Limuq. Sudah lama ditunggu, akhirnya muncul juga. Friska memberikan selamat, turut bahagia dengan rencana mereka.


"Cie, enak dong yang mau menikah." ucap Anyi.


"Hati terasa berbunga-bunga, deg-degan menatap semua orang." timpal Friska, ikut-ikutan menggodanya.


"Apanya yang berbunga-bunga, menikah itu harus siap beban. Mulai dari beban mental, ekonomi, fisik, musibah, atau hal-hal lain." jelas Qin.


"Nona cantik, kami berdua tidak akan membiarkan kamu menderita akan hal ini. Sesudah menikah, kita masih bisa jalan bersama. Menikmati hari yang indah, dengan menghirup udara segar." Anyi tersenyum, sampai menampakkan deretan giginya.


"Kalau gitu, kamu cepat menyusul. Dengan begitu, anak-anak kita bisa bermain di masa depan." jawab Qin.


"Oh iya, mana sertifikat detektifnya? Aku mau lihat, penghargaan yang kamu peroleh. Kasus 20 tahun tidak terpecahkan, akhirnya ketahuan juga dalang penjahat licik ini." Anyi menundukkan kepala, berbicara sedikit lirih.


"Aku merasa kasus belum selesai, masih ada yang mengganjal. Aku tidak yakin, kalau hanya Jenny seorang pelakunya." Qin membuka resleting tasnya, mengeluarkan kertas yang sudah ditutup plastik tersebut.


"Iya sudah, lakukan penyelidikan lagi." Anyi terkagum, saat melihat sertifikat Qin. "Bagus sekali, sepertinya Kakak pelatih membuatnya pakai hati. Beruntung sekali, menjadi murid istimewa."


Asap mengepul dari nampan yang dibawa oleh pelayan restoran. BBQ dan ubi bakar telah disajikan dengan sempurna, membuat selera mereka melambung tinggi.

__ADS_1


"BBQ kesukaan siapa?" tanya Anyi, sambil melirik Friska.


"Tentu saja aku." jawab Friska, dengan ekspresi ceria.


"Aku lebih suka ubi bakarnya, apalagi dicolek dengan saos tiram. Uwuw sekali rasanya, membuat lidahku berkelana. Tidak ingin lepas dengan mudah, sebelum puas merajalela menikmati rasa." jelas Qin.


"Kamu 'kan rakus, wajar saja bila ingin menelan dengan akar-akarnya." ledek Friska.


"Ini penghinaan berencana, akan terjerat pasal baru yang diterbitkan olehku." Qin mengunyah ubi, yang telah dimasukkan ke dalam mulutnya.


"Cie, sudah membuat hukum sendiri. Aww ngeri, apalagi yang jadi suaminya." canda Friska, seraya lirikan mata ke arah Fredy.


"Mama tebak ini Qin, siapa lagi yang berperilaku alay selain dia." ujar Karina.


"Ah Mama, tahu saja si." jawab Qin.


"Anak sendiri masa tidak tahu, ciri-ciri Ibu yang tidak baik."


"Hmmm... besok aku juga akan memahami anakku." jawab Qin.

__ADS_1


Mereka memakan rujak ikan, dicampur dengan buah kedondong asam. Qin meringis, namun tetap laju makan. Dari tadi menahan rasa, namun tidak ingin berhenti.


"Ini rujak ala Karina, pasti nagih mau tambah." Karina tepuk-tepuk tangan.


"Disaat seperti ini, harusnya Papa ada di rumah." Qin mencolek saos dan kecap, yang sudah ditaburi cabai rawit. "Hmm... pedas, sepertinya harus minum satu galon."


"Jangan, terlalu brutal." Karina mengingatkan, agar Qin tidak sungguhan melakukannya. "Lebih baik menggunakan gelas, lebih feminim."


"Iya Ma, iya. Minum berdiri juga tidak baik, untuk kesehatan ginjal." jawab Qin, dengan lembut.


Pagi hari Qin sengaja olahraga pagi, dan tanpa sengaja sebuah mobil menyerempetnya. Laki-laki itu turun lalu membantu Qin, sampai duduk di pinggir jalan.


"Maaf iya, aku benar-benar tidak sengaja." ujarnya.


"Iya tidak apa-apa." jawab Qin.


"Perkenalkan namaku Timon, kalau perlu bantuan bisa hubungi nomor ini." Dia mengeluarkan kartu nama.


Qin menerimanya. "Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2