
"Itu cahaya apa?" tanya Fredy.
"Hah, mungkin cuma lampu." Sisil berjalan santai.
"Itu bukan lampu, tapi sebuah jebakan listrik. Dia berbentuk seperti jaring Spiderman." ujar Qin.
Langkah kaki Sisil terhenti. "Kok kamu tahu semuanya iya Qin, atau jangan-jangan kamu kelompok mereka."
"Kamu jangan sembarangan menuduh, Qin hanya pernah ikut belajar kursus." ujar Fredy.
"Tapi, memang benar-benar mencurigakan. Qin yang mengajak kita ke sini, dia juga yang paham banyak hal. Kalian merasa aneh bukan, dengan yang terjadi." jawab Sisil.
"Sisil, kamu jangan bertindak aneh de. Qin cuma mau mencari Kakaknya yang hilang." ucap Fredy.
"Tapi, mengapa ada jebakan di pinggir laut. Padahal, kita hampir saja keluar dari sini." jawab Sisil.
Tiba-tiba saja pengait besi tajam, yang mengenai pundak Sisil. Ternyata, para mafia itu sudah datang. Atau mungkin sudah ada di sana, sejak mereka tiba tadi.
"Eh, ayo segera bunuh mereka."
"Iya, tentu saja."
__ADS_1
"Tolong!" teriak Sisil, yang merasa kesakitan.
Fernan menggoyang tubuhnya, tahu apa yang dirasakan oleh Sisil. Namun, pengait besi tajam itu tidak bisa lepas.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Fredy.
"Aku juga gak tahu, mendingan kamu cepat kabur duluan." Qin mengingat kaki Fredy yang sakit.
Fredy dan Fernan berjalan terlebih dulu, namun ada pengait besi yang menarik baju Fernan. Langkah kaki keduanya menjadi terhenti, sampai besi menusuk punggung anak kecil tersebut.
"Kak, punggungku ditusuk oleh pengait besi." keluh Fernan.
"Kamu sabar iya, biar Kakak bantu kamu melepaskannya." jawab Fredy.
Duar! Duar!
Duar! Duar!
Tiger juga ikut menembak, dengan tubuh bersembunyi di balik pohon. Tiba-tiba ada sekelompok baju hitam, yang menunggangi kuda sambil membawa pengait tajam. Qin terus mengelak, dengan tubuh jungkir balik. Dia menghindari serangan dari mereka, yang terus berlarian ke arahnya.
"Siapa gadis itu, kelihatannya lebih cerdik dari yang lain."
__ADS_1
"Iya, bahkan dia bisa beladiri."
"Sejak awal, aku sudah merasakan dia berbeda."
"Kita harus membunuh dia, agar yang lainnya tidak bisa kabur."
"Bukankah sejak awal masuk, di biodata tertulis dia hanya mahasiswi."
"Tapi, dia benar-benar teliti dengan pergerakan kita."
"Teliti bagaimanapun juga, dia tetaplah sendirian."
"Benar, temannya adalah orang yang lemah."
Suara-suara mereka berbincang, mengenai Qin yang tidak biasa. Dia seperti mengetahui tentang kriminalitas, dan juga mengetahui tentang jebakan yang terpasang. Kaki bergerak dengan terlatih, seolah memang sudah terbiasa.
Sisil berhasil tertarik ke arah mereka, dan tidak bisa diselamatkan lagi. Qin melepaskan pengait tajam pada punggung Fernan. Dia telah membawa tang, di dalam tas perbekalannya. Fernan, Friska, Tiger, Qin, dan Fredy segera melarikan diri. Beberapa mafia mengejar mereka, dengan menggunakan kuda. Sedangkan yang lainnya, fokus untuk menyiksa Sisil.
"Tolong!" Sisil berteriak histeris.
Qin dan teman-temannya sengaja berlari berkelok-kelok, agar penunggang kuda itu sulit menangkapnya.
__ADS_1
Duar!
Qin menembak kaki kuda, hingga orang tersebut jatuh. Dia tewas di tempat, karena kuda sedang berbelok dadakan. Sebenarnya enggan melakukan, namun harus tetap membela diri. Ini adalah tentang melindungi nyawa, dari kelompok tak berperasaan.