
Sisil berlari, bersamaan dengan langkah kaki Fernan. Mereka berusaha mencari Qin dan Fredy, namun tidak juga ditemukan. Mereka beristirahat, karena merasa lelah.
"Jujur, aku ingin pulang ke penginapan. Aku ingin banget mandi, tubuhku gerah sekali." keluh Sisil.
"Bisa si pulang ke sana, tapi kamu harus hati-hati." jawab Friska.
"Kenapa gak mandi di sungai saja, lagipula airnya jernih." ujar Fernan.
"Hih, Kakak gak mau mandi di tempat terbuka." jawab Sisil.
"Daripada kamu mengeluh sambil memperlihatkan raut wajah jelek, lebih baik kamu bawa kamar mandi di rumah. Jangan lupa suruh punggung bajamu, untuk mengangkatnya." ledek Tiger.
"Heheh..." Fernan dan Friska tertawa.
"Mana bisa Tiger, itu sangat mustahil." jawab Sisil.
"Kalau gitu, kita buat toilet dan kamar mandi online aja hahah..." ujar Friska.
__ADS_1
"Kalau mau membersihkan diri, berarti harus cari sinyal. Sama aja dengan bo'ong tau." Sisil mengibaskan telapak tangan, pada lehernya yang dipenuhi keringat.
Tak berselang lama, mereka segera berdiri. Berjalan ke arah sungai secara beriringan, tanpa diduga, mereka melihat Qin yang sedang duduk. Dia berada di pinggir sungai, sambil memegangi kepalanya yang sakit.
"Qin!" panggil Friska.
Qin menoleh ke belakang, dengan pandangan kabur. Tiba-tiba saja kakinya terpeleset, karena tidak seimbang. Qin jatuh ke dalam sungai, dan terbawa oleh arus yang deras.
"Haduh, bagaimana ini." ujar Fernan panik.
"Biar aku aja, yang membantu Qin. Kalian mandi aja duluan, nanti aku kembali lagi." jawab Friska.
"Qin kamu tidak apa-apa 'kan?" Friska membantu menarik tangannya.
Qin segera duduk di batuan besar. "Aku tidak apa-apa, terima kasih telah membantu."
"Kita harus cari cara untuk keluar Qin. Kita butuh bantuan, agar tidak binasa semua. Kakak kamu juga tidak pasti, dimana keberadaannya sekarang ini." ungkap Friska.
__ADS_1
"Aku juga berpikir seperti itu, dan telah mengutus beberapa orang untuk datang." jawab Qin.
"Siapa yang kamu utus Qin?" tanya Friska.
"Teman-teman aku, yang mengikuti kursus detektif. Aku juga mengutus para tentara, untuk menjemput kita. Namun beberapa Minggu lagi, baru mereka akan datang." jawab Qin.
"Qin, kehidupan di sini tidaklah mudah. Bila kita menunggu beberapa Minggu lagi, apa mungkin kita semua bisa bertahan." ujar Friska.
"Di dunia ini, manusia tidak bisa melawan takdir. Hakikatnya dia hanya menjalani, tanpa bisa menyerang ketentuan. Jadi menurutku, para mafia itu bisa berniat membunuh. Namun kita akan tetap hidup, tergantung pada takdir Tuhan." jelas Qin, panjang dan lebar.
"Benar-benar tawakal, salut aku." Friska membunyikan, jari jempol dan telunjuknya.
"Sekarang, lebih baik kita mandi." ajak Qin.
Tak berselang lama, keduanya sudah selesai mandi bergilir. Mereka melangkahkan kaki, menelusuri jalan pinggiran sungai. Sampai pada akhirnya, mata Qin dan Friska membulat. Tidak jauh dari tempat Sisil, Fernan, dan Tiger, ada kelompok mafia di balik pohon.
"Bagaimana cara memberitahu mereka." bisik Friska.
__ADS_1
"Aku tahu." jawab Qin.
Qin membuka resleting tasnya, lalu menulis pada kertas. Setelah itu, Qin meletakkan batu di tengahnya. Setelah digulung rapat, Qin melemparkannya ke arah Tiger.